Sains Medisina
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina
<p><strong>SAINS MEDISINA<br />Ketua Editor: </strong>apt. Rina Saputri, M.Farm<br /><strong>ISSN </strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20221112041071038" target="_blank" rel="noopener">2964-1853</a> (online)<br /><strong>Terbit</strong> setiap bulan Februari, April, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember</p> <p><strong>Sains Medisina</strong> merupakan media publikasi penelitian orisinil dan <em>review article</em> di bidang ilmu farmasi, biomedik, dan ilmu kesehatan. </p>CV. Wadah Publikasi Cendekiaid-IDSains Medisina2964-1853Komponen Biaya yang Mempengaruhi Total Cost of Illness pada Pasien Hipertensi Rawat Inap: Narrative Review
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/902
<p>Hipertensi adalah penyakit kronis yang terjadi ketika tekanan pada pembuluh darah menjadi terlalu tinggi, yaitu tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 90 mmHg. Menurut WHO, prevalensi hipertensi di dunia diperkirakan mencapai 33,1% dan 32,4% di kawasan Asia Tenggara. Penyakit dengan prevalensi yang tinggi ini menimbulkan beban ekonomi yang signifikan, terutama pada pasien rawat inap. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi komponen biaya yang mempengaruhi total <em>Cost of Illness</em>(COI) melalui tinjauan literatur yang diperoleh dari beberapa sumber database dan dipilih delapan artikel yang relevan. Artikel relevan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya medis langsung, seperti biaya obat-obatan dan prosedur medis non-bedah merupakan komponen terbesar yang berkontribusi dalam total COI di mana semakin lama waktu perawatan maka biaya yang dikeluarkan akan semakin bertambah. Selain itu, biaya langsung non-medis seperti transportasi dan akomodasi, serta biaya tidak langsung seperti hilangnya pendapatan bagi pasien dan pendamping, juga berkontribusi besar terhadap akumulasi biaya beban penyakit. Untuk mengurangi biaya tersebut, diperlukan strategi pengendalian melalui pendekatan secara promotif, preventif, kuratif, dan juga rehabilitatif yang berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi dan mempercepat pemulihan. Pemahaman terhadap struktur biaya ini penting bagi pembuat kebijakan dalam menyusun strategi pembiayaan kesehatan yang efisien.</p>Dewi SabrinaOktafanyMuhammad IqbalNurma Suri
Hak Cipta (c) 2026 Dewi Sabrina, Oktafany, Muhammad Iqbal, Nurma Suri
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-062026-02-064321822410.63004/snsmed.v4i3.902Integrasi Prinsip Green Pharmacy dalam Praktik Pembuangan dan Pengelolaan Sisa Obat: Sebuah Kajian Literatur
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/906
<p>Peningkatan konsumsi obat secara global menyebabkan meningkatnya volume sisa obat rumah tangga yang sering dibuang secara tidak tepat, sehingga memicu pencemaran lingkungan dan risiko resistensi antimikroba. Prinsip <em>Green Pharmacy </em>ditujukan untuk meminimalkan dampak tersebut melalui pendekatan keberlanjutan dalam penggunaan dan pembuangan obat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip <em>Green Pharmacy</em> dalam pengelolaan sisa obat dan mengidentifikasi tantangan yang muncul pada berbagai konteks. Studi Kajian literatur ini dilakukan melalui penelusuran daring menggunakan database seperti PubMed, Sciencedirect dan Google Scholar, dengan kata kunci yang telah ditentukan. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris atau Indonesia, <em>full-text,</em> dipublikasikan tahun 2020–2025, dan relevan dengan praktik pembuangan obat yang berkelanjutan. Sebanyak 8 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara dengan sistem kesehatan maju telah menerapkan langkah-langkah komprehensif, seperti program <em>take-back</em> nasional, edukasi pasien, pengurangan obat berlebih melalui peninjauan resep, serta peningkatan transparansi dampak lingkungan obat. Sementara itu, negara lain masih menghadapi hambatan berupa rendahnya literasi masyarakat, kurangnya pedoman operasional, keterbatasan infrastruktur, serta peran apotek yang belum optimal sebagai pusat pengumpulan obat. Sebagian besar masyarakat di berbagai negara masih membuang obat ke sampah domestik, berkontribusi pada pencemaran air dan tanah. Dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa penerapan prinsip <em>Green Pharmacy</em> telah dilakukan di berbagai negara dengan tingkat implementasi yang bervariasi. Variasi tersebut dipengaruhi oleh dukungan regulasi, ketersediaan infrastruktur, peran apotek, serta tingkat literasi masyarakat. Oleh karena itu, integrasi prinsip <em>Green Pharmacy </em>memerlukan penguatan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan peningkatan edukasi publik guna mendukung pengelolaan sisa obat yang aman dan berkelanjutan.</p>Dela RizkianaErvina DamayantiDwi Aulia RamdiniMuhammad Fitra Wardhana Sayoeti
Hak Cipta (c) 2026 Dela Rizkiana, Ervina Damayanti, Dwi Aulia Ramdini, Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-062026-02-064322523110.63004/snsmed.v4i3.906Pengaruh Intervensi Diet Rendah Garam Dan Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Lansia Di UPT Puskesmas Pulau Kupang
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/920
<p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada populasi lansia yang memerlukan pendekatan pengelolaan komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intervensi diet rendah garam dan pemberian jus mentimun terhadap perubahan tekanan darah lansia penderita hipertensi. Metode penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest yang melibatkan 14 responden lansia berusia 60 tahun ke atas di wilayah kerja UPT Puskesmas Pulau Kupang. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima jus mentimun 200 ml dua kali sehari dan kelompok yang menjalani diet rendah garam dengan asupan natrium maksimal 2.000 mg per hari, kedua intervensi dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bermakna pada kedua kelompok intervensi dengan nilai p kurang dari 0,001. Kelompok jus mentimun mengalami penurunan rerata tekanan darah dari 179,57 mmHg menjadi 159,29 mmHg, sedangkan kelompok diet rendah garam turun dari 188,00 mmHg menjadi 145,00 mmHg. Perbandingan antarkelompok menunjukkan diet rendah garam lebih efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan jus mentimun dengan nilai p sebesar 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diet rendah garam dan jus mentimun terbukti efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan tekanan darah lansia, dengan diet rendah garam menunjukkan efektivitas lebih optimal.</p>Heppi OktaviaErmina SyainahNurhamidiSajiman
Hak Cipta (c) 2026 Heppi Oktavia, Ermina Syainah, Nurhamidi, Sajiman
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-062026-02-064323223910.63004/snsmed.v4i3.920Literature Review: Potensi Aktivitas Farmakologi Senyawa Resveratrol
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/922
<p>Resveratrol merupakan senyawa polifenol golongan stilbenoid yang banyak ditemukan pada bahan alam dan telah dilaporkan memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Senyawa ini menarik perhatian karena potensi bioaktivitasnya yang luas serta risiko toksisitas yang relatif rendah, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai senyawa bioaktif berbasis bahan alam dan pendukung terapi. Tujuan dari kajian literatur ini adalah untuk menganalisis potensi aktivitas farmakologis resveratrol berdasarkan hasil penelitian praklinik yang telah dilaporkan. Metode yang digunakan adalah <em>literature review</em> dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap artikel nasional dan internasional yang diperoleh dari basis data ilmiah daring seperti <em>PubMed</em>, MDPI, <em>ScienceDirect, Google Scholar</em>, Sinta, dan Garuda. Hasil kajian menunjukkan bahwa resveratrol memiliki aktivitas farmakologis yang beragam, meliputi efek antidiabetes preventif, antioksidan, antiaritmia, antikanker, antiinflamasi, analgesik, dan antiplasmodium. Mekanisme kerja resveratrol terutama berkaitan dengan penghambatan stres oksidatif, modulasi jalur inflamasi, induksi apoptosis sel patologis, serta perlindungan fungsi sel dan jaringan, khususnya pada sistem kardiovaskular dan metabolik. Simpulan dari kajian ini menegaskan bahwa resveratrol memiliki potensi besar sebagai agen preventif dan pendukung terapi berbagai penyakit degeneratif dan infeksi. Namun demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan bioavailabilitas serta mengonfirmasi efektivitas dan keamanannya melalui uji klinis.</p>Anugrah FashaRamadhan TriyandiFemmy AndrifianieMuhammad Iqbal
Hak Cipta (c) 2026 Anugrah Fasha, Ramadhan Triyandi, Femmy Andrifianie, Muhammad Iqbal
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-062026-02-064324024410.63004/snsmed.v4i3.922Determinan Kejadian Tengkes Pada Balita Suku Dayak Pegunungan Meratus Di Desa Batuah Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/923
<p>Tengkes/Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih banyak ditemukan pada masyarakat adat yang tinggal di wilayah terpencil. Balita Suku Dayak Pegunungan Meratus merupakan kelompok rentan terhadap tengkes akibat keterbatasan akses pangan, layanan kesehatan, serta pola asuh yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Determinan Kejadian Tengkes pada Balita Suku Dayak Pegunungan Meratus di Desa Batuah Kecamatan Pamukan Barat Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 36 balita usia 0–59 bulan yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Variabel independen meliputi riwayat infeksi, asupan energi dan protein, pola asuh, serta akses layanan kesehatan. Variabel dependen adalah kejadian tengkes berdasarkan indikator TB/U menurut standar WHO. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat infeksi (p < 0,001), asupan energi (p < 0,001), asupan protein (p < 0,001), dan pola asuh (p < 0,001) dengan kejadian tengkes. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara akses layanan kesehatan dengan kejadian tengkes (p = 1,000). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor asupan gizi, riwayat infeksi, dan pola asuh memiliki peran penting terhadap kejadian tengkes pada balita di komunitas Dayak Pegunungan Meratus.</p>MaulanyApriantiMeilla Dwi Andrestian
Hak Cipta (c) 2026 Maulany, Aprianti, Meilla Dwi Andrestian
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-062026-02-064324525010.63004/snsmed.v4i3.923Hubungan Impresi Cita Rasa Makanan dan Motivasi Makan terhadap Sisa Makanan pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD Ratu Zalecha Martapura
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/925
<p>Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan berisiko menimbulkan komplikasi. Menurut profil kesehatan Kabupaten Banjar, kasus diabetes melitus di Kabupaten Banjar selama 3 tahun terakhir menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak tidak menular di Kabupaten Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impresi cita rasa makanan dan motivasi makan terhadap sisa makanan pada pasien Diabetes Mellitus di RSUD Ratu Zalecha Martapura. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional, menggunakan populasi seluruh pasien DM dengan sampel 39 orang, dipilih secara purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 – November 2025. Data karakteristik responden, impresi makanan, motivasi makan, dan sisa makanan dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan virtual comstock selama 2 hari. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sisa makanan rendah (56,4%), impresi cita rasa makanan puas (56,4%), dan motivasi makan baik (92,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara impresi cita rasa makanan dengan sisa makanan (p = 0,001 < α). Terdapat juga hubungan yang signifikan antara motivasi makan dengan sisa makanan (p = 0,04 < α). Impresi cita rasa makanan dan motivasi makan berhubungan dengan sisa makanan, sehingga diharapkan responden dapat meningkatkan kepuasan terhadap cita rasa makanan dan motivasi makan untuk mengurangi sisa makanan yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengendalian kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus.</p>Windi Anggi Tiara PutriMagdalenaZulfiana DewiRusmini Yanti
Hak Cipta (c) 2026 Windi Anggi Tiara Putri, Magdalena, Zulfiana Dewi, Rusmini Yanti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-072026-02-074325125510.63004/snsmed.v4i3.925Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Pola Konsumsi Sayuran Dengan Kejadian Anemia Remaja Putri Kelas 7 Dan Kelas 10 Di Puskesmas Tabukan
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/926
<p>Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan pada remaja putri. Data UPTD Puskesmas Tabukan Tahun 2025 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri kelas 7 dan kelas 10 mencapai 55,17%, sehingga diperlukan kajian terhadap faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia pada remaja putri di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabukan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 144 remaja putri, dan sebanyak 116 sampel dipilih melalui simple random sampling. Data pengetahuan gizi dikumpulkan menggunakan kuesioner, pola konsumsi sayuran menggunakan SQ-FFQ, serta kadar hemoglobin diukur dengan Hb meter. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 13–15 tahun (55,2%), memiliki pengetahuan gizi kategori kurang (42,2%), dan pola konsumsi sayuran yang juga kurang (59,5%). Prevalensi anemia cukup tinggi, yaitu 55,2%. Analisis bivariat dengan uji Chi-Square (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian anemia (p=0,001), serta hubungan signifikan antara pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia (p=0,003). Diperlukan edukasi gizi dan promosi konsumsi sayuran secara berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri.</p>JumiatiSajimanNiken PratiwiErmina Syainah
Hak Cipta (c) 2026 Jumiati, Sajiman, Niken Pratiwi, Ermina Syainah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-052026-02-054325626310.63004/snsmed.v4i3.926Hubungan Pola Konsumsi Lemak, Natrium, Serat, Dan Tingkat Stress Pada Penderita Hipertensi Usia Produktif Studi Di UPT Puskesmas Anjir Muara
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/928
<p>Hipertensi pada usia produktif merupakan masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor perilaku dan psikologis. Data masalah yang ada di UPT Puskesmas Anjir Muara terjadi peningkatan kasus dari 714 menjadi 1502 kasus tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola konsumsi lemak, natrium, serat, serta tingkat stres pada penderita hipertensi usia produktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Anjir Muara. Desain penelitian menggunakan analitik observasional dengan rancangan case control dengan metode wawancara menggunakan kuesioner pada responden kasus dan kontro, dengan uji chi square.Responden memiliki pola konsumsi lemak dan natrium yang sering, masing-masing sebesar 60,8% dan 57,0%. Konsumsi serat juga relatif sering 52,7%. Tingkat stres sebagian besar berada pada kategori sedang yaitu 92,5%, sedangkan stres tinggi sebesar 7,5%. Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara konsumsi lemak (p=0,024; OR=0,505) dan tingkat stres dengan hipertensi (p=0,001; OR=14,950). Sementara konsumsi natrium (p=0,300; OR=1,422) dan serat (p=0,078; OR=0,594) tidak menunjukkan hubungan signififikan. Berdasarkan hasil penelitian ini menegaskan bahwa konsumsi lemak tinggi dan stres merupakan faktor dominan dalam peningkatan risiko hipertensi, sehingga pengendalian pola makan dan manajemen stres direkomendasikan sebagai strategi pencegahan. Disarankan kepada masyarakat untuk mengurangi konsumsi lemak, mengelola stres dengan baik, serta meningkatkan konsumsi serat. Pihak puskesmas diharapkan dapat memberikan edukasi rutin mengenai gizi seimbang dan deteksi dini hipertensi.</p>MilawatiSajimanYasir FarhatMeilla Dwi Andrestian
Hak Cipta (c) 2026 Milawati, Sajiman, Yasir Farhat, Meilla Dwi Andrestian
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-052026-02-054326427210.63004/snsmed.v4i3.928Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tanaman Averrhoa spp. (Belimbing): Literature Review
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/932
<p>Tanaman dari genus Averrhoa (belimbing) dikenal dalam pengobatan tradisional karena kandungan fitokimianya. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengonsolidasikan temuan ilmiah terkait aktivitas antibakteri ekstrak berbagai bagian tanaman Averrhoa spp. terhadap bakteri patogen. Metode yang digunakan adalah penelaahan sistematis terhadap tujuh artikel penelitian eksperimental. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri sangat bervariasi, bergantung pada spesies, bagian tanaman, dan bakteri target. Ekstrak daun Averrhoa bilimbi (belimbing wuluh) menunjukkan aktivitas tertinggi, dengan diameter zona hambat mencapai 17,07 mm terhadap Propionibacterium acnes dan bersifat dose-dependent. Kombinasi ekstrak daun A. bilimbi dan A. carambola (belimbing manis) menunjukkan efek sinergis terhadap Staphylococcus aureus. Namun, ekstrak buah A. carambola tidak menunjukkan aktivitas terhadap Streptococcus pneumoniae. Secara umum, ekstrak Averrhoa spp. lebih aktif terhadap bakteri Gram-positif. Disimpulkan bahwa daun A. bilimbi memiliki potensi antibakteri yang paling menjanjikan, sementara efektivitasnya dipengaruhi oleh konsentrasi dan metode formulasi. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk isolasi senyawa aktif murni, uji toksisitas, dan pengembangan formulasi yang stabil.</p>Nafisa Arifa FirdausRamadhan TriyandhiIhsanti Dwi RahayuMuhammad Iqbal
Hak Cipta (c) 2026 Nafisa Arifa Firdaus, Ramadhan Triyandhi, Ihsanti Dwi Rahayu, Muhammad Iqbal
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-032026-02-034327327710.63004/snsmed.v4i3.932Literature review: Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Penggunaan Obat Off-label Misoprostol dengan Oksitosin Sebagai Induksi Persalinan
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/933
<p>Perubahan fisiologis selama kehamilan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, sehingga penggunaan obat pada ibu hamil memerlukan kehati-hatian. Misoprostol, analog prostaglandin E1 dengan indikasi resmi yang diperbolehkan oleh FDA untuk terapi tukak lambung akibat pemakaian obat antiinflamasi non-steroid (AINS), sering diresepkan secara <em>off-label</em> sebagai agen induksi persalinan, sementara oksitosin merupakan agen resmi untuk induksi persalinan. Artikel ini bertujuan meninjau efektivitas dan keamanan misoprostol dibandingkan oksitosin dalam induksi persalinan. Kajian ini merupakan <em>literature review</em>, penelusuran artikel melalui <em>PubMed</em>, <em>Google Scholar</em>, dan <em>ResearchGate</em>. Kriteria inklusi meliputi artikel yang menggunakan misoprostol atau oksitosin sebagai objek, tujuan penggunaan misoprostol dan oksitosin untuk induksi persalinan, desain studi eksperimental, berbahasa Inggris atau Indonesia, dan diterbitkan pada tahun 2015-2025. Kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak dapat diakses secara lengkap. Hasil kajian menunjukkan bahwa misoprostol memiliki efektivitas yang sebanding hingga lebih baik dibandingkan oksitosin, terutama dalam mempercepat waktu persalinan (<em>p<</em>0,05), meningkatkan keberhasilan induksi, dan meningkatkan kepuasan ibu (<em>p</em><0,001). Angka persalinan <em>pervaginam</em> dan <em>seksio sesarea</em> bervariasi antarstudi. Berdasarkan aspek keamanan, misoprostol lebih sering dikaitkan dengan demam dan mual, sedangkan oksitosin memiliki risiko lebih tinggi terhadap takisistol (<em>p=</em>0.002) dan hiperstimulasi uterus (<em>p=</em>0.003). Luaran neonatal umumnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Kesimpulannya misoprostol memberikan efektivitas dan keamanan yang sebanding hingga lebih baik dari pada oksitosin dalam menginduksi persalinan serta mempercepat proses persalinan.</p>Raisati Hikmah FalihaNurma SuriFemmy Andrifianie
Hak Cipta (c) 2026 Raisati Hikmah Faliha, Nurma Suri, Femmy Andrianie
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-072026-02-074327828810.63004/snsmed.v4i3.933Hubungan MPASI dan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Balita Wasting Usia 6-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Timur
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/938
<p>Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada balita yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada usia 6–23 bulan. Praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai serta ketidaklengkapan imunisasi dasar diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya wasting pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktik pemberian MP-ASI dan kelengkapan imunisasi dasar dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Sampel sebanyak 78 balita terdiri dari 39 balita wasting (kasus) dan 39 balita dengan status gizi normal (kontrol) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara menggunakan kuesioner terkait praktik MP-ASI, serta penelusuran buku KIA dan rekam medis untuk status imunisasi dasar. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita wasting menerima MP-ASI yang tidak sesuai (79,5%) dan memiliki status imunisasi dasar tidak lengkap (71,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara praktik pemberian MP-ASI dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 2,1), serta antara kelengkapan imunisasi dasar dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 1,9). Praktik pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dan ketidaklengkapan imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan.</p>Amelia RahmahApriantiMahpolahErmina Syainah
Hak Cipta (c) 2026 Amelia Rahmah, Aprianti, Mahpolah, Ermina Syainah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-072026-02-074328929610.63004/snsmed.v4i3.938Pengaruh Variasi Konsentrasi Terhadap Karakteristik Fisik dan Tingkat Kesukaan Masker Gel Peel Off Ekstrak Buah Labu Kuning
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/865
<p>Penggunaan masker <em>gel peel off</em> yang mengandung senyawa flavonoid dalam ekstrak buah labu kuning dapat menangkal radikal bebas sebagai antioksidan sehingga membuat kulit menjadi lebih lembab dan tidak kusam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak buah labu kuning 1%, 3% dan 5% pada sediaan masker <em>gel peel off</em> terhadap karakteristik fisik dan mengukur tingkat uji hedonik terhadap masker <em>gel peel off</em> ekstrak etanol buah labu kuning <em>(Cucurbita moschata durch). </em>Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian karakteristik fisik meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas dan waktu mengering serta uji tingkat kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan sediaan masker <em>gel peel off</em> meliputi uji organoleptis menunjukkan bahwa F0 berwarna putih, tidak berbau dan tekstur kental. F1 berwarna kuning, khas jeruk dan tekstur kental. F2 berwarna kuning cerah, khas jeruk dan tekstur kental dan F3 berwarna kuning pekat, khas jeruk dan tekstur kental sedikit encer. Uji homogenitas menunjukkan bahwa F0, F1, F2 dan F3 homogen. Uji pH dan waktu mengering telah memenuhi syarat. Uji viskositas pada F0, F1 dan F2 telah memenuhi syarat, sedangkan pada F3 tidak memenuhi syarat. Uji hedonik menunjukkan bahwa sediaan yang paling disukai adalah F2.</p>Diah Indah Kumala SariSafira Yulita Fazadini
Hak Cipta (c) 2026 Diah Indah Kumala Sari, Safira Yulita Fazadini
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-022026-02-024329730310.63004/snsmed.v4i3.865Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit X Kabupaten Kediri Tahun 2023-2024
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/957
<p>Penyakit tuberkulosis (TB) adalah infeksi menular yang terutama mempengaruhi organ paru-paru dan disebabkan oleh bakteri <em>Mycrobacterium tuberculosis </em>yang ditularkan melaui perantara ludah atau dahak pada saat batuk. Keberhasilan terapi TB tidak hanya bergantung pada ketepatan pemberian obat, tetapi juga pada kepatuhan pasien selama terapi dan rasionalitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui rasionalitas pengobatan pasien TB dengan terapi obat antituberkulosis (OAT) di Rumah Sakit X Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional dengan deskriptif <em>retrospektif </em>berdasarkan rekam medis pasien rawat inap TB. Teknik pengambilan sampel secara <em>total sampling </em>sehingga diperoleh sebanyak 81 pasien. Hasil dianalisa secara deskriptif univariat yang disajikan secara distribusi frekuensi serta persentase. Hasil penelitian menunjukkan rasionalitas penggunaan OAT pada pasien TB diperoleh hasil yaitu tepat indikasi 81 pasien (100%), tepat pasien 81 pasien (100%), tepat pemilihan obat 81 pasien (100%), tepat dosis 81 pasien (100%), tepat cara pemberian 81 pasien (100%), dan tepat interval waktu 81 pasien (100%). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan OAT di Rumah Sakit X Kabupaten Kediri telah dilaksanakan secara rasional dan sesuai pedoman pengobatan TB.</p>Syarofina DianitaArifani SiswidiasariTridoso Sapto Agus P
Hak Cipta (c) 2026 Syarofina Dianita, Arifani Siswidiasari, Tridoso Sapto Agus P
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-022026-02-024330430910.63004/snsmed.v4i3.957Hubungan Standar Pelayanan Minimal Gizi dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap di RSUD H. Abdul Aziz Marabahan
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/968
<p>Kepuasan pasien menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pelayanan rumah sakit, termasuk pelayanan gizi. Pelayanan gizi rawat inap di rumah sakit wajib memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) gizi, seperti ketepatan pemberian diet dan ketepatan waktu pemberian makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketepatan pemberian diet dan ketepatan waktu pemberian makanan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di RSUD H. Abdul Aziz Marabahan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian adalah 62 pasien rawat inap di ruang Penyakit Dalam yang memenuhi kriteria inklusi (total sampling). Variabel dependen adalah tingkat kepuasan pasien, sedangkan variabel independen adalah ketepatan pemberian diet dan ketepatan waktu pemberian makanan. Analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan pasien sebesar 87,1%, ketepatan pemberian diet sebesar 88,7%, dan ketepatan waktu pemberian makanan sebesar 83,9%. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara ketepatan pemberian diet dengan kepuasan pasien (p = 0,001; r = 0,40) serta terdapat hubungan antara ketepatan waktu pemberian makanan dengan kepuasan pasien (p = 0,001; r = 0,59). Disarankan rumah sakit memperkuat alur pelayanan gizi dan koordinasi antarprofesi untuk meningkatkan ketepatan diet dan ketepatan waktu pemberian makanan, sehingga kepuasan pasien dapat dipertahankan dan ditingkatkan.</p>Nur AsiahRusmini YantiNiken Widyastuti HariatiRijanti Abdurrachim
Hak Cipta (c) 2026 Nur Asiah, Rusmini Yanti, Niken Widyastuti Hariati, Rijanti Abdurrachim
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-072026-02-074331031510.63004/snsmed.v4i3.968Gambaran Biaya Non Medis Langsung Dan Biaya Tidak Langsung Pada Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Kupang Kota
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/964
<p>Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium</em> <em>tuberculosis</em>. Pengobatan TB paru di lakukan selama 6 Bulan menggunakan terapi OAT yang dibagi dalam 2 fase, yaitu fase awal dan fase lanjutan. Durasi pengobatan tuberkulosis yang cukup lama mempengaruhi beban ekonomi. Biaya non medis langsung adalah biaya untuk pasien dan keluarga yang berkaitan langsung dengan perawatan tetapi tidak berkaitan langsung dengan pengobatan sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya hilangnya produktivitas akibat suatu penyakit atau karena kematian. Dalam bidang farmasi, farmakoekonomi menggambarkan dan menganalisis biaya pengobatan bagi masyarakat atau sistem layanan kesehatan. Mengatasi biaya langsung dan tidak langsung akibat TB sangat penting untuk mengatasi hambatan akses, kepatuhan pengobatan, dan meminimalkan beban ekonomi pasien TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata biaya non medis langsung dan biaya tidak langsung yang di keluarkan oleh pasien selama menjalani pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan rancangan penelitian<em> cross sectional study </em>dan pengambilan data secara retrospektif. Sampel yang diperoleh sebanyak 12 pasien yang sedang menjalani pengobatan pada periode 2024-2025. Beban ekonomi yang harus di tanggung oleh pasien untuk biaya non-medis langsung mencakup beberapa komponen, yaitu biaya transportasi sebesar Rp 2.572.000, biaya konsumsi sebesar Rp 320.000, dan biaya lain-lain sebesar Rp 413.500. Selain itu, terdapat juga biaya tidak langsung berupa kerugian akibat hilangnya produktivitas selama masa pengobatan, yang mencapai Rp 68.600.000. Dari seluruh komponen tersebut, kerugian terbesar berasal dari hilangnya upah produktif, yakni Rp 68.600.000, sedangkan pengeluaran terkecil adalah untuk konsumsi sebesar Rp 320.000.</p>Christiani M. Odi SinuorMaria Ifoni Melani Nani
Hak Cipta (c) 2026 Christiani M. Odi Sinuor, Maria Ifoni Melani Nani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-072026-02-074331632210.63004/snsmed.v4i3.964Gambaran Tingkat Pengetahuan Anak Tentang Perilaku Bullying di SD Negeri 11 Pedungan
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/990
<p>Bullying merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sekolah dasar dan dapat memberikan dampak yang serius terhadap kesehatan fisik, kondisi psikologis, serta perkembangan sosial anak. Perilaku bullying yang tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan gangguan emosional, menurunnya prestasi belajar, serta terganggunya hubungan sosial antar siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan anak tentang perilaku bullying di SD Negeri 11 Pedungan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV, V, dan VI di SD Negeri 11 Pedungan dengan jumlah sampel sebanyak 75 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang disusun untuk menilai tingkat pengetahuan siswa mengenai bullying, meliputi pengertian bullying, jenis-jenis bullying, dampak yang ditimbulkan, serta upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian berdasarkan 75 siswa di SD Negeri 11 Pedungan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan anak tentang perilaku bullying berada pada kategori cukup sebanyak 36 siswa (48,0%), kategori baik sebanyak 27 siswa (36,0%), dan kategori kurang sebanyak 12 siswa (16,0%). Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa telah memiliki pemahaman dasar mengenai bullying, namun pengetahuan tersebut belum sepenuhnya optimal. Pengetahuan pada kategori cukup menunjukkan bahwa siswa telah mengenal pengertian dan bentuk-bentuk bullying, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam memahami dampak jangka panjang serta upaya pencegahan perilaku bullying secara menyeluruh.</p>Ida Bagus Tri Sutrisna ManuabaNi Komang Ayu ResiyanthiHendro Wahyudi
Hak Cipta (c) 2026 Ida Bagus Tri Sutrisna Manuaba, Ni Komang Ayu Resiyanthi, Hendro Wahyudi
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-122026-02-124332332710.63004/snsmed.v4i3.990Gambaran Tingkat Pengetahuan Anak Usia Sekolah Dasar tentang Diare di SD Negeri 4 Sidan
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/sainsmedisina/article/view/991
<p>Diare merupakan masalah kesehatan utama pada anak usia sekolah dasar akibat daya tahan tubuh yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat pengetahuan anak tentang diare di SD Negeri 4 Sidan. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel terdiri dari 62 siswa kelas III-VI yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner berisi 20 pertanyaan yang mencakup definisi, penyebab, gejala, dan pencegahan diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup (45,2%), diikuti kategori rendah (38,7%), dan baik (16,1%). Hasil crosstabulation menunjukkan bahwa pengetahuan yang lebih baik cenderung ditemukan pada anak dengan usia lebih muda dan kelas bawah, sedangkan pengetahuan rendah lebih banyak ditemukan pada anak usia lebih muda. Berdasarkan jenis kelamin, tidak ditemukan perbedaan yang mencolok antara siswa laki-laki dan perempuan terhadap tingkat pengetahuan diare. Analisis menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan siswa dipengaruhi oleh keterbatasan akses informasi kesehatan, kebilsaan personal <em>hygiene</em> yang belum optimal, serta lingkungan sekolah dan rumah yang kurang mendukung penerapan perilaku hidup bersih. Kurangnya paparan media edukatif dan minimnya program kesehatan terstruktur juga turut berkontribusi pada rendahnya pemahaman terkait diare. Program edukasi di sekolah perlu menitikberatkan pada praktik cuci tangan yang benar, penggunaan air bersih, serta pencegahan penularan penyakit. Upaya promotif dan preventif ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa dan berkontribusi pada penurunan angka kejadian diare di lingkungan sekolah.</p>Dewa Ayu Cut Wulan SariyantiI Nyoman AsdiwinataNi Komang Ayu Resiyanthi
Hak Cipta (c) 2026 Dewa Ayu Cut Wulan Sariyanti, I Nyoman Asdiwinata, Ni Komang Ayu Resiyanthi
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-122026-02-124332833210.63004/snsmed.v4i3.991