Pola Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid di Fasilitas Pelayanan Kesehatan: Literature Review
DOI:
https://doi.org/10.63004/snsmed.v4i4.1070Kata Kunci:
antibiotik, demam tifoid, rasionalitas, resistensiAbstrak
Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Antibiotik merupakan terapi utama, namun penggunaan yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri. Menganalisis pola penggunaan antibiotik dan rasionalitas terapi pada pasien demam tifoid di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap artikel original research yang diperoleh dari Google Scholar dan PubMed. Kriteria inklusi meliputi artikel open access, full-text, terbit pada tahun 2021–2026, dan relevan dengan topik. Sebanyak 10 artikel dianalisis secara mendalam. Pola penggunaan antibiotik didominasi oleh sefalosporin generasi III, terutama ceftriaxone dan cefixime, yang memiliki efektivitas klinis yang tinggi. Namun, rasionalitas penggunaan masih bervariasi, terutama terkait durasi terapi dan pemilihan antibiotik. Selain itu, peningkatan kasus resistensi Salmonella typhi, termasuk multidrug-resistant (MDR) dan extensively drug-resistant (XDR), menjadi tantangan dalam terapi. Dari aspek farmakoekonomi, ceftriaxone lebih cost-effective dibandingkan antibiotik lain, meskipun beberapa di antaranya memiliki efektivitas klinis yang lebih tinggi. Pola penggunaan antibiotik pada demam tifoid cenderung seragam, namun rasionalitasnya belum optimal. Kepatuhan terhadap pedoman terapi dan evaluasi penggunaan antibiotik perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untuk mencegah resistensi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Desi Astri, Citra Yuliyanda Pardilawati, Femmy Andrifianie, Rasmi Zakiah Oktarlina

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

