Hubungan Asupan Energi dan Protein dengan Kejadian Stunting pada Balita (24-59 Bulan) di Desa Bekonang Sukoharjo

Authors

  • Viska Insani Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Firmansyah Universitas Muhammadiyah Surakarta

DOI:

https://doi.org/10.63004/hrji.v4i5.1157

Keywords:

Asupan Energi, Asupan Protein, Balita, Stunting

Abstract

Pendahuluan : Stunting merupakan kondisi balita yang memiliki tinggi badan lebih rendah
dibandingkan umur berdasarkan indikator TB/U. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan
stunting adalah asupan energi dan protein yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh balita. Tujuan :
mengetahui hubungan asupan energi dan protein dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan
di Desa Bekonang, Sukoharjo. Metode : Penelitian menggunakan desain observasional dengan
pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 92 balita yang diambil menggunakan teknik
proportional random sampling. Data asupan energi dan protein diperoleh melalui wawancara langsung
kepada ibu balita menggunakan formulir food recall 3×24 jam selama 3 hari tidak berurutan, sedangkan
data stunting diperoleh melalui pengukuran tinggi badan dan umur menggunakan indikator Z-score
TB/U menurut Permenkes 2020. Analisis data menggunakan uji Pearson Product Moment dan Rank
Spearman’s rho. Hasil : Sebagian besar balita memiliki status gizi normal (81,5%), sedangkan balita
stunting sebesar 18,5%. Sebanyak 92,4% balita memiliki asupan energi kurang dan 91,3% memiliki
asupan protein lebih. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan
energi (p=0,417) dan asupan protein (p=0,126) dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan.
Simpulan : Asupan energi dan protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian
stunting pada balita usia 24–59 bulan di Desa Bekonang, Sukoharjo.

Downloads

Download data is not yet available.

References

REFERENSI

Aba, M. (2025). Hubungan penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita umur 24–59 bulan. Journal of Midwifery, 13(1), 79–86.

Adani, F. Y., & Nindya, T. S. (2017). Perbedaan asupan energi, protein, zink, dan perkembangan pada balita stunting dan non stunting. Amerta Nutrition, 1(2), 46–51.

Alfioni, W., & Siahaan, G. (2021). Gambaran asupan energi dan protein dengan kejadian stunting pada anak baduta (bawah dua tahun). Jurnal Gizi, 1(1), 45–52.

Cahyani, A. R. D., & Firmansyah, F. (2025). Perbedaan asupan protein hewani pada balita stunting dan tidak stunting di wilayah kerja Puskesmas Sidorejo Kidul, Kota Salatiga. Ghidza: Jurnal Gizi Dan Kesehatan, 9(1), 159–167.

Damayanti. (2017). Ilmu gizi dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

Dewey, K. G., & Mayers, D. R. (2011). Early child growth: How do nutrition and infection interact. Maternal & Child Nutrition, 7, 129–142.

Dhilon, D. A., & Harahap, D. A. (2022). Gambaran pola asuh pada balita di wilayah kerja Puskesmas Laboy Jaya. Jurnal Ners, 6(1), 124–126.

Enardi, O. P., Devriany, A., Sari, E., & Virmando, E. (2022). Asupan energi, protein dan keragaman pangan tidak berhubungan dengan stunting di Simpang Teritip Bangka Barat. Pontianak Nutrition Journal (PNJ), 5(2), 251–255.

Fahmi, R., Atika, R. A., & Wahab, A. (2024). Karakteristik Pendapatan, Pendidikan, Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kejadian Stunting Di Puskesmas Meuraxa. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 11(4), 743–748.

Hardinsyah, H., & Supariasa, I. (2017). Ilmu gizi: teori & aplikasi. EGC.

Herna, S. (2021). Hubungan asupan pangan dan pengetahuan ibu tentang 1000 HPK dengan kejadian stunting pada balita di Desa Pulau Jambu wilayah kerja UPT BLUD Puskesmas Air Tiris (Skripsi). Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.

Irawan, A. (2025). Hubungan faktor sosial ekonomi dengan status gizi balita di Indonesia. Jurnal Kesehatan Komunitas, 3(1), 45–52.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Profil kesehatan Indonesia tahun 2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan: Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Jakarta: Kemenkes RI.

Lemeshow, S., Hosmer, D. W., Klar, J., & Lwanga, S. K. (1997). Besar sampel dalam penelitian kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Munthe, N. B. (2024). Kajian literatur: Pengaruh konsumsi air bersih terhadap stunting pada balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2), 120–126.

Nurmalasari, Y., Anggunan, A., & Febriany, T. W. (2020). Hubungan tingkat pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada anak usia 6-59 bulan. Jurnal Kebidanan, 6(2), 205–211.

Poetry, M. A., Nindya, T. S., & Buanasita, A. (2020). Perbedaan konsumsi energi dan zat gizi makro berdasarkan status gizi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Media Gizi Indonesia, 15(1), 52–59.

Prendergast, A. J., & Humphrey, J. H. (2014). The stunting syndrome in developing countries. Paediatrics and International Child Health, 34(4), 250–265.

Qodrina, H. A., & Sinuraya, R. K. (2021). Faktor langsung dan tidak langsung penyebab stunting di wilayah Asia: Sebuah review. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 12(4), 361–365.

Rahmawati, D. A., Zakiah, V., & Mutmaina, R. (2023). Hubungan pendidikan dan pekerjaan ibu dengan kejadian stunting pada balita 24–60 bulan di UPTD Puskesmas Landono. Jurnal Ners, 7(2), 1294–1297.

Rahmawati, D. (2020). Hubungan asupan energi dan protein dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas. Jurnal Gizi Dan Kesehatan, 12(2), 45–52.

Rahmi, U., Suyatno, & Kartini, A. (2021). Hubungan konsumsi makanan instan dengan status gizi balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2), 115–121.

Sholikhah, A., & Dewi, R. K. (2022). Peranan protein pada anak balita. JRST (Jurnal Riset Sains Dan Teknologi), 6(1), 95–101.

Soetjiningsih. (2015). Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC.

Verawati, B., Yanto, N., & Afrinis, N. (2021). Hubungan asupan protein dan kerawanan pangan dengan kejadian stunting pada balita di masa pandemi COVID-19. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1), 415–423.

Wardi, N. K., Fikawati, S., & Hayati, R. (2023). Faktor dominan yang mempengaruhi asupan energi anak usia 25–30 bulan di Jakarta Pusat tahun 2019. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 6(9), 1808–1817.

Wulandari, Y., & Ismiyati. (2024). Stunting dan infeksi pada balita di Provinsi Banten. Journal of Midwifery and Health Research, 2(2), 46–49.

Yuwanti, Y., Himawati, L., & Susanti, M. M. (2022). Pencegahan stunting pada 1000 HPK. Jurnal ABDIMAS-HIP: Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 35–39.

Published

2026-06-04

How to Cite

Insani, V., & Firmansyah. (2026). Hubungan Asupan Energi dan Protein dengan Kejadian Stunting pada Balita (24-59 Bulan) di Desa Bekonang Sukoharjo. Health Research Journal of Indonesia, 4(5), 684–692. https://doi.org/10.63004/hrji.v4i5.1157