Jurnal Farmasi SYIFA
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS
<p><strong>Title : </strong>Jurnal Farmasi SYIFA<strong><br />Editor in Chief : </strong>apt. Ali Rakhman Hakim, M.Farm<strong><br /></strong><strong>ISSN </strong><a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20230514351414029" target="_blank" rel="noopener">2987-4122</a> (online)<br /><strong>DOI Jurnal : </strong><a href="https://doi.org/10.63004/jfs">10.63004/jfs</a><br /><strong>Frekuensi terbit :</strong> Terbit 2 kali setahun pada bulan Februari dan Agustus</p> <p>Jurnal Farmasi SYIFA menerbitkan artikel hasil penelitian di bidang ilmu Farmasi mencakup farmasi klinis, farmasi komunitas, kimia obat, farmakologi, farmakognosi, fitokimia, farmakokinetik, farmakodinamik, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, mikrobiologi farmasi, dan bioteknologi farmasi.</p>CV. Wadah Publikasi Cendekiaid-IDJurnal Farmasi SYIFA2987-4122Analisis Komparatif Aspek Manajemen Mutu dalam Penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik antara Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2020 dan Nomor 20 Tahun 2025
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/959
<p><span style="font-weight: 400;">Distribusi obat merupakan bagian penting dalam rantai pasok farmasi untuk menjamin mutu, keamanan, dan khasiat obat. Penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) di Indonesia diatur melalui Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif aspek manajemen mutu dalam penerapan CDOB berdasarkan PerBPOM Nomor 6 Tahun 2020 dan PerBPOM Nomor 20 Tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan adanya penguatan sistem manajemen mutu pada regulasi terbaru melalui perluasan cakupan, penguatan peran manajemen puncak, dan penegasan tata kelola organisasi.</span></p>AngelyAulia Eka RahmawatiHerman Widjaja
Hak Cipta (c) 2026 Angely, Aulia Eka Rahmawati, Herman Widjaja
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-112026-02-11411510.63004/jfs.v4i1.959Uji Aktivitas Penghambatan Enzim α-Glukosidase pada Ekstrak dan Fraksi Akar Wanga (Pigafetta elata) Secara In-vitro
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/908
<p>Suatu penyakit yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi kadar normal akibat gangguan metabolisme karbohidrat menjadi glukosa disebut diabetes melitus. Pada sistem pencernaan enzim α-glukosidase mengubah karbohidrat menjadi glukosa, penghambatan enzim α-glukosidase untuk mengendalikan kadar gula darah. Penghambatan enzim α-glukosidase akan memberikan dampak penundaan penyerapan glukosa. Wanga merupakan tumbuhan endemik Sulawesi dan banyak tersebar di Kabupaten Toraja. Potensi tumbuhan wanga belum maksimal pemanfaatannya, kajian ilmiah mengenai tumbuhan ini khususnya untuk obat masih sangat sedikit. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dari ekstrak dan fraksi akar tumbuhan wanga yang dilakukan secara <em>in-vitro. </em>Hasil penelitian menunjukkan penghambatan enzim α-glukosidase dengan nilai IC<sub>50</sub> pada ekstrak etanol sebesar 56.451 µg/mL, fraksi n-heksan sebesar 155.86 µg/mL, fraksi etil asetat sebesar 42.676 µg/mL, dan fraksi air sebesar 288.83 µg/mL. Sedangkan untuk kontrol positif menggunakan akarbose diperoleh nilai IC<sub>50</sub> sebesar 9.536 µg/mL. Dari data tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan ekstrak etanol akar tumbuhan wanga memiliki aktivitas penghambatan yang lebih tinggi dengan kategori aktif dibandingkan fraksi lainnya. Namun kategori fraksi etil asetat dan ekstrak etanol masih lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol positif akarbose yang bersifat sangat aktif dalam menghambat enzim α-Glukosidase.</p>Fitriyanti SamiAkbar AwaluddinAlberispon Rerung
Hak Cipta (c) 2026 Fitriyanti Sami, Akbar Awaluddin, Alberispon Rerung
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-152026-02-154161310.63004/jfs.v4i1.908Analisis Dengan Metode ABC Pada Tahap Pengendalian Obat Antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Periode Tahun 2024
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/963
<p>Pengendalian obat adalah salah satu tahapan dalam pelayanan kefarmasian yang dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi, Pengendalian obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit yang bertujuan untuk memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan, kekurangan, kekosongan ataupun kadaluwarsa. Antibiotik digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Antibiotik merupakan salah satu obat dimana pemakaiannya cukup tinggi dan menggunakan alokasi dana yang besar. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui analisis ABC pada pengendalian obat antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik kohort menggunakan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian menggunakan data retrospektif. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan excel. Dari hasil penelitian, analisis metode ABC pada obat antibiotik kategori A terdapat 6 item obat (10,2%) dengan nilai investasi Rp 2.860.029.816,00 (78,1%), kategori B terdapat 11 item obat (18,6%) dengan nilai investasi Rp 615.854.428,00 (16,8%), dan kategori C terdapat 42 item obat (71,2%) dengan nilai investasi Rp 186.236.883,00 (5,1%).</p>Hanugrah Ardya Crisdian SBerliana LuthfianandaAgnes Prawistya SariElizabet Davira Chatrine
Hak Cipta (c) 2026 Hanugrah Ardya Crisdian S, Berliana Luthfiananda, Agnes Prawistya Sari, Elizabet Davira Chatrine
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-162026-02-1641141810.63004/jfs.v4i1.963Profil Flavonoid Ekstrak Etil Asetat Daun Leyasi (Leucosyke capitellata Wedd)
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/996
<p>Daun Leyasi (<em>Leucosyke capitellata</em> Wedd) secara empiris digunakan masyarakat sebagai penurun kadar gula darah dan memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif, khususnya flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil flavonoid dari ekstrak etil asetat daun Leyasi melalui uji fitokimia, kromatografi lapis tipis (KLT), serta penetapan kadar flavonoid total. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode ultrasonik, kemudian dilakukan uji identifikasi flavonoid dengan reaksi Shinoda, FeCl₃, dan analisis KLT menggunakan eluen kloroform–etanol (2:8). Hasil KLT menunjukkan tiga bercak dengan nilai Rf 0,73; 0,81; dan 0,89 yang mengindikasikan keberadaan beberapa senyawa semipolar, terutama flavonoid. Penetapan kadar flavonoid total menghasilkan nilai rata‑rata 72,411 ± 3,843 mgQE/g dari tiga replikasi, menunjukkan presisi metode yang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa daun Leyasi mengandung flavonoid dalam kadar tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai sumber senyawa bioaktif untuk produk herbal atau fitofarmaka.</p>Ali Rakhman HakimRina SaputriAulia RahmahArmy JuliantiNor Sipa Aulia UlpahBamikha Priskila Natantri
Hak Cipta (c) 2026 Ali Rakhman Hakim; Rina Saputri, Aulia Rahmah, Army Julianti, Nor Sipa Aulia Ulpah, Bamikha Priskila Natantri
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-162026-02-1641192210.63004/jfs.v4i1.996Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Swamedikasi Penggunaan Obat Tetes Mata Untuk Keluhan Mata Ringan: Sebuah Kajian Literatur
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/995
<p>Swamedikasi penggunaan obat tetes mata merupakan praktik yang umum dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan mata ringan, seperti mata kering, mata merah, dan rasa gatal. Praktik ini cenderung dipilih karena kemudahan akses obat, namun dapat menimbulkan risiko apabila tidak disertai pengetahuan dan perilaku penggunaan yang tepat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan. Metode yang digunakan adalah penelusuran dan seleksi artikel ilmiah melalui basis data <em>Google Scholar</em>, <em>PubMed</em>, dan <em>Research Gate</em>. Dari hasil seleksi, diperoleh 10 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dengan total 5.305 responden. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat tetes mata umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, dengan persentase berkisar antara 51% hingga 65,67%. Namun, perilaku penggunaan obat tetes mata masih menunjukkan ketidaktepatan, terutama dalam penggunaan obat tetes mata yang seharusnya memerlukan resep. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tetes mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan penggunaan obat tetes mata yang aman dan rasional pada keluhan mata ringan.</p>Astri Nur FadillahRani HimayaniErvina Damayanti
Hak Cipta (c) 2026 Astri Nur Fadillah, Rani Himayani, Ervina Damayanti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-212026-02-2141233010.63004/jfs.v4i1.995Analisis Perbandingan Efektivitas Dan Mekanisme Biologis Pada Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Dalam Pengobatan Diare
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1006
<p>Obat herbal Indonesia adalah kombinasi dari jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka yang memiliki perbedaan dalam tingkat pembuktian ilmiah serta efektivitas terapi. Evaluasi diperlukan untuk memahami nilai terapeutik dan mekanisme biologis masing-masing. Membandingkan efektivitas dan mekanisme biologis jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka dalam pengobatan diare berdasarkan bukti ilmiah terbaru. Studi ini menggunakan pencarian artikel-artikel yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir sebagai metodologi penelitian: tinjauan pustaka naratif pada artikel yang diterbitkan tidak lebih awal dari tahun 2020 di Google Scholar, PubMed, dan jurnal terindeks SINTA. Analisis dilakukan dengan membandingkan tingkat bukti, farmakologi, dan mekanisme kerja. Jamu memiliki potensi antidiare berdasarkan pengalaman empiris dan kandungan fitokimia, tetapi efektivitas dan mekanisme biologisnya belum dibuktikan secara langsung. OHT menunjukkan efektivitas yang lebih konsisten karena telah diuji secara in vivo dengan mekanisme utama astringen, antimotilitas, dan antisekretori. Fitofarmaka memiliki bukti terkuat karena diuji secara klinis pada manusia, dengan mekanisme biologis yang paling lengkap dan relevan secara klinis. Semakin tinggi tingkat standardisasi obat tradisional, mulai dari jamu, kemudian obat herbal terstandar, hingga fitofarmaka, semakin kuat bukti efektivitasnya dan semakin jelas mekanisme biologisnya dalam pengobatan diare.</p>Christika Ilsanaa SurbaktiDumartina HutaurukPeri
Hak Cipta (c) 2026 Christika Ilsanaa Surbakti, Dumartina Hutauruk, Peri
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-242026-02-2441314610.63004/jfs.v4i1.1006Jurnal Review: Aktivitas Biologis Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Sebagai Antiinflamasi
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1007
<p>Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka merupakan bagian penting dari sistem pengobatan berbasis bahan alam di Indonesia yang didukung oleh kekayaan keanekaragaman hayati. Berbagai tanaman obat diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik yang berperan dalam aktivitas biologis, khususnya sebagai agen antiinflamasi. Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis aktivitas biologis jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka sebagai antiinflamasi. Penelitian ini merupakan review literatur sistematis yang bersumber dari Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Portal Garuda. Artikel yang diseleksi merupakan penelitian eksperimental in vitro dan in vivo yang menguji aktivitas biologis sediaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Data dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan jenis sediaan, senyawa bioaktif, metode uji, serta hasil aktivitas biologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan, ditandai dengan penurunan edema dan penghambatan mediator inflamasi. Formulasi terstandar seperti gel, minyak, sirup, serbuk dan stick herbal meningkatkan stabilitas serta konsistensi efek terapeutik. Kesimpulan yang didapat dari hasil identifikasi dan analisis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka terbukti memiliki potensi antiinflamasi yang kuat melalui aktivitas senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, kurkuminoid dan senyawa fenolik. Senyawa-senyawa ini berperan dalam menghambat mediator inflamasi, mengurangi edema, serta melindungi jaringan dari stres oksidatif. Jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka memiliki potensi besar sebagai agen antiinflamasi yang aman dan efektif. Standarisasi sediaan dan pendekatan ilmiah yang tepat mendukung integrasi obat tradisional ke dalam praktik kesehatan modern berbasis bukti ilmiah.</p>Fridelly MairaniJon Kenedy MarpaungRezza Fikrih UtamaWidya Fitri
Hak Cipta (c) 2026 Fridelly Mairani, Jon Kenedy Marpaung, Rezza Fikrih Utama, Widya Fitri
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-242026-02-2441475510.63004/jfs.v4i1.1007Analisis Faktor Dominan Stres Akademik dan Implikasinya terhadap Kualitas Hidup Mahasiswa Farmasi Universitas Lampung
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1008
<p>Stres akademik merupakan salah satu masalah yang banyak dialami mahasiswa dan berpotensi memengaruhi kualitas hidup, khususnya pada mahasiswa bidang kesehatan yang memiliki tuntutan akademik tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat stres akademik dengan kualitas hidup mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Lampung. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 272 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat stres akademik diukur menggunakan kuesioner PAS, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan WHOQOL-BREF yang meliputi domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Analisis data dilakukan dengan uji <em>Kruskal Wallis</em> untuk mengetahui perbedaan skor kualitas hidup berdasarkan tingkat stres akademik. Sebanyak 8 responden (2,9%) memiliki stres akademik ringan, 192 responden (70,6%) stres sedang, dan 72 responden (26,5%) stres tinggi. Skor kualitas hidup tertinggi terdapat pada domain lingkungan (70,93 ± 13,78) dan terendah pada domain hubungan sosial (61,18 ± 16,78). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres akademik dengan seluruh domain kualitas hidup (p < 0,001). Tingkat stres akademik paling dominan dipengaruhi oleh periode ujian dan berhubungan signifikan dengan kualitas hidup mahasiswa, di mana semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah kualitas hidup.</p>Yumna Dwi RisantiNurma SuriMade Laksmi MeilianaOktafany
Hak Cipta (c) 2026 Yumna Dwi Risanti, Nurma Suri, Made Laksmi Meiliana, Oktafany
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-242026-02-2441566410.63004/jfs.v4i1.1008Artikel Review Fitokimia: Efektifitas Dekokta Sebagai Metode Ekstraksi
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/862
<p>Dekokta merupakan salah satu metode ekstraksi konvensional yang banyak digunakan dalam pengolahan tanaman obat karena prosesnya sederhana, efektif, dan mampu menghasilkan senyawa bioaktif dalam jumlah tinggi. Penelitian dan pengembangan mengenai metode ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam mengekstraksi senyawa aktif serta mengevaluasi aktivitas biologis dari berbagai tanaman obat. Proses dekokta dilakukan dengan merebus simplisia tanaman dalam air pada suhu dan waktu tertentu untuk mengekstraksi komponen aktif, dan telah diterapkan pada berbagai tanaman seperti daun iler, daun singkong, krokot, Gracilaria verrucosa, daun mengkudu, serta sabut kelapa muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini mampu mengekstraksi senyawa penting seperti flavonoid, tanin, polifenol, alkaloid, saponin, dan terpenoid, menghasilkan rendemen serta kadar fenolik yang tinggi, dan menunjukkan aktivitas biologis signifikan seperti antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, aktivitas antioksidan kuat, serta aktivitas antiinflamasi dengan nilai IC₅₀ yang kompetitif terhadap kontrol positif. Selain itu, dekokta juga berperan dalam pembentukan supramolekul dan partikel nano homogen yang meningkatkan efektivitas fitokimia, seperti pada Mahuang Fuzi Decoction (MGF). Dengan berbagai keunggulan tersebut, dekokta menjadi metode penting dalam pengembangan obat herbal modern dan berpotensi menjadi dasar inovasi untuk meningkatkan stabilitas, bioaktivitas, serta nilai komersial produk fitofarmaka.</p>Novita Fitriana IkfarFina Salsabila Nur AiniSeylin Zavira AnantaAnisa Khanif KhusniaWilda Tsabitah Jafnah MahmudNajwa Firida RahmaSalsha Bila Dwi LestariAngelita Maulya Cantika PutriAlya Miladiyah ChayaniA’Yunil HisbiahIvan Charles S.KlauArista Wahyu Ningsih
Hak Cipta (c) 2026 Novita Fitriana Ikfar, Fina Salsabila Nur Aini, Seylin Zavira Ananta, Anisa Khanif Khusnia, Wilda Tsabitah Jafnah Mahmud, Najwa Firida Rahma, Salsha Bila Dwi Lestari, Angelita Maulya Cantika Putri, Alya Miladiyah Chayani, A’Yunil Hisbiah, Ivan Charles S.Klau, Arista Wahyu Ningsih
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-252026-02-2541657210.63004/jfs.v4i1.862Analisis Kelengkapan Administratif dan Farmasetik E-Resep Pasien Rawat Inap di RS X Kota Palangka Raya
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1005
<p style="text-align: justify;">Penggunaan e-resep merupakan inovasi digital di rumah sakit yang bertujuan untuk meminimalkan <em>medication error</em> dan meningkatkan standar mutu pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran profil kelengkapan e-resep pada pasien rawat inap di RS X Kota Palangka Raya periode Juli – Desember 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan 360 sampel e-resep yang diambil melalui teknik <em>simple random sampling</em> dengan rumus Slovin. Sistem digital rumah sakit menunjukkan performa sangat baik pada komponen <em>invocatio</em> dan <em>subscriptio</em> dengan tingkat kelengkapan mencapai 100%. Namun, efektivitas sistem masih terbatas pada komponen <em>inscriptio</em> (0%), <em>prescriptio</em> (22,78%), <em>signatura</em> (14,44%), dan <em>pro</em> (0%). Implementasi e-resep di RS X Kota Palangka Raya telah berhasil mengotomatisasi aspek legalitas waktu dan asal resep secara sempurna. Meskipun demikian, diperlukan perbaikan sistemik pada integrasi data klinis pasien (usia, berat badan, tinggi badan) serta pemutakhiran tampilan SIP dokter guna menjamin kelengkapan administratif dan keamanan pasien secara komprehensif.</p>Iswatun Desyla PurantiEvi MulyaniMohammad Rizki Fadhil Pratama
Hak Cipta (c) 2026 Iswatun Desyla Puranti, Evi Mulyani, Mohammad Rizki Fadhil Pratama
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-282026-02-2841737910.63004/jfs.v4i1.1005Jurnal Review: Pengaruh Suatu Zat Terhadap Sistem Dalam Tubuh Dari Jamu, Obat Herbal Terstandar, Dan Fitofarmaka Serta Manfaatnya Sebagai Antiinflamasi
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/986
<p>Pemanfaatan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap terapi berbasis bahan alam yang dinilai lebih aman dan mudah diakses. Ketiga kategori herbal tersebut memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang bermanfaat sebagai antiinflamasi, sehingga digunakan telaah sistematis untuk menilai aktivitas biologis dan manfaat kesehatannya berdasarkan penelitian terkini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh zat aktif alkaloid,flavonoid, curcuminoid,steroid,saponin,tanin dan senyawa metabolik lainnya dalam jamu,OHT,dan fitofarmaka terhadap sistem tubuh manusia maupun hewan yang diujikan secara klinik maupun praklinik yang berpotensi aktivitas antiinflamasi berdasarkan studi literatur lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah telaah sistematis yang meliputi penelusuran literatur, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, ekstraksi data, serta penyusunan hasil dalam bentuk tabel kualitatif. Penelitian yang dianalisis mencakup model uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis sesuai golongan produknya. Hasil telaah menunjukkan bahwa beberapa bahan jamu seperti rimpang temulawak, ashitiba dan sambiloto terutama diuji menggunakan model in vitro serta dengan penghambatan enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 hasilnya memperlihatkan aktivitas antiinflamasi. Pada kategori OHT seperti daun telang, kombinasi rimpang kunyit dengan kurma,meniran,sambiloto dan kombinasi rimpang kencur dengan daun srikaya memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan kandungan zat aktif flavanoid dan senyawa fenolik lainnya melalui penelitian secara in vitro dan in vivo. Dan pada kategori fitofarmaka seperti daun jambu biji dan phyllantus niruri juga memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan zat aktif flavanoid dan metabolik lainnya melalui penelitian secara in vivo maupun in vitro dan uji klinis terbatas. Sementara itu,. Secara regulatif, BPOM No. 32 Tahun 2019 berperan memastikan mutu serta keamanan produk herbal. Jamu, OHT, dan fitofarmaka memiliki suatu zat yang relevan sebagai antiiinflamasi.</p>Alfi SapitriEva Diansari MarbunMonica SuryaniNaufal Noli FikriRania Ultah AnggrainiAyu Cahya Ningtia
Hak Cipta (c) 2026 Alfi Sapitri, Eva Diansari Marbun, Monica Suryani, Naufal Noli Fikri, Rania Ultah Anggraini, Ayu Cahya Ningtia
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-282026-02-2841808810.63004/jfs.v4i1.986Identifikasi Senyawa Flavonoid Pada Batang Pepaya (Carica papaya L) Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1003
<p>Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada tanaman obat dan diketahui memiliki aktivitas biologis yang penting, seperti antioksidan dan antiinflamasi. Tanaman pepaya (Carica papaya L.) telah banyak diteliti pada bagian daun dan buahnya, namun informasi mengenai kandungan flavonoid pada bagian batang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar total flavonoid dalam ekstrak batang pepaya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan kuersetin sebagai standar kuantitatif.</p> <p>Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak batang pepaya memberikan respon positif terhadap flavonoid. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar flavonoid total dalam ekstrak batang pepaya Adalah 6,03333±0,0002 mgQE/g ekstrak atau 0,6033±0,0002 % b/b. Analisis kuantitatif dapat ditentukan secara akurat menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan dinyatakan sebagai ekuivalen kuersetin. Hasil ini mengindikasikan bahwa batang pepaya berpotensi sebagai sumber flavonoid dan metode spektrofotometri UV-Vis merupakan metode yang sederhana, cepat, dan efektif untuk penetapan flavonoid total pada bahan alam.</p>Febrina NugrahiniAhmad Bagus MindiartoRini Setiawati
Hak Cipta (c) 2026 Febrina Nugrahini, Ahmad Bagus Mindiarto, Rini Setiawati
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-282026-02-2841899210.63004/jfs.v4i1.1003Pengaruh Edukasi Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan Hipertensi pada Kader Kesehatan Desa X
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1022
<p>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian secara global. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko dan pencegahan hipertensi menjadi kendala utama dalam pengendalian penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain <em>pre-experimental</em> dengan rancangan <em>one group pretest-posttest</em>. Sampel penelitian berjumlah 11 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi edukasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan responden sebesar 3,91%, di mana nilai rata-rata <em>pre-test</em> adalah 7,82% meningkat menjadi 11,73% pada <em>post-test</em>. Sebanyak 8 responden (72,7%) mengalami kenaikan skor, sementara sisanya memiliki skor tetap atau menurun. Pemberian edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi, namun peningkatan yang terjadi belum mencapai level maksimal. Disarankan adanya edukasi berkelanjutan dan penggunaan media yang lebih interaktif untuk memperkuat pemahaman masyarakat.</p>Mustaqimah
Hak Cipta (c) 2026 Mustaqimah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-282026-02-2841939710.63004/jfs.v4i1.1022Uji Efek Diuretik Ekstrak Daun Remek Daging (Hemigraphis Colorata Hall F.) Terhadap Hewan Uji Tikus Putih (Rattus Novergicus)
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1010
<p>Telah dilakukan penelitian uji efek diuretik ekstrak daun remek daging (Hemigraphis colorata Hall F.) asal Kota Bandung terhadap hewan uji tikus putih (<em>Rattus norvegicus)</em>, dengan tujuan untuk mengetahui dan menentukan konsentrasi ekstrak etanol daun remek daging yang dapat memberikan efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar. Dalam hal ini, dilakukan pengujian terhadap 15 ekor tikus putih yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok I diberi Na.CMC 1% sebagai kontrol, kelompok II, III, IV diberi ekstrak daun remek daging dengan masing-masing konsentrasi 1% b/v, 2% b/v, dan 3% b/v, sedangkan kelompok V diberi suspensi furosemida sebagai pembanding. Pengamatan frekuensi diuresis dan pengukuran volume urin selama 5 jam dilakukan setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun remek daging memberikan efek diuretik pada tikus putih jantan. Pemberian ekstrak daun remek daging pada konsentrasi 3% b/v memberikan efek diuretik yang efektif dibandingkan konsentrasi 1% b/v dan 2% b/v, tetapi efeknya masih lebih kecil dari suspensi furosemida sebagai kontrol positif.</p>Sri WidyastutiSri Wahyuni
Hak Cipta (c) 2026 Sri Widyastuti, Sri Wahyuni
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-03-052026-03-054110.63004/jfs.v4i1.1010Gambaran Ketersediaan Obat di Rumah Sakit TNI AD TK. IV 12.07.03 Palangka Raya
https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/JFS/article/view/1023
<p>Ketersediaan obat di Rumah Sakit merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang berpengaruh langsung terhadap kualitas perawatan pasien. Rumah Sakit TNI AD Tk. IV 12.07.03 Palangka Raya, sebagai salah satu fasilitas kesehatan militer, memiliki tanggung jawab untuk menyediakan obat-obatan yang memadai bagi pasiennya. Tetapi terdapat tantangan dalam hal ketersediaan obat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, yang dapat mempengaruhi efektivitas pengobatan dan keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketersediaan obat yang diresepkan pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit TNI AD Tk.IV 12.07.03 Palangka Raya pada bulan oktober sampai dengan bulan desember tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian di Rumah Sakit TNI AD Tk.IV 12.07.03 Palangka Raya yang diresepkan pada pasien rawat jalan sebanyak 382 lembar resep, persentase jumlah recipe obat yang diresepkan dan jumlah recipe obat yang tersedia dengan total persentase 98,07%. Disimpulkan bahwa ketersediaan obat pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit TNI AD Tk.IV 12.07.03 Palangka Raya pada bulan oktober sampai dengan bulan desember tahun 2024 dikategorikan baik dengan persentase >75%.</p>Risqika Yulia TantriDewi Sari MuliaHalida SuryadiniJerni
Hak Cipta (c) 2026 Risqika Yulia Tantri, Dewi Sari Mulia, Halida Suryadini, Jerni
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-282026-02-284110310710.63004/jfs.v4i1.1023