Determinasi Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Hygiene terhadap Gejala Infeksi Kulit pada Masyarakat Pesisir Terdampak Pasang Rob: Studi Kasus di Desa Teluk Papal, Bengkalis

Authors

  • Linda Hariyani Universitas Hang Tuah Pekanbaru
  • Herniwanti Herniwanti Universitas Hang Tuah Pekanbaru
  • Yessi Harnani Universitas Hang Tuah Pekanbaru

DOI:

https://doi.org/10.63004/hrji.v4i5.1434

Keywords:

infeksi kulit, sanitasi lingkungan, higiene personal, air bersih, masyarakat pesisir

Abstract

Latar Belakang: Sanitasi lingkungan yang tidak memadai dan perilaku higiene yang kurang baik dapat meningkatkan risiko kejadian infeksi kulit pada masyarakat pesisir. Tujuan: Menganalisis hubungan antara sanitasi lingkungan dan perilaku higiene dengan kejadian infeksi kulit pada masyarakat pesisir Desa Teluk Papal, Kabupaten Bengkalis. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional pada 182 responden dari populasi 1.465 penduduk. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Sebanyak 65,9% responden mengalami infeksi kulit. Mayoritas responden memiliki sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat serta perilaku higiene yang kurang baik. Analisis bivariat menunjukkan bahwa seluruh variabel berhubungan secara signifikan dengan kejadian infeksi kulit (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa air bersih (p=0,001; POR=9,181), perilaku mandi (p=0,004; POR=6,789), dan riwayat penyakit (p=0,002; POR=3,926) berhubungan secara independen dengan kejadian infeksi kulit. Nilai Nagelkerke R² sebesar 50,6% menunjukkan kemampuan model dalam menjelaskan kejadian infeksi kulit. Kesimpulan: Air bersih, perilaku mandi, dan riwayat penyakit berhubungan secara signifikan dengan kejadian infeksi kulit. Air bersih merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian infeksi kulit.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Budge, S., Ambelu, A., Bartram, J., & Hutchings, P. (2022). Environmental sanitation and the evolution of water, sanitation and hygiene. Bulletin of the World Health Organization, 100(4), 286–288. https://doi.org/10.2471/BLT.21.287137

Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis. (2024). Laporan penyakit terbanyak Kabupaten Bengkalis.

Djuanda, D. (2019). Ilmu penyakit kulit dan kelamin (Edisi ke-7). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Fakhrunas, D. (2024). Hubungan personal hygiene dan sanitasi air bersih dengan gejala dermatitis di Desa Teluk Papal Kabupaten Bengkalis Tahun 2024.

Friis, R. H. (2019). Essentials of environmental health (3rd ed.). Jones & Bartlett Learning.

Harlim, A. (2017). Buku ajar ilmu kesehatan kulit dan kelamin dasar diagnosis dermatologi. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.

Hidayati, A. N., Damayanti, Sari, M., Alinda, M. D., Reza, N. R., & Anggraeni, S. W. Y. (2019). Dermatologi dan venerologi: Infeksi bakteri di kulit. Airlangga University Press.

Islam, F., Priastomo, Y., Mahawati, E., Budiastutik, I., Hairuddin, M. C., Akbar, F. F., Ningsih, W. I. F., Septiawati, R. A. D. S., Askur, & Purnomo, E. (2021). Dasar-dasar kesehatan lingkungan. Yayasan Kita Menulis.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil kesehatan Indonesia 2022. https://www.kemkes.go.id

Pakpahan, M., Siregar, D., Susilawaty, A., Tasnim, Mustar, Ramdany, R., Manurung, E. I., Sianturi, E., Tompunu, M. R., & Sitanggang, Y. F. (2021). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Yayasan Kita Menulis.

Pawitri, A., & Novianto, E. (2022). Infeksi jamur rekuren dan bakteri persisten pada dermatitis atopik dewasa: Sebuah laporan kasus. Jurnal Kedokteran Medika, 28(3), 299–305. https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2349

Prathyusha, P., Kumar, J. N., Naik, P. S., & Sowjanya, S. (2024). Association of recurrent skin infections with hygiene practices. European Journal of Cardiovascular Medicine, 14(3), 1414–1417. https://doi.org/10.5083/ejcm

Rahman, M. A., Raharjo, M., Nurjazuli, N., & Sulistiyani, S. (2025). Risk factors in water quality associated with skin disorders: A study in Daren Village, Jepara District. Universal Journal of Public Health, 13(4), 981–989. https://doi.org/10.13189/ujph.2025.130420

Sitoonga, S., & Putra, M. S. (2023). Hubungan kualitas air dan sanitasi lingkungan dengan keluhan penyakit kulit. Jurnal Promotif dan Preventif, 6(1), 110–116. https://doi.org/10.47650/jpp.v6i1.696

Ullah, B. N., & Vishrolia, C. (2023). Skin and soft tissue infections: Risk factors and presentations.

World Health Organization. (2022). Guidelines for drinking-water quality. https://www.who.int/publications/i/item/9789240045064

World Health Organization. (2023). Skin diseases disable, stigmatize and cause suffering and mental health conditions. https://www.who.int/news/item/31-03-2023-who-first-global-meeting-on-skin-ntds-calls-for-greater-efforts-to-address-their-burden

World Health Organization. (2024). Sanitation. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sanitation

Published

2026-06-23

How to Cite

Hariyani, L. ., Herniwanti, H., & Harnani, Y. . (2026). Determinasi Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Hygiene terhadap Gejala Infeksi Kulit pada Masyarakat Pesisir Terdampak Pasang Rob: Studi Kasus di Desa Teluk Papal, Bengkalis. Health Research Journal of Indonesia, 4(5), 1046–1054. https://doi.org/10.63004/hrji.v4i5.1434