Health Research Journal of Indonesia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI <p><strong>Nama jurnal : </strong><em>Health Research Journal of Indonesia </em>(HRJI)<br /><em><strong>Editor in Chief </strong></em><strong>: </strong>Nurul Hidayah, SKM., M.Kes<br /><strong>ISSN </strong><a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2964-7592" target="_blank" rel="noopener">2964-7592</a> (online)<br /><strong>Terakreditasi Peringkat 4</strong> (Sinta 4)<br /><strong>DOI Jurnal :</strong> <a href="https://doi.org/10.63004/hrji">10.63004/hrji</a><br /><strong>Terbit</strong> setiap bulan Februari, April, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember.</p> <p><strong>Health Research Journal of Indonesia (HRJI)</strong> adalah jurnal elektronik dan <em>open access</em> <em>journal</em> yang dikelola oleh CV. Wadah Publikasi Cendekia. Health Research Journal of Indonesia merupakan media publikasi penelitian orisinil di bidang Kesehatan meliputi Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan bidang kesehatan lain. </p> <p>Mulai bulan September 2026 jurnal HRJI hanya menerima naskah bidang ilmu Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Keperawatan, Kebidanan, dan Gizi.</p> <p>Health Research Journal of Indonesia <strong>Terakreditasi Peringkat 4</strong> (<a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/16934" target="_blank" rel="noopener"><strong>Sinta 4</strong></a>) berdasarkan SK Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek RI nomor 156/C/C3/KPT/2026 tahun 2026.</p> <p>Template [<a href="https://drive.google.com/drive/folders/17cPfYPkcSLVH2khE2hA99d6-NEYlazUT?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">download</a>]</p> <p><strong>Informasi Penting</strong> <strong>untuk Penulis</strong><br />1. Isi naskah ditulis dalam bahasa Indonesia.<br />2. Naskah dikirim <strong>WAJIB</strong> menggunakan template jurnal HRJI.<br />3. Naskah dikirim tidak menggunakan template (atau ada modifikasi) akan <strong>DITOLAK</strong> pada keputusan pertama Ketua Editor.<br />4. Silahkan baca alur proses naskah terlebih dahulu [<a href="https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/information/authors">info alur</a>].</p> <p><a href="https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/publicationfee"><strong>Ketentuan baru Pembayaran Biaya Proses Artikel (APC) mulai September 2026</strong></a></p> CV. Wadah Publikasi Cendekia id-ID Health Research Journal of Indonesia 2964-7592 <p>Karya belum pernah diterbitkan sebelumnya (kecuali dalam bentuk abstrak atau bagian dari kuliah atau tesis yang diterbitkan) dan tidak sedang dipertimbangkan untuk diterbitkan di tempat lain. Ketika naskah diterima untuk diterbitkan dalam jurnal ini, penulis setuju untuk mentransfer hak cipta secara otomatis ke penerbit.</p> <p><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by-sa/4.0/88x31.png" alt="Lisensi Creative Commons" /></a><br /><em>Health Research Journal of Indonesia</em> dilisensikan di bawah <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a></p> Asesmen Kesiapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Dapur Makan Bergizi Gratis Tahap Pra-Operasional https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1319 <p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memerlukan fasilitas pengolahan makanan yang tidak hanya mampu menjamin keamanan pangan, tetapi juga mendukung penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kesiapan K3 pada tahap pra-operasional penting untuk mengidentifikasi potensi risiko dan memastikan tersedianya sarana pendukung sebelum kegiatan produksi makanan dimulai. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kesiapan K3 pada dapur MBG tahap pra-operasional. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional yang dilakukan pada satu dapur MBG sebelum operasional. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan instrumen asesmen yang meliputi penilaian kelayakan K3, gap analysis terhadap komponen K3, dan asesmen kesiapan manajemen K3. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk skor, persentase, tabel, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh komponen yang dinilai pada aspek fisik, mekanik dan peralatan, kimia, biologi, ergonomi, kebakaran dan kedaruratan, serta manajemen K3 telah tersedia pada tahap pra-operasional. Hasil gap analysis menunjukkan bahwa komponen struktur dan tata letak, fasilitas sanitasi, serta keselamatan kerja telah tersedia sesuai kriteria penilaian. Selain itu, komponen kebijakan, standar operasional prosedur, pelatihan, alat pelindung diri, dan safety climate juga telah dipersiapkan. Dapat disimpulkan bahwa komponen dasar K3 telah tersedia pada dapur MBG tahap pra-operasional. Evaluasi lanjutan diperlukan setelah dapur beroperasi untuk menilai implementasi K3 dan efektivitas pengendalian risiko kerja.</p> Nurul 'Afifah Hijami Muhammad Fikri Hijami Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2005 2010 10.63004/hrji.v4i6.1319 Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan Aktivitas Fisik Pada Mahasiswa Keperawatan Di Universitas Sari Mulia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1372 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Mahasiswa keperawatan rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik, praktikum, dan praktik klinik. Aktivitas fisik diketahui dapat membantu menjaga kesehatan mental dan menurunkan stres. <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan aktivitas fisik pada mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Sari Mulia. <strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 168 mahasiswa yang dipilih menggunakan <em>proportional random sampling</em>. Tingkat stres diukur menggunakan <em>Perceived Stress Scale-10 (PSS-10)</em> dan aktivitas fisik menggunakan <em>International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF)</em>. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan α=0,05. <strong>Hasil:</strong> Mayoritas responden mengalami stres sedang (60,7%), diikuti stres tinggi (30,4%) dan stres rendah (8,9%). Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik tinggi (88,1%), sedangkan 11,9% memiliki aktivitas fisik sedang. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0,043 (p&lt;0,05), yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan aktivitas fisik. <strong>Simpulan:</strong> Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan aktivitas fisik pada mahasiswa keperawatan Universitas Sari Mulia. Pengelolaan stres dan peningkatan aktivitas fisik perlu ditingkatkan untuk mendukung kesehatan fisik dan mental mahasiswa.</p> Kristina Dwi Silva Rifa’atul Mahmudah Rian Tasalim Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2011 2017 10.63004/hrji.v4i6.1372 Hubungan Hygiene Sanitasi Kantin Dengan Keamanan Jajanan Siswa Di MTSS Al-Washliyah Medan Krio https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1422 <p>Keamanan jajanan sekolah merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan siswa karena makanan yang tidak aman berisiko menyebabkan penyakit bawaan pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan sanitasi kantin dengan keamanan jajanan siswa di MTsS Al-Washliyah Medan Krio. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel berjumlah 35 siswa kelas IX-6 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner keamanan jajanan dan lembar observasi sanitasi kantin, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 24 siswa (68,6%) mengonsumsi jajanan kategori aman dan 11 siswa (31,4%) mengonsumsi jajanan kategori tidak aman. Hasil observasi menunjukkan Kantin 1 tidak memenuhi syarat sanitasi (44,4%), sedangkan Kantin 2 memenuhi syarat sanitasi (72,2%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sanitasi kantin dan keamanan jajanan siswa dengan nilai Pearson Chi-Square sebesar 16,086 dan p-value &lt;0,001. Disimpulkan bahwa sanitasi kantin berhubungan dengan keamanan jajanan siswa. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan sanitasi kantin serta edukasi keamanan pangan bagi pengelola kantin dan siswa untuk mengurangi terjadinya kontaminasi pada bahan pangan.</p> Meutia Nanda Fazra Ulya Syahlin Fiha Fauzia Monnavia Rorisa Zalfa Syahirah Gultom Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2018 2026 10.63004/hrji.v4i6.1422 Efektivitas Latihan Peregangan Terhadap Penurunan Nyeri Leher Ringan Dan Sedang Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Jambi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1637 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Nyeri leher merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dialami mahasiswa kedokteran akibat tingginya aktivitas akademik, penggunaan perangkat digital dalam waktu lama, serta postur tubuh yang kurang ergonomis. Latihan peregangan (<em>stretching exercise</em>) merupakan intervensi nonfarmakologis yang berpotensi mengurangi nyeri leher. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui efektivitas latihan peregangan terhadap penurunan nyeri leher ringan dan sedang pada mahasiswa Kedokteran Universitas Jambi angkatan 2023–2025. <strong>Metode</strong>: Penelitian <em>quasi-experimental</em> dengan pendekatan <em>one-group pretest-posttest design</em> melibatkan 22 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Intensitas nyeri diukur menggunakan <em>Numeric Rating Scale</em> (NRS). Intervensi berupa tujuh jenis peregangan dilakukan tiga kali per minggu selama enam minggu. Analisis menggunakan uji Wilcoxon <em>Signed-Rank Test</em> (p&lt;0,05). <strong>Hasil</strong>: Dari 22 responden, 13 (59,1%) perempuan dan 9 (40,9%) laki-laki. Rerata skor NRS menurun dari 3,00 ± 1,633 (median 2,50) menjadi 1,09 ± 1,109 (median 1,00) setelah intervensi, dengan perbedaan bermakna secara statistik (p&lt;0,001). <strong>Kesimpulan</strong>: Latihan peregangan efektif menurunkan nyeri leher ringan dan sedang pada mahasiswa Kedokteran Universitas Jambi angkatan 2023–2025 serta berpotensi direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah, dan ekonomis. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan kelompok kontrol dan jumlah sampel yang lebih besar untuk memperkuat bukti efektivitasnya.</p> Daru Ikhwan Maulana Patrick William Gading Hasna Dewi Lailan Lailan Zilzikridini Wijayanti Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2027 2035 10.63004/hrji.v4i6.1637 Karateristik Pola Luka Korban KDRT Terhadap Perempuan Dewasa Berdasarkan Hasil Visum Et Repertum di RS Bhayangkara Jambi Tahun 2020-2024 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1645 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan berdampak luas, baik secara hukum maupun medis. Visum et Repertum berperan penting dalam menyediakan bukti medis yang objektif atas luka yang dialami korban. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik pola luka pada korban perempuan dewasa KDRT berdasarkan Visum et Repertum di RS Bhayangkara Jambi periode 2020–2024. <strong>Metode: </strong>Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medis berupa Visum et Repertum. Sampel berjumlah 86 korban perempuan dewasa KDRT yang dipilih dengan teknik purposive sampling. <strong>Hasil: </strong>Mayoritas korban berada pada rentang usia 18–40 tahun, yaitu sebanyak 75 orang (87,2%). Berdasarkan jenis kekerasan, luka akibat trauma mekanik tumpul merupakan temuan terbanyak dengan 85 kasus (98,8%). Berdasarkan distribusi lokasi anatomis, ekstremitas atas merupakan regio yang paling sering mengalami luka, yaitu sebesar 37,3%. <strong>Simpulan: </strong>Sebagian besar korban perempuan dewasa KDRT termasuk kelompok usia 18–40 tahun dan dominan mengalami trauma tumpul, dengan lokasi luka terbanyak pada ekstremitas atas yang merupakan gambaran luka tangkis.</p> Radhin Naufal Erni Situmorang Mirna Iskandar Shalahudden Syah Ahmad Syauqy Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2036 2040 10.63004/hrji.v4i6.1645 Pengaruh Edukasi Kesehatan Menggunakan Video Animasi terhadap Peningkatan Pengetahuan Mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Peserta BPJS di Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1643 <p>Tingkat pemahaman masyarakat mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan faktor yang sangat penting dalam memastikan bahwa informasi dan regulasi kesehatan tersampaikan dengan baik serta dapat diimplementasikan secara tepat. Untuk mengoptimalkan penyampaian informasi tersebut, diperlukan metode edukasi kesehatan yang inovatif. Penyuluhan menggunakan media audiovisual, khususnya video animasi, diyakini menjadi solusi yang efektif dalam menyampaikan informasi JKN secara interaktif, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh penyuluhan menggunakan media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan mengenai JKN pada peserta BPJS di Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pra-eksperimental menggunakan pendekatan one-group pre-test post-test. Sampel penelitian terdiri atas 100 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data tingkat pengetahuan responden dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang nyata pada nilai rata-rata (<em>mean</em>) pengetahuan responden, dari 11,56 sebelum intervensi (<em>pre-test</em>) menjadi 14,68 setelah diberikan intervensi edukasi (<em>post-test</em>). Kategori umum tingkat pengetahuan peserta juga mengalami peningkatan yang signifikan setelah intervensi. Berdasarkan uji Wilcoxon Signed-Rank, diperoleh nilai p &lt; 0,001 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan penolakan terhadap hipotesis nol (H₀). Terdapat pengaruh yang sangat signifikan dari penyuluhan menggunakan media video animasi terhadap peningkatan pengetahuan peserta mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Media video animasi terbukti menjadi instrumen edukasi yang efektif untuk menyampaikan informasi regulasi JKN yang kompleks, sehingga sangat direkomendasikan untuk digunakan sebagai standar dalam sosialisasi kesehatan kepada masyarakat di masa mendatang.</p> Nur Shadrina Azizah Armaidi Darmawan Patrick William Gading Erny Kusdiyah Budi Justitia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2041 2047 10.63004/hrji.v4i6.1643 Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Asupan Kalsium Pada Ibu Balita Di Kecamatan Selo, Boyolali https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1480 <p>Badan Pusat Statistik tahun 2022 melaporkan angka kemiskinan sebanyak 26,16 juta jiwa (9,54% dari populasi), yang menempatkan mereka pada risiko kerawanan pangan. Ketahanan pangan didefinisikan sebagai akses rumah tangga terhadap pangan yang memadai, aman, dan bergizi. Penelitian ini mengkaji hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga dan asupan kalsium pada ibu yang memiliki anak di Kecamatan Selo, Boyolali. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 108 responden ibu yang telah tinggal di wilayah penelitian selama minimal 5 tahun dan berperan dalam konsumsi pangan rumah tangga. Ketahanan pangan rumah tangga dinilai menggunakan <em>Household Food Insecurity Access Scale</em> (HFIAS), sedangkan asupan kalsium dinilai menggunakan <em>Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire</em> (SQ-FFQ) dan perangkat lunak NutriSurvey. Skor rata-rata HFIAS adalah 3,90 ± 4,34 dan rata-rata asupan kalsium adalah 113,85 ± 76,46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). Sebanyak 51,9% rumah tangga mengalami kerawanan pangan, dan 50,9% ibu memiliki asupan kalsium yang memadai. Asupan kalsium berkorelasi secara signifikan dengan ketahanan pangan rumah tangga (p=0,004; r=-0,276). Disarankan untuk mempromosikan edukasi gizi dan diversifikasi pangan guna meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga serta asupan kalsium.</p> Hani Meilani Putri Luluk Ria Rakhma Pramudya Kurnia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-05 2026-08-05 4 6 2048 2055 10.63004/hrji.v4i6.1480 Hubungan Status Gizi dan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Desa Paku, Sulawesi Utara https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1487 <p>Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup tinggi di Indonesia. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian anemia adalah status gizi yang kurang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Lingkar Lengan Atas (LiLA) dengan kejadian anemia pada remaja putri di Desa Paku, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 40 remaja putri yang dipilih secara <em>total sampling</em>. Status gizi berdasarkan IMT diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, sedangkan LiLA diukur menggunakan pita LiLA. Kejadian anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin (Hb). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki status gizi normal berdasarkan IMT (57,5%) dan LiLA normal (62,5%). Prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 52,5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi berdasarkan IMT (p=0,02) maupun LiLA (p=0,007) dengan kejadian anemia. Status gizi merupakan faktor penentu yang sangat signifikan terhadap kejadian anemia pada remaja putri. Meskipun mayoritas responden memiliki indikator gizi normal, prevalensi anemia tetap tinggi (lebih dari separuh populasi), yang dipicu secara kuat oleh kondisi tubuh yang kurus (IMT Rendah) dan risiko Kekurangan Energi Kronis (LiLa rendah). Oleh karena itu, perbaikan status gizi perlu menjadi salah satu strategi utama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri.</p> Mastia Tongkinoto Musthika Wida Mashitah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2056 2064 10.63004/hrji.v4i6.1487 Hubungan Frekuensi Konsumsi Makanan Minuman Manis dengan Siklus Menstruasi Pada Siswi SMK Batik 2 Surakarta https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1610 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Menstruasi merupakan proses fisiologis yang dapat mengalami gangguan apabila siklusnya tidak teratur. Pola makan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi siklus menstruasi. Konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan dapat meningkatkan glukosa darah dan memicu resistensi insulin, yang berpotensi mengganggu keseimbangan hormon reproduksi melalui <em>hipotalamus hipofisis ovarium</em>, sehingga memengaruhi ovulasi dan menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis dengan siklus menstruasi pada remaja putri di SMK Batik 2 Surakarta. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain observasional. Populasi penelitian adalah remaja putri di SMK Batik 2 Surakarta dan sampel berjumlah 74 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis dikumpulkan menggunakan kuesioner FFQ, sedangkan siklus menstruasi menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji <em>Fisher’s Exact Test</em>. <strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden memiliki siklus menstruasi teratur pada konsumsi makanan manis kategori jarang (87%) dan sering (89%), serta minuman manis kategori jarang (89%) dan sering (86%). Hasil uji <em>Fisher’s Exact Test</em> menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi makanan manis (p=1,000) dan minuman manis (p=0,732) dengan siklus menstruasi (p&gt;0,05) <strong>Kesimpulan:</strong> Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan konsumsi makanan dan minuman manis dengan siklus menstruasi pada remaja putri di SMK Batik 2 Surakarta.</p> Anggi Eka Mulyandari Siti Zulaekah Farida Nur Isnaeni Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2065 2071 10.63004/hrji.v4i6.1610 Pengaruh Pemberian Media Edukasi Gizi terhadap Pengetahuan Isi Piringku dan Produktivitas Kerja pada Karyawan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1575 <p>Produktivitas merupakan hubungan antara beberapa output yang dihasilkan dan berapa input yang dibutuhkan untuk memproduksi output tersebut. Faktor lain yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja adalah gizi. Gizi kerja adalah salah satu syarat untuk tercapainya derajat kesehatan yang optimal, khususnya bagi para pekerja. Gizi kerja diperlukan oleh pekerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan. Asupan zat gizi yang baik dibutuhkan oleh seorang pekerja hendaknya menghasilkan produktivitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh media pada peningkatan pengetahuan isi piringku dan produktivitas kerja menggunakan bantuan media edukasi pada karyawan. Penelitian ini menggunakan <em>quasi experimental design</em>. Rancangan penelitian ini<em> pretest-posttest design </em>yang diaplikasikan dengan metode penelitian intervensi. Populasi pada penelitian ini adalah karyawan PT X di wilayah Cikarang Selatan. Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 responden. Uji statistik yang digunakan adalah <em>Uji Wilcoxon </em>dan<em> Paired T Test</em> menggunakan SPSS Versi 26. Hasil penelitian menunjukkan media booklet dan media inovatif (kalender) meningkatkan rata-rata skor pengetahuan dan produktivitas kerja, tetapi tidak signifikan secara statistik. Media video tidak meningkatkan pengetahuan isi piringku, namun meningkatkan produktivitas kerja secara signifikan (p=0,005). Disimpulkan bahwa media video lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas kerja dibandingkan booklet dan kalender, sedangkan peningkatan pengetahuan isi piringku belum menunjukkan perbedaan yang bermakna.</p> Sarah Nur Aqila Ratih Kurniasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2072 2079 10.63004/hrji.v4i6.1575 Meta-Analisis: Hubungan Kepuasan Kerja, Dukungan Supervisi, Lingkungan Kerja dengan Turnover Intention Pada Tenaga Kesehatan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1558 <p><em>Turnover intention</em> pada tenaga kesehatan merupakan permasalahan yang dapat mempengaruhi keberlangsungan organisasi serta mutu pelayanan kesehatan. Kepuasan kerja, dukungan supervisi, dan lingkungan kerja merupakan faktor organisasi yang diduga berhubungan dengan <em>turnover intention</em>. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan ketiga faktor tersebut dengan <em>turnover intention</em> pada tenaga kesehatan melalui <em>systematic review</em> dan meta-analisis. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pedoman PRISMA melalui penelusuran literatur pada basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ProQuest. Sebanyak 15 studi <em>cross-sectional</em> yang diterbitkan pada periode 2014–2025 memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan <em>Review Manager</em> (RevMan) versi 5.4. Hasil meta-analisis terhadap 15 studi yang melibatkan 10.340 tenaga kesehatan menunjukkan bahwa ketidakpuasan kerja berhubungan dengan peningkatan <em>turnover intention</em> (aOR = 2,79; 95% CI = 1,74–4,49; p &lt; 0,0001). Kurangnya dukungan supervisi juga berhubungan dengan <em>peningkatan turnover intention</em> (aOR = 1,71; 95% CI = 1,34–2,18; p &lt; 0,0001), demikian pula ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja (aOR = 1,74; 95% CI = 1,36–2,22; p &lt; 0,0001). Dengan demikian, ketidakpuasan kerja, kurangnya dukungan supervisi, dan ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan peningkatan <em>turnover intention</em> pada tenaga kesehatan.</p> Dinta Lestari Endang Nifatna Sari Irpan Irpan Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2080 2092 10.63004/hrji.v4i6.1558 Analisis Biomedik Gejala Hearing Loss: Efek Akumulatif Stres Mekanika-Akustik Berdasarkan Usia dan Masa Kerja Penyelam Tradisional https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1548 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Aktivitas penyelaman tradisional dengan menggunakan kompresor ban dihadapkan pada risiko paparan ganda berupa bising kronis dan tekanan hidrostatik ekstrem yang mengancam fungsi auditori. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko biofisika, karakteristik individu, dan manifestasi gejala klinis dominan yang memicu kejadian hearing loss pada penyelam tradisional. <strong>Metode:</strong> Metode penelitian menggunaka studi kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 98 penyelam tradisional di Wilayah Pantai Utara Gresik, Jawa Timur. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan rinne test (garputala 512 Hz). lalu dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta Regresi Logistik Berganda (metode Enter).<strong> Hasil:</strong> Hasil penelitian didapatkan dari analisis bivariat menunjukkan kedalaman menyelam (ρ=0,021), usia (ρ=0,001), masa kerja (ρ=0,003), serta gejala tinnitus (ρ=0,003), otalgia (ρ=0,001), sulit mendengar (ρ=0,011), dan berteriak saat bicara (p=0,0001) berhubungan dengan kejadian hearing loss. Hasil uji multivariat mengonfirmasi bahwa Usia &gt;40 tahun merupakan faktor dominan dengan nilai Adjusted Odds Ratio (AOR) sebesar 2,764 (95% CI=1,066–7,164; ρ=0,036). <strong>Kesimpulan:</strong> Penuaan biologis bertindak sebagai akumulator final yang melipatgandakan dampak destruktif dari paparan stres mekanika-akustik harian. Intervensi kesehatan kerja maritim yang berfokus pada pembatasan usia kerja dan proteksi telinga sangat direkomendasikan.</p> Nur Chabibah Luluk Dewita Sari Dhian Satya Rachmawati Taufan Agung Prasetya Taukhid Sapto Dwi Anggoro Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2093 2101 10.63004/hrji.v4i6.1548 Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Se-Kota Jambi Tahun 2026 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1519 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia yang prevalensinya terus meningkat setiap tahun. Kualitas tidur yang buruk diduga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatis. <strong>Tujuan: </strong>Mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Se-Kota Jambi Tahun 2026. <strong>Metode:</strong> Penelitian analitik observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> pada 118 responden di 20 puskesmas. Sampel dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI), sedangkan tekanan darah diperoleh melalui pengukuran langsung. Analisis data menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (59,3%). Tekanan darah responden didominasi kategori prehipertensi dan hipertensi derajat 1 (33,9%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dan tekanan darah (p=0,010). Responden dengan kualitas tidur buruk memiliki risiko 1,14 kali lebih besar mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan responden dengan kualitas tidur baik (PR=1,14). <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dan tekanan darah pada pasien hipertensi tahun 2026.</p> Andi Aliyah Nurul Munawwarah Yulinda Fetritura Mirna Marhami Iskandar Erny Kusdiyah Rina Nofri Enis Hak Cipta (c) 2026 2026-08-06 2026-08-06 4 6 2102 2109 10.63004/hrji.v4i6.1519 Optimalisasi Pencegahan Hipertensi Melalui Penerapan Gaya Hidup Sehat Pada Masyarakat Way Lima Pesawaran https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1428 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Penerapan gaya hidup sehat menjadi salah satu upaya preventif yang efektif dalam mengendalikan faktor risiko hipertensi. <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis hubungan penerapan gaya hidup sehat dengan perilaku pencegahan hipertensi pada masyarakat di Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran.<strong> Metode: </strong>Penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kota Dalam Kecamatan Way Lima pada bulan Oktober 2025. Populasi penelitian berjumlah 80 penderita hipertensi dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pola hidup sehat dan perilaku pencegahan hipertensi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. <strong>Hasil: </strong>Responden yang menerapkan gaya hidup sehat dengan kategori baik menunjukkan kecenderungan memiliki perilaku pencegahan hipertensi yang lebih baik dibandingkan responden dengan gaya hidup kurang sehat. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gaya hidup sehat dan perilaku pencegahan hipertensi (p&lt;0,05).<strong> Kesimpulan: </strong>Penerapan gaya hidup sehat berperan penting dalam optimalisasi pencegahan hipertensi pada masyarakat. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung perubahan perilaku kesehatan masyarakat.</p> Muhammad Farhan Al Farisi Kharisma Kharisma Eko Wardoyo Sulistia Nur Hak Cipta (c) 2026 2026-08-07 2026-08-07 4 6 2110 2114 10.63004/hrji.v4i6.1428 Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan Darah Hipertensi Pada Lansia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1543 <p>Hipertensi Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Yang Umum Terjadi Pada Lansia Dan Beresiko Menyebabkan Komplikasi Serius Jika Dikendalikan. Salah Satu Intervensi Non Farmakologis Untuk Menurunkan Tekanan Darah Adalah Teknik Relaksasi Progresif. Tujuan Penelitian Ini Untuk Mengetahui Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan Darah Hipertensi Pada Lansia. Penelitian Ini Adalah Penelitian Kuantitatif Dengan Desain Penelitian Pre Eksperiment Pre Test And Post Test Design. Penelitian Dilakukan Di Wilayah Kerja Puskesmas Aur Duri Kota Jambi. Populasi Pada Penelitian Ini Aadalah Seluruh Lansia Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Aur Duri Kota Jambi Sebanyak 210 Responden, Sampel Sebanyak 32 Responden Dengan Teknik Purposive Sampling Dengan Menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil Penelitian Didapatkan Tekanan Darah Lansia Hipertensi Sebelum Dilakukan Progressive Muscle Relaxation Berada Dalam Hipertensi Stage 1 Yaitu Sebanyak 18 (56,3%) Responden, Sesudah Dilakukan Progressive Muscle Relaxation Berada Dalam Pre Hipertensi Yaitu Sebanyak 20 (62,5%) Responden. Ada Pengaruh Progresive Muscle Relaxation Terhadap Penurunan Tekanan Darah Lansia (Ρ Value = 0,000). Teknik Relaksasi Otot Progresif Efektif Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Penderita Hipertensi. Intervensi Ini Dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif Non Farmakologis Dalam Pengelolaan Hipertensi.</p> Novida Nengsih Masrina Naomi Wulantari Simanjuntak Dormina Dormina Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2115 2121 10.63004/hrji.v4i6.1543 Analisis Spasial Distribusi Apotek dalam Pemerataan Pelayanan Kefarmasian di Kawasan Perkotaan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1364 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Pelayanan kefarmasian berperan penting dalam menjamin akses masyarakat terhadap obat dan layanan farmasi. Namun, distribusi apotek di kawasan perkotaan masih belum merata sehingga memengaruhi akses pelayanan kefarmasian. <strong>Tujuan:</strong> Kajian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial apotek terhadap pemerataan pelayanan kefarmasian di kawasan perkotaan. <strong>Metode:</strong> Studi literatur dilakukan dengan menelaah penelitian terkait distribusi apotek, akses pelayanan kefarmasian, kepadatan penduduk, dan pemanfaatan Geographic Information System (GIS) dalam analisis spasial. <strong>Hasil:</strong> kajian menunjukkan bahwa distribusi apotek cenderung terpusat di wilayah urban padat penduduk, pusat aktivitas ekonomi, dan area yang dekat dengan fasilitas kesehatan. Sementara itu, wilayah pinggiran kota masih memiliki akses pelayanan kefarmasian yang terbatas akibat jumlah apotek yang lebih sedikit, jarak tempuh yang jauh, serta keterbatasan transportasi. Analisis spasial berbasis GIS dinilai efektif dalam mengidentifikasi pola persebaran apotek, tingkat aksesibilitas masyarakat, serta wilayah yang mengalami kesenjangan pelayanan. <strong>Simpulan:</strong> Penelitian ini menunjukkan bahwa tata ruang kota, kepadatan penduduk, dan akses transportasi memiliki pengaruh terhadap pemerataan pelayanan kefarmasian, sehingga diperlukan kajian literatur mengenai Analisis Spasial Distribusi Apotek terhadap Pemerataan Pelayanan Kefarmasian di Kawasan Perkotaan untuk memperoleh gambaran mengenai pola distribusi apotek, tingkat aksesibilitas pelayanan kefarmasian, dan faktor-faktor yang memengaruhi pemerataan pelayanan di berbagai wilayah perkotaan.</p> Wisdayanti Riskasiswanti Riskasiswanti Muhammad Iqbal Padli Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2122 2128 10.63004/hrji.v4i6.1364 Pemberian Foot Massage Menggunakan Minyak Zaitun Terhadap Perubahan Tingkat Kelelahan Pada Pasien CKD ON HD https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1483 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Pasien <em>Chronic Kidney Disease </em>(CKD) yang menjalani hemodialisis sering mengalami kelelahan akibat anemia, akumulasi toksin uremik, serta gangguan fisiologis dan metabolik yang berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari. Intervensi keperawatan nonfarmakologis seperti <em>foot massage</em> dengan minyak zaitun dapat menjadi alternatif untuk mengurangi kelelahan. <strong>Tujuan : </strong>Mengetahui efektivitas pemberian terapi <em>foot massage</em> menggunakan minyak zaitun dalam menurunkan tingkat kelelahan pada pasien <em>Chronic Kidney Disease </em>(CKD) yang menjalani hemodialisis sebagai intervensi keperawatan komplementer <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan pendekatan asuhan keperawatan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Intervensi berupa <em>foot massage</em> menggunakan minyak zaitun diberikan selama tiga sesi, masing-masing 30 menit. Tingkat kelelahan diukur menggunakan <strong><em>Fatigue Assessment Scale </em></strong><strong>(FAS)</strong> sebelum dan sesudah intervensi. <strong>Hasil:</strong> Evaluasi menunjukkan penurunan tingkat kelelahan secara bertahap, ditandai dengan penurunan skor FAS dari kategori kelelahan berat menjadi kelelahan ringan setelah tiga kali intervensi. <strong>Simpulan:</strong> <em>Foot massage</em> menggunakan minyak zaitun efektif menurunkan kelelahan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis dan berpotensi menjadi intervensi keperawatan komplementer untuk meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.</p> Ajeng Irma Riana Dewi Faried Rahman Hidayat Taufik Septiawan Rusni Masnina Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2129 2133 10.63004/hrji.v4i6.1483 Hubungan Kepatuhan Obat dan Gaya Hidup dengan Parameter Laboratorium Pasien Prolanis Di Puskesmas https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1511 <p>Hipertensi dan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang untuk mencegah komplikasi. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya ditentukan oleh terapi farmakologis, tetapi juga dipengaruhi oleh kepatuhan obat dan gaya hidup pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kepatuhan obat dan gaya hidup dengan parameter laboratorium pada pasien Prolanis hipertensi dan diabetes melitus di Puskesmas Soko. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 38 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Data kepatuhan obat dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Medication Adherence Rating Scale</em> (MARS-5), gaya hidup menggunakan <em>Healthy Lifestyle Questionnaire</em> (HLQ), sedangkan data tekanan darah, gula darah puasa (GDP), dan HbA1c diperoleh dari rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Fisher’s Exact Test</em> dengan tingkat kemaknaan p&lt;0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan obat berhubungan signifikan dengan tekanan darah (p=0,013), GDP (p=0,045), dan HbA1c (p=0,005). Gaya hidup juga berhubungan signifikan dengan tekanan darah (p=0,000), GDP (p=0,022), dan HbA1c (p=0,000). Disimpulkan bahwa kepatuhan obat dan gaya hidup memiliki hubungan signifikan dengan pengendalian tekanan darah, GDP, dan HbA1c pada pasien Prolanis hipertensi dan diabetes melitus di Puskesmas Soko.</p> Maya Hapsari Titi Agni Hutahaen Ria Indah Kusuma Pitaloka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2134 2142 10.63004/hrji.v4i6.1511 Dampak Pernikahan Anak pada Kesehatan Mental: Scoping Review Mengenai Dampak Psikologis dan Emosional https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1482 <p>Praktik pernikahan anak masih menjadi perhatian dalam aspek kesehatan masyarakat karena berbagai dampaknya pada anak yang menikah di usia dini. Pernikahan anak didefinisikan sebagai pernikahan baik secara formal maupun informal sebelum usia 18 tahun yang saat ini masih menjadi isu global dengan berbagai dampaknya pada kesehatan mental pengantin muda, khususnya perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor dan mensintesis bukti dampak kesehatan mental yang berhubungan dengan pernikahan dini dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendasari munculnya dampak tersebut. Penelitian ini merupakan scoping review menggunakan diagram PRISMA untuk mengidentifikasi artikel yang relevan dari PubMed, Scopus, dan Google Scholar. Sebanyak 11 artikel di analisis dalam studi ini. Hasil sintesis dari 11 artikel terpilih menunjukkan bahwa pernikahan dini berhubungan dengan kondisi psikologis termasuk meningkatkan risiko stres, depresi, dan kecemasan akibat dari kehilangan otonomi, terbatasnya akses pendidikan, permasalahan ekonomi, dan konflik keluarga. Pengantin muda lebih rentan terhadap kekerasan yang mana memperburuk masalah kesehatan mental yang mereka alami. Temuan penilitian ini menegaskan pentingkan intervensi yang komprehensif untuk mengatasi dampak kesehatan mental dari pernikahan anak.</p> Lintang Qusnul Budi Setiawati Muthmainnah Muthmainnah Yuli Puspita Devi Elok Dzul Afifah Alifia Irbah Imtinani Rachel Amanda Roma Yuliana Ikrimah Nafilata Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2143 2154 10.63004/hrji.v4i6.1482 Efek Pemberian Suspensi Ekstrak Kulit Pisang Goroho (Musa acuminata) Sebagai Antihiperglikemia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1477 <p>Hiperglikemia merupakan kondisi peningkatan kadar glukosa darah yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kronis. Kulit pisang goroho (<em>Musa acuminata</em>) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antihiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas suspensi ekstrak kulit pisang goroho dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan 9 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kontrol negatif (NaCMC 1%), kontrol positif (glibenklamid 0,65 mg/kgBB), dan kelompok perlakuan yang diberi suspensi ekstrak kulit pisang goroho dosis 400 mg/kgBB. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada T0, T30, T60, T90, dan T120 menggunakan glukometer. Data dianalisis berdasarkan selisih rata-rata penurunan kadar glukosa darah antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok mengalami peningkatan kadar glukosa pada T30, kemudian menurun hingga T120. Kelompok ekstrak kulit pisang goroho menunjukkan penurunan kadar glukosa darah yang lebih baik dibandingkan kontrol negatif dan pada beberapa interval waktu hampir setara dengan kontrol positif. Disimpulkan bahwa suspensi ekstrak kulit pisang goroho memiliki aktivitas antihiperglikemia dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan alam untuk membantu pengendalian kadar glukosa darah.</p> Ahlan Sangkal Nadia Ayuwanda Syahputri Akune Salwa Asiking Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2155 2160 10.63004/hrji.v4i6.1477 Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Teripang (Holothuroidea) Dengan Metode Test Toleransi Glukosa Peroral https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1476 <p>Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Penggunaan obat antidiabetes sintetik dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif terapi berbahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol teripang (Holothuroidea) menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Peroral (TTGO). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan mencit putih jantan yang dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (Na-CMC 1%), kontrol positif (glibenkamid), dan kelompok perlakuan ekstrak etanol teripang. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada menit ke 0, 30, 60, 90, dan 120 setelah pemberian glukosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok ekstrak etanol teripang mengalami penurunan kadar glukosa darah dari 187,33 mg/dL pada menit ke-30 menjadi 87,67 mg/dL pada menit ke-120. Hasil tersebut lebih baik dibandingkan kontrol negatif yang memiliki kadar glukosa darah 126,67 mg/dL pada menit ke-120 dan mendekati efektivitas kontrol positif dengan kadar glukosa darah 79,67 mg/dL. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol teripang (<em>Holothuroidea</em>) memiliki aktivitas antihiperglikemik dan berpotensi dikembangkan sebagai agen antidiabetes alami.</p> Ahlan Sangkal Suharyanto Tri Utama Ria Rezki Botutihe Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2161 2166 10.63004/hrji.v4i6.1476 Identifikasi Risiko Ergonomi Dan Program Kesehatan Pada Pekerja Pt X Industri Farmasi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1414 <p>Pekerja industri farmasi berisiko mengalami Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs) akibat postur kerja tidak ergonomis yang berlangsung dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko ergonomi postur kerja pada lima posisi jabatan di PT X Industri Farmasi menggunakan instrumen GOTRAK (SNI 9011:2021) dan menyusun program kesehatan kerja berbasis hasil tersebut. Metode yang digunakan adalah observasi ergonomi deskriptif kuantitatif dengan pengukuran langsung di tempat kerja, penilaian risiko melalui matriks 5×5, dan penyusunan strategi pengendalian berbasis hierarki K3 sesuai PP No. 28 Tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh posisi jabatan memperoleh skor GOTRAK dalam kategori "Perlu Pengamatan" (skor 5–6), kecuali posisi Scientist yang mencapai skor 7 (kategori "Berbahaya") dengan risiko awal sangat tinggi (RR = 16). Posisi Operator Cetak Tablet, Operator Coating, dan Packer memiliki risiko awal tinggi (RR = 12), sementara Operator Cleaning berada pada risiko sedang (RR = 6). Bahaya ergonomi utama mencakup postur leher menunduk &gt;20°, lengan tidak tertopang, pergelangan tangan menekuk, serta duduk dan berdiri dalam durasi lama. Program kesehatan kerja yang disusun mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif sesuai Pasal 233 PP 28/2024. Simpulan penelitian ini menegaskan urgensi intervensi ergonomi terpadu dan terstruktur di lingkungan industri farmasi sebagai upaya pengendalian WMSDs secara komprehensif.</p> Hazrelia Anindya Hasibuan Shafa Mutamayyizah Anjani Keyla Mahari Nico Linggi Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2167 2177 10.63004/hrji.v4i6.1414 Hubungan Karakteristik Demografi Dengan Pengetahuan Masyarakat Tentang Regulasi Antrean Dan Kontrol JKN Berbasis Aplikasi Digital https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1339 <p><strong>Pendahuluan</strong>: BPJS telah mengembangkan sistem pelayanan terkait sistem regulasi antrean dan kontrol pasien melalui digitalisasi via aplikasi Mobile JKN .Efektivitas regulasi bergantung pada tingkat literasi kesehatan digital masyarakat yang dipengaruhi oleh kesenjangan demografi. <strong>Tujuan</strong>: untuk menganalisis hubungan karakteristik demografi (usia dan tingkat pendidikan) dengan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai regulasi antrean dan kontrol JKN berbasis digital. <strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif deskriptif korelatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> terhadap 52 responden, menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Analisis menggunakan uji <em>Chi-Square</em> melalui Jamovi. <strong>Hasil:</strong> analisis univariat menunjukkan mayoritas responden pada usia 17–25 tahun (48,1%), berpendidikan SMA/SMK/MA (67,3%), dan berpengetahuan kategori Cukup (51,9%). Hasil uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik usia dengan tingkat pengetahuan regulasi JKN digital (<em>p-value</em> = 0,038 &lt; 0,05). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan terakhir dengan tingkat pengetahuan JKN digital (<em>p-value</em> = 0,801 &gt; 0,05). <strong>Kesimpulan</strong>: Karakteristik usia menjadi penyebab utama yang memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap regulasi JKN digital, sementara tingkat pendidikan tidak menjadi jaminan literasi fungsional sistem kesehatan. Unit Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dan faskes primer perlu mengoptimalkan edukasi terstruktur berbasis kelompok usia untuk meminimalkan hambatan administratif pasien di era digital.</p> Eny Eny Gregorius Raditya Indra Prihandana Daviena Daviena Hak Cipta (c) 2026 2026-08-08 2026-08-08 4 6 2178 2184 10.63004/hrji.v4i6.1339 Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Geriatri Di Uptd Puskesmas Fajar Mulya Kabupaten Pringsewu https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1446 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak terjadi pada kelompok geriatri. Adanya penurunan fungsi organ dan penyakit penyerta menyebabkan pasien geriatri sering menerima terapi polifarmasi sehingga berisiko mengalami interaksi obat. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui potensi interaksi obat antihipertensi terhadap obat lain pada pasien geriatri di UPTD Puskesmas Fajar Mulya Kabupaten Pringsewu. <strong>Metode:</strong> Penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif dan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dan resep pasien geriatri hipertensi dengan penyakit penyerta periode Juli–Desember 2025. Sampel berjumlah 124 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. <strong>Hasil:</strong> Sebagian besar pasien berusia 60–65 tahun (41,94%), berjenis kelamin perempuan (70%), overweight (39,52%), dan mengalami hipertensi derajat 2 (64%). Penyakit penyerta terbanyak adalah myalgia (24,19%). Terapi antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah amlodipine (76%). Ditemukan 55 kasus potensi interaksi obat, terdiri atas interaksi farmakokinetik (29%) dan farmakodinamik (71%). Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi kategori moderate mendominasi (75%), diikuti minor (16%) dan mayor (9%). <strong>Simpulan:</strong> Potensi interaksi obat antihipertensi pada pasien geriatri didominasi oleh interaksi farmakodinamik dengan tingkat keparahan moderate, sehingga diperlukan pemantauan terapi obat secara berkala untuk meningkatkan keamanan pengobatan.</p> Bevvy Mutia Sari Martianus Perangin Angin Artha Meithia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2185 2194 10.63004/hrji.v4i6.1446 Determinan Perilaku Menstrual Hygiene Management Pada Remaja Putri https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1288 <p>Menstrual Hygiene Management (MHM) merupakan upaya menjaga kebersihan diri selama menstruasi untuk mencegah gangguan kesehatan reproduksi. Perilaku MHM yang kurang baik dapat meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih, dan masalah kesehatan lainnya. Berbagai faktor diduga memengaruhi perilaku MHM pada remaja putri, seperti teman sebaya, keterpaparan informasi, pengetahuan, dan sikap. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan perilaku Menstrual Hygiene Management pada remaja putri di Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 159 remaja putri. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square serta regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki perilaku MHM baik (54,1%), teman sebaya baik (52,2%), pengetahuan baik (61%), keterpaparan informasi kurang (59,1%), dan sikap negatif (53,5%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat pengaruh teman sebaya terhadap perilaku MHM (p=0,004), sedangkan keterpaparan informasi (p=0,095), pengetahuan (p=0,139), dan sikap (p=0,057) tidak berpengaruh signifikan. Analisis regresi logistik menunjukkan teman sebaya merupakan faktor determinan yang berpengaruh terhadap perilaku MHM dengan nilai OR=2,662. Disimpulkan bahwa teman sebaya merupakan faktor yang memengaruhi perilaku Menstrual Hygiene Management pada remaja putri, sedangkan keterpaparan informasi, pengetahuan, dan sikap tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.</p> Elfira Nurul Aini Anis Nur Laili Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2195 2200 10.63004/hrji.v4i6.1288 Korelasi Persepsi Dengan Tingkat Kepuasan Tenaga Farmasi Terhadap Eprescribing Di RS Imanuel Bandar Lampung https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1444 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Pelayanan farmasi yang berkualitas memerlukan dukungan sistem informasi yang mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan peresepan. <em>Electronic prescribing</em> telah diterapkan di RS Imanuel Bandar Lampung, namun persepsi dan tingkat kepuasan tenaga farmasi terhadap penggunaan sistem tersebut perlu dievaluasi. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui korelasi antara persepsi dengan tingkat kepuasan tenaga farmasi terhadap sistem <em>electronic prescribing</em> di RS Imanuel Bandar Lampung. <strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Seluruh tenaga farmasi yang memenuhi kriteria penelitian dijadikan responden, kemudian data dianalisis menggunakan uji Spearman rank. <strong>Hasil:</strong> Persepsi tenaga farmasi terhadap <em>electronic prescribing</em> berada pada kategori sangat baik dengan nilai 88,38%, sedangkan tingkat kepuasan berada pada kategori sangat puas dengan nilai 82,68%. Analisis bivariat menunjukkan adanya korelasi yang kuat dan positif antara persepsi dan tingkat kepuasan tenaga farmasi terhadap <em>electronic prescribing</em> di RS Imanuel Bandar Lampung (p=0,000). <strong>Simpulan:</strong> Semakin baik persepsi tenaga farmasi terhadap sistem electronic prescribing, semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan <em>electronic prescribing</em> di RS Imanuel Bandar Lampung telah diterima dengan sangat baik oleh tenaga farmasi dan berpotensi mendukung peningkatan mutu pelayanan kefarmasian.</p> Siti Rahayu Martianus Perangin Angin Iwang Davi Setiawan Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2201 2210 10.63004/hrji.v4i6.1444 Hubungan Pola Pengawasan Orang Tua Dan Pemakaian Gadget Terhadap Perubahan Perilaku Remaja Di Lingkungan Keluarga https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1436 <p>Remaja di era digital memiliki ketertarikan tinggi terhadap <em>gadget</em> yang berpotensi memengaruhi perilaku mereka, sementara pengawasan orang tua menjadi faktor penting dalam pengendalian perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengawasan orang tua dan pemakaian <em>gadget</em> terhadap perubahan perilaku remaja di lingkungan keluarga. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional.</em> Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di Desa Bojong Baru, dengan sampel 366 remaja yang dipilih melalui teknik <em>simple random sampling.</em> Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank dan regresi logistik multinomial. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengawasan orang tua dengan perubahan perilaku (r = 0,239; p = 0,000) dan antara pemakaian <em>gadget </em>dengan perubahan perilaku remaja (r = 0,431; p = 0,000). Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan hanya pemakaian <em>gadget</em> yang berpengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku remaja (p = 0,000), sedangkan pengawasan orang tua tidak signifikan (p = 0,103). Penelitian ini juga menemukan bahwa remaja dengan tingkat penggunaan <em>gadget</em> yang tinggi memiliki peluang 9 kali lebih besar untuk tetap menunjukkan perilaku normal. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa intensitas pemakaian <em>gadget</em> lebih berpengaruh terhadap perubahan perilaku remaja dibandingkan pengawasan orang tua. Meskipun demikian, penggunaan <em>gadget</em> yang tinggi tidak selalu berdampak negatif, tergantung pada konteks dan pola penggunaannya.</p> Siti Nurrohmah Hardin La Ramba Shinta Prawitasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2211 2217 10.63004/hrji.v4i6.1436 Analisis Risiko Kesehatan Terkait Keberadaan Tikus di Pasar Tradisional X di Kabupaten Batubara https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1421 <p>Pasar tradisional merupakan lingkungan dengan risiko tinggi penularan penyakit zoonosis, salah satunya leptospirosis yang ditularkan melalui urin tikus. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko kesehatan terkait keberadaan vektor tikus di Pasar Tradisional X Kabupaten Batu Bara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional terhadap 30 kios/los yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan lembar checklist berdasarkan Permenkes RI Nomor 17 Tahun 2020 tentang Pasar Sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 kios (53,3%) memenuhi syarat sanitasi dan 14 kios (46,7%) tidak memenuhi syarat. Komponen pencahayaan, suhu, dan kelembaban memiliki capaian tertinggi (90,0%), sedangkan fasilitas toilet dan air bersih memiliki capaian terendah (56,7%). Tanda keberadaan tikus lebih banyak ditemukan pada kios dengan kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat, terutama pada kios ikan dan ayam. Faktor yang berperan terhadap keberadaan tikus meliputi pengelolaan sampah yang kurang baik, drainase yang tidak memadai, sisa pangan terbuka, dan celah pada bangunan kios. Disimpulkan bahwa kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik merupakan indikator risiko utama terhadap keberadaan vektor tikus sehingga diperlukan perbaikan sanitasi dan pengendalian vektor secara berkelanjutan.</p> Zalfa Syahirah Meutia Nanda Fazra Syahlin Monnavia Rorisa Fiha Fauzia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2218 2225 10.63004/hrji.v4i6.1421 Hubungan Lama Pemasangan Kateter Urin Dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih Pada Pasien Pascaoperasi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1466 <p>Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi nosokomial yang paling sering terjadi pada pasien pascaoperasi yang menggunakan kateter urin menetap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama pemasangan kateter urin dengan kejadian ISK pada pasien pascaoperasi di RSUD Puruk Cahu. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (<em>cross-sectional</em>). Sampel penelitian berjumlah 30 pasien pascaoperasi yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung, telaah rekam medis, dan pemeriksaan laboratorium urin, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 19 pasien dengan lama pemasangan kateter ≤3 Hari, sebanyak 2 orang (10,5%) mengalami ISK, sedangkan dari 11 pasien dengan lama pemasangan kateter &gt;3 hari, sebanyak 7 orang (63,6%) mengalami ISK. Analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara lama pemasangan kateter urin dengan kejadian ISK (p = 0,008). Pasien dengan lama pemasangan kateter lebih dari tiga hari memiliki peluang mengalami ISK sebesar 14,88 kali dibandingkan dengan pasien dengan lama pemasangan kateter tiga hari atau kurang (OR = 14,88; IK95%: 2,20–100,20). Pelepasan kateter sedini mungkin serta penerapan protokol pencegahan infeksi secara konsisten direkomendasikan untuk menurunkan kejadian ISK pada pasien pascaoperasi.</p> Ari Sandy Pratama Rian Tasalim Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2226 2232 10.63004/hrji.v4i6.1466 Hubungan Pola Makan dengan Kekambuhan Dispepsia di Praktek Dokter Bersama Sekarpuro Malang https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1504 <p>Dispepsia merupakan gangguan saluran cerna yang sering kambuh dan dapat mengganggu aktivitas serta kualitas hidup penderitanya. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap kekambuhan dispepsia adalah pola makan yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola makan dengan kekambuhan dispepsia di Praktek Dokter Bersama Sekarpuro, Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em> pada April–Mei 2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola makan dan kekambuhan dispepsia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pola makan tidak teratur (60,0%) dan sering mengalami kekambuhan dispepsia (53,3%). Responden dengan pola makan tidak teratur sebagian besar sering mengalami kekambuhan dispepsia (77,8%), sedangkan responden dengan pola makan teratur sebagian besar jarang mengalami kekambuhan (54,2%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan kekambuhan dispepsia (p=0,017). Pola makan yang tidak teratur berhubungan dengan meningkatnya risiko kekambuhan dispepsia.</p> Zahwa Khoirul Armelia Musthika Wida Mashitah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-11 2026-08-11 4 6 2233 2238 10.63004/hrji.v4i6.1504 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri MTS Darussalam Lamongan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1647 <p>Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Pencegahan perlu dilakukan sejak dini karena anemia dapat memengaruhi prestasi belajar dan kesehatan remaja putri. Tingkat pengetahuan tentang anemia berperan dalam membentuk perilaku pencegahan yang dapat memengaruhi risiko terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri di MTs Darussalam Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan <em>cross sectional.</em> Populasi penelitian adalah seluruh siswi sebanyak 87 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan alat digital <em>Easy Touch</em> GCHb. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Chi-square</em> melalui SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada responden yang sudah mengalami menstruasi, sebanyak 24 responden (35,8%) mengalami anemia dan 43 responden (64,2%) tidak mengalami anemia. Tingkat pengetahuan responden yaitu kategori kurang 20%, sedang 43%, dan baik 37% dengan <em>p-value </em>0,003 (p&lt;0,05). Pada responden yang belum mengalami menstruasi, sebanyak 30,0% mengalami anemia dan 70,0% tidak mengalami anemia. Tingkat pengetahuan responden yaitu kategori kurang 10%, sedang 65%, dan baik 25% dengan <em>p-value</em> 0,633 (p&gt;0,05). Hasil tersebut menunjukkan terdapat hubungan signifikan pada responden yang sudah mengalami menstruasi, namun tidak pada responden yang belum mengalami menstruasi.</p> Hariyani Hariyani Dwi Evi Diyan Sari Dian Mustofani Rosa Juwita Hesturini Desi Kusumawati Henni Wati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-13 2026-08-13 4 6 2239 2246 10.63004/hrji.v4i6.1647 The Efektivitas Kompres Hangat dan Tepid Water Sponge pada Anak dengan Dengue Hemorrhagic Fever: Studi Kasus https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1450 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit infeksi yang banyak menyerang anak dan ditandai dengan demam tinggi. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis seperti kompres hangat dan teknik tepid sponge sering digunakan, namun bukti perbandingan efektivitas keduanya masih terbatas. <strong>Tujuan:</strong> Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas kompres hangat konvensional dan teknik tepid sponge dalam menurunkan suhu tubuh pada anak dengan DHF. <strong>Metode:</strong> Desain studi kasus deskriptif komparatif pada dua pasien anak dengan DHF yang di ruang rawat inap RS Indriati Solo Baru. Masing-masing pasien diberikan intervensi berbeda selama tiga hari. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan termometer digital, serta respon subjektif dan objektif dicatat melalui lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan perubahan suhu tubuh antar intervensi. <strong>Hasil:</strong> Kedua intervensi terbukti efektif menurunkan suhu tubuh. Pada pasien dengan kompres hangat, suhu menurun dari 38,9°C menjadi 37,2°C dengan rata-rata penurunan 0,87°C. Pada pasien dengan tepid sponge, suhu menurun dari 39,7°C menjadi 37,4°C dengan rata-rata penurunan 1,20°C. Respon klinis menunjukkan perbaikan kondisi, termasuk penurunan nadi dan peningkatan aktivitas. <strong>Simpulan:</strong> Teknik tepid sponge lebih efektif dalam menurunkan suhu tubuh dibandingkan kompres hangat, meskipun kompres hangat lebih nyaman bagi pasien anak.</p> Fardani Nur Annisa Irdawati Irdawati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2247 2253 10.63004/hrji.v4i6.1450 Pengaruh Terapi Mewarnai Mandala Dikombinasikan Self-Efficacy Terhadap Rata-Rata Skor Kecemasan Akademik Siswa SMAN 6 Tasikmalaya https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1439 <p>Latar Belakang: Kecemasan akademik merupakan masalah psikologis yang sering dialami siswa sekolah menengah atas akibat tuntutan akademik, persaingan masuk perguruan tinggi, serta kurangnya keyakinan terhadap kemampuan diri. Terapi mewarnai mandala sebagai bagian dari art therapy dapat membantu mengalihkan perhatian, meningkatkan fokus, dan memberikan efek relaksasi, sedangkan <em>self efficacy</em> meningkatkan keyakinan individu dalam menghadapi tuntutan akademik. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi mewarnai mandala dikombinasikan dengan <em>self efficacy</em> terhadap skor kecemasan akademik pada siswa kelas XI SMAN 6 Tasikmalaya. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experimental pre test-post test with control group design. Sampel berjumlah 40 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol masing-masing 20 responden menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan <em>Hamilton Anxiety Rating Scale</em> (HARS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test dan Mann–Whitney U Test. Hasil: Rata-rata skor kecemasan kelompok intervensi menurun dari 23,00 menjadi 20,20, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 24,40 menjadi 27,75. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan skor post test antarkelompok (p=0,000; p&lt;0,05). Kesimpulan: Terapi mewarnai mandala dikombinasikan dengan <em>self efficacy</em> efektif menurunkan kecemasan akademik pada siswa kelas XI SMAN 6 Tasikmalaya.</p> Fitriyana Noer Peni Cahyati Ridwan Kustiawan Asep Riyana Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2254 2263 10.63004/hrji.v4i6.1439 Intervensi Kompres Dingin Dan Distraksi Audiovisual Terhadap Nyeri Pemasangan Infus Anak Thalasemia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1440 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Anak dengan Thalasemia memerlukan transfusi darah rutin yang mengharuskan pemasangan infus berulang. Prosedur ini sering menimbulkan nyeri, kecemasan, dan trauma. Kompres dingin dan distraksi audiovisual merupakan intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri selama pemasangan infus. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui pengaruh kompres dingin dan distraksi audiovisual terhadap tingkat nyeri pemasangan infus pada anak Thalasemia usia sekolah di RS Prasetya Bunda Tasikmalaya. <strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif dengan desain <em>quasi-experimental Two Group Post-test Only Design</em>. Sampel berjumlah 42 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling, terdiri atas 21 responden kelompok intervensi dan 21 responden kelompok kontrol. Tingkat nyeri diukur menggunakan <em>Wong-Baker FACES Pain Rating Scale</em> dan dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U. <strong>Hasil:</strong> Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi sebesar 1,52 (median 2,00), sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 8,10 (median 8,00). Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai p &lt; 0,05 yang berarti terdapat perbedaan tingkat nyeri yang signifikan antara kedua kelompok. <strong>Kesimpulan:</strong> Kompres dingin dan distraksi audiovisual efektif menurunkan tingkat nyeri pemasangan infus pada anak Thalasemia usia sekolah.</p> Fahril Fadilah Setiawan Ida Rosdiana Novi Enis Rosuliana Dini Mariani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2264 2272 10.63004/hrji.v4i6.1440 Hubungan Dukungan Suami dengan Keikutsertaan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Anjir Pasar https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1468 <p>Angka kematian ibu hamil di Indonesia masih menjadi penyumbang terbesar, salah satu penyebabnya adalah terlambatnya deteksi kegawatdaruratan kehamilan. Hal ini sebenarnya bisa dicegah dengan melakukan kontrol rutin selama kehamilan dan salah satunya melalui keikutsertaan kelas ibu hamil. Dukungan dari suami berperan sangat besar dalam memberikan motivasi ibu hamil untuk mengikuti kelas ibu hamil dan menentukan status kesehatan ibu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan suami dengan keikutsertaan kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Anjir Pasar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 44 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji <em>chi square. </em>Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak teratur dalam mengikuti kelas ibu hamil, yaitu sebanyak 25 orang (56,8%), sedangkan yang tidak teratur sebanyak 19 orang (43,2%) dan dukungan suami yang tinggi sebanyak 27 orang (61,4%), sedangkan suami kurang mendukung sebanyak 17 orang (38,6%). Hasil statistik menunjukkan nilai <em>p value</em> = 0,002. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan dukungan suami dengan keikutsertaan kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Anjir Pasar. Dukungan suami yang dapat diberikan pada ibu hamil bisa dalam bentuk dukungan emosional, instrumental, penilaian dan informasional.</p> Frani Mariana Putri Yuliantie Hayatun Nufus Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2273 2278 10.63004/hrji.v4i6.1468 Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Ibu dalam Pemberian Zink pada Balita Diare https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1607 <p>Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada balita. Pemberian zink selama sepuluh hari direkomendasikan sebagai pengobatan diare, namun kepatuhan ibu dalam memberikan zink sesuai anjuran masih menjadi tantangan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam pemberian zink pada balita yang mengalami diare di UPTD. Puskesmas Sikumana. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 31 ibu balita diare dan dipilih menggunakan teknik <em>consecutive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em>, <em>Fisher’s Exact Test</em>, dan <em>Fisher-Freeman-Halton Exact Test</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 responden (58,1%) tidak patuh, sedangkan 13 responden (41,9%) patuh dalam pemberian zink. Pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan ibu (p=0,013). Sebaliknya, usia (p=0,875), tingkat pendidikan (p=0,271), jumlah anak (p=0,676), status pekerjaan (p=0,470), akses pelayanan kesehatan (p=0,275), status ekonomi (p=0,137), sikap (p=0,245), dukungan keluarga (p=1,000), dan dukungan tenaga kesehatan (p=0,493) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Sebagian besar ibu belum patuh terhadap anjuran pemberian zink, dan pengetahuan ibu merupakan faktor utama yang berhubungan dengan kepatuhan tersebut.</p> Diva Mayjesti Osborn Seubelan Magdarita Riwu Nurul Fatmawati Pua Upa Audrey Gracelia Riwu Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2279 2290 10.63004/hrji.v4i6.1607 Model Edukasi Kritis Etnofarmasi dan Stunting Berbasis Budaya Dawan di SMP Kristen 3 Soe https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1745 <p>Stunting berakar dari masalah gizi remaja yang diperparah oleh kurangnya literasi dan mitos kesehatan. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengeksplorasi implementasi edukasi kritis kesehatan reproduksi dan gizi berbasis budaya lokal Dawan di SMP Kristen 3 Soe dengan 26 siswi kelas IX sebagai informan. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi pemahaman kognitif yang mendalam, terutama dalam mengurai miskonsepsi mitos stunting dari 34,6% menjadi internalisasi 88,5%. Aspek sikap informan menunjukkan pergeseran positif berupa kebanggaan mengonsumsi pangan lokal hingga 100%, yang termanifestasi dalam konsistensi tindakan nyata menjaga kebersihan reproduksi, mengonsumsi sayur hijau kaya zat besi, dan kepatuhan minum tablet tambah darah. Simpulan penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan edukasi berbasis ilmu farmasi dan kearifan lokal Dawan berhasil membangun kesadaran kritis serta perilaku preventif remaja putri sebagai strategi solutif memutus mata rantai stunting.</p> Barbara Azalya Sarifudin Sonni Maurit Benu Yohanes Karolus Tokan Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2291 2300 10.63004/hrji.v4i6.1745 Faktor Risiko Stunting Pada Balita Di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1388 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Kabupaten Seluma merupakan salah satu wilayah lokus percepatan penurunan stunting dengan prevalensi stunting sebesar 24,7%. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko stunting pada anak balita. <strong>Metode:</strong> Desain penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Terdapat 106 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, data sekunder dari buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Puskesmas, dan Posyandu, serta pemeriksaan kadar hemoglobin. Data dianalisis menggunakan uji <em>chi-square</em> untuk variabel dengan data nominal, dan uji <em>Kendalls-Tau</em> untuk data ordinal. Kemudian, uji multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 106 responden penelitian, terdapat 58,5% kasus stunting. Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting dalam penelitian ini, yaitu status gizi ibu saat hamil (0,000), riwayat anemia saat hamil (0,000), dan Hb ibu saat menyusui (0,000). Faktor risiko yang paling berpengaruh dalam penelitian ini adalah status gizi ibu saat hamil yang memiliki pengaruh terbesar dengan nilai Exp. B = 11,937. <strong>Kesimpulan:</strong> Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah status gizi ibu saat hamil, riwayat anemia saat hamil, dan Hb ibu saat menyusui.</p> Yetti Purnama Rina Delfina Rostika Flora Linda Yulyani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-15 2026-08-15 4 6 2301 2307 10.63004/hrji.v4i6.1388 Formulasi Gel Ekstrak Binahong (Anredera cordifolia) Dan Minyak Atsiri (Citrus hystrix) Untuk Penyembuhan Luka Hiperglikemia https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1454 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Ekstrak daun binahong kaya akan flavonoid yang memiliki aktivitas antiinflamasi, sementara minyak atsiri kulit buah jeruk purut mengandung limonen sebagai antioksidan. Kombinasi keduanya dalam gel diharapkan secara sinergis meningkatkan penyembuhan luka pada kondisi hiperglikemia. <strong>Tujuan</strong>: memformulasi gel kombinasi, mengevaluasi sifat fisik, dan menguji aktivitasnya pada tikus putih hiperglikemia. <strong>Metode:</strong> Penelitian eksperimental dengan purposive sampling. Lima formulasi gel dibuat dengan variasi konsentrasi total 0% (basis), 5% (2,5:2,5), dan 10% (7,5:2,5; 2,5:7,5; 5:5). Evaluasi sifat fisik meliputi organoleptis, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, dan stabilitas. Uji aktivitas menggunakan 24 tikus jantan yang diinduksi aloksan 150 mg/kgBB dan dibuat luka bedah. Hewan dibagi enam kelompok: kontrol positif Bioplacenton, kontrol negatif basis, serta empat kelompok perlakuan dengan variasi konsentrasi. Pengamatan penyusutan panjang luka dilakukan selama 5 hari. <strong>Hasil:</strong> seluruh formulasi memenuhi standar mutu sifat fisik yang ditetapkan. Uji aktivitas menunjukkan bahwa kelima formula efektif mempercepat penyembuhan luka dengan hasil yang signifikan secara statistik (p=0,002). Uji post hoc mengungkapkan bahwa formula F4 dengan konsentrasi 5:5% memberikan pengaruh paling signifikan dibandingkan formula lainnya. <strong>Kesimpulan:</strong> sediaan gel kombinasi ekstrak binahong dan minyak atsiri jeruk purut berhasil diformulasi dengan sifat fisik baik dan terbukti efektif sebagai terapi topikal untuk penyembuhan luka pada tikus hiperglikemia.</p> Yaya Sulthon Aziz Erna Agung Rakhmawati Chairunnisa Ayu Saputri Mareta Lucky Wijayanti Farhan Huda Lilmuttaqin Hak Cipta (c) 2026 2026-08-17 2026-08-17 4 6 2308 2314 10.63004/hrji.v4i6.1454 Identifikasi Bakteri Nosokomial Pada Tempat Tidur Pasien Ruang Perawatan Anak RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1635 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Infeksi yang didapatkan saat pasien menerima perawatan di fasilitas medis dikenal sebagai infeksi nosokomial, atau infeksi terkait perawatan kesehatan (HAIs). Terutama di bangsal pediatrik tempat anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang berada, tempat tidur pasien dapat berfungsi sebagai reservoir bagi mikroorganisme yang menyebabkan infeksi. <strong>Tujuan:</strong> Mengidentifikasi bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial pada permukaan tempat tidur pasien di Ruang Perawatan Anak RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda.<strong> Metode: </strong>Penelitian observasional deskriptif menggunakan 40 sampel swab permukaan kasur yang diambil dengan teknik <em>total sampling</em>. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kultur pada media <em>Blood Agar</em> dan <em>MacConkey Agar</em>, dilanjutkan pewarnaan Gram dan uji biokimia.<strong> Hasil: </strong>Seluruh sampel (100%) menunjukkan pertumbuhan pada <em>Blood Agar</em>, sedangkan (57,5%) tumbuh pada <em>MacConkey Agar</em>. Bakteri Gram negatif lebih dominan (57,5%) dibandingkan Gram positif (42,5%). Spesies yang ditemukan meliputi <em>Pseudomonas</em> sp. (30%), <em>Staphylococcus aureus</em> (22,5%), <em>Klebsiella</em> sp. (12,5%), <em>Streptococcus </em>sp. (10%), <em>Bacillus </em>sp. (10%), <em>Acinetobacter</em> sp. (7,5%), dan <em>Citrobacter </em>sp. (7,5%).<strong> Simpulan: </strong>Permukaan tempat tidur pasien di ruang perawatan anak terkontaminasi berbagai bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial, dengan dominasi <em>Pseudomonas</em> sp.</p> Reva Medyana Tiara Dini Harlita Nursalinda Kusumawati I Gede Andika Sukarya Hak Cipta (c) 2026 2026-08-17 2026-08-17 4 6 2315 2322 10.63004/hrji.v4i6.1635 Hubungan Efektivitas Terhadap Interaksi Obat Antihipertensi Golongan ARB Dengan NSAID Dirumah Sakit X Banjarbaru https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1549 <p>Interaksi obat merupakan salah satu penyebab utama reaksi merugikan akibat obat (<em>adverse drug interaction</em>), yang terjadi ketika suatu obat memengaruhi farmakokinetik atau farmakodinamik obat lain sehingga mengubah efeknya. Kombinasi <em>Angiotensin Receptor Blocker</em> (ARB) dengan <em>Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drug</em> (NSAID) berpotensi memengaruhi keberhasilan terapi hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka kejadian, mekanisme, tingkat keparahan, serta hubungan efektivitas terhadap interaksi obat ARB–NSAID di Rumah Sakit X Banjarbaru. Penelitian retrospektif ini menggunakan data rekam medis Januari–Desember 2024 pada 60 pasien rawat inap, terdiri atas 30 pasien yang menerima terapi ARB dan 30 pasien yang menerima kombinasi ARB–NSAID. Data yang dianalisis meliputi tekanan darah pasien hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi obat pada pasien yang menerima kombinasi ARB–NSAID. Seluruh interaksi termasuk mekanisme farmakodinamik dengan tingkat keparahan moderate (100%). Hasil uji Chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan antara interaksi obat ARB–NSAID dan efektivitas terapi antihipertensi (p = 0,001; p &lt; 0,05). Disimpulkan bahwa kombinasi ARB–NSAID berpotensi menurunkan efektivitas terapi antihipertensi sehingga penggunaannya memerlukan pemantauan klinis.</p> Novianty Amelia Sari Wahyunita Syahrizal Ramadhani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-17 2026-08-17 4 6 2323 2330 10.63004/hrji.v4i6.1549 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Audio-Visual Terhadap Pengetahuan BSE Remaja Putri SMKN 2 Kediri https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1498 <p>Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang paling sering terjadi pada wanita dan dapat dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (Breast Self-Examination/BSE). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual terhadap pengetahuan BSE pada remaja putri di SMKN 2 Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan metode pra-eksperimental dengan desain one-group pretest-posttest. Sebanyak 50 responden dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil penelitian menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p&lt;0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Pengetahuan responden meningkat setelah diberikan pendidikan kesehatan melalui media audiovisual. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan media audiovisual berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan BSE pada remaja putri dan berpotensi menjadi media edukasi yang efektif untuk mendukung deteksi dini kanker payudara.</p> Deffania Putri Ramadhani Eny Sendra Dwi Estuning Rahayu Indah Rahmaningtyas Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2331 2337 10.63004/hrji.v4i6.1498 Hubungan Status Gizi dan Stimulasi terhadap Perkembangan Balita melalui KPSP https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1586 <p>Status gizi dan stimulasi pada balita memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan balita. Status gizi yang baik mendukung perkembangan anak yang optimal, sedangkan status gizi buruk dapat menghambatnya. Begitu juga dengan stimulasi yang baik dilakukan dengan penuh kasih sayang, aman, menyenangkan tanpa paksaan, dan disesuaikan dengan usia. Penelitian ini menggunakan desain yang bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data primer yang dilakukan melalui pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 orang. Analisa yang digunakan adalah univariat dan bivariat, dengan menggunakan <em>chi square</em>. Hasil penelitian didapatkan bahwa Ada Hubungan yang bermakna antara Status Gizi dengan Perkembangan Motorik Kasar pada Balita (P-Value = 0,021), Motorik Halus pada Balita (P-Value = 0,002), Perkembangan Bahasa pada Balita (P-Value = 0,012), Perkembangan Sosialisasi dan Kemandirian pada Balita (P- Value = 0,021). Kemudian terdapat hubungan yang bermakna antara Stimulasi dengan Perkembangan Motorik Kasar pada Balita (P-Value = 0,000), Perkembangan Motorik Halus pada Balita (P-Value = 0,000), Perkembangan Bahasa pada balita (P- Value = 0,000) dan Perkembangan sosialisasi dan kemandirian pada Balita (P-Value = 0,000). Simpulan penelitian ini mengindikasikan adanya hubungan yang cukup erat antara status gizi dan stimulasi terhadap perkembangan balita.</p> Yessy Octa Fristika Fariha Nuzulul Hinisa Hak Cipta (c) 2026 2026-08-19 2026-08-19 4 6 2339 2346 10.63004/hrji.v4i6.1586 Profil Metabolit Ekstrak n-Heksan Kulit Batang Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) Berdasarkan Analisis GC-MS https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1595 <p>Faloak (<em>Sterculia quadrifida</em> R.Br.) merupakan tanaman obat khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang bagian kulit batangnya banyak dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, namun penelitian sebelumnya masih berfokus pada ekstrak polar sehingga profil senyawa nonpolar belum banyak diungkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil metabolit ekstrak n-heksan kulit batang faloak asal Pulau Rote menggunakan metode <em>Gas Chromatography-Mass Spectrometry</em> (GC-MS). Penelitian bersifat deskriptif kualitatif; sampel diekstraksi melalui metode maserasi menggunakan pelarut n-heksan, kemudian dianalisis menggunakan instrumen Thermo Fisher Trace 1610 GC-ISQ 7610 dengan kolom kapiler TG-5MS, dan senyawa diidentifikasi berdasarkan basis data NIST/EPA/NIH <em>Mass Spectral Library</em>. Hasil ekstraksi menghasilkan rendemen sebesar 0,025% dengan 202 komponen total, di mana 12 senyawa dominan didominasi oleh golongan asam lemak dan ester asam lemak, dengan kadar relatif tertinggi pada <em>trans-13-Octadecenoic acid</em> (7,67%) dan <em>n-Hexadecanoic acid</em> (4,67%), sementara golongan alkana dan hidrokarbon siklik terdeteksi pada waktu retensi awal dengan kadar kumulatif lebih dari 28%. Profil metabolit ini menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan kulit batang faloak berpotensi dikembangkan sebagai kandidat bahan baku obat alami, meskipun seluruh potensi aktivitas farmakologi masih bersifat referensial dan memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui pengujian bioaktivitas secara langsung.</p> Agnes Katarina Putri Fernandez Muhajirin Dean Nurul Fatmawati Pua Upa Antonius R.B. Ola Hak Cipta (c) 2026 2026-08-20 2026-08-20 4 6 2347 2353 10.63004/hrji.v4i6.1595 Persepsi Siswa Terhadap Pertolongan Pertama Sinkop Pada Siswa Kelas Viii Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bojonggede https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1337 <p>Sinkop merupakan kehilangan kesadaran sementara akibat berkurangnya aliran darah ke otak yang sering terjadi pada usia sekolah. Kurangnya pengetahuan dan pengalaman siswa dapat memengaruhi tindakan pertolongan pertama yang diberikan saat kejadian sinkop di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pertolongan pertama pada kejadian sinkop di SMPN 1 Bojonggede. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipan berjumlah 20 siswa kelas VIII SMPN 1 Bojonggede yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan lima tema utama, yaitu pengetahuan siswa mengenai sinkop, pengetahuan tindakan pertolongan pertama, pengalaman siswa terhadap pertolongan pertama sinkop, sikap dan respons siswa saat melihat korban sinkop, serta keyakinan untuk menolong. Sebagian besar siswa memahami sinkop sebagai kondisi kehilangan kesadaran akibat kelelahan, kurang makan, kurang istirahat, dan paparan panas. Siswa juga mengetahui tindakan dasar pertolongan pertama seperti membaringkan korban, meninggikan kaki, melonggarkan pakaian, serta memanggil bantuan. Namun, sebagian siswa masih merasa ragu untuk memberikan pertolongan karena takut melakukan kesalahan. Dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap pertolongan pertama sinkop tergolong cukup baik, namun masih diperlukan edukasi dan pelatihan yang terstruktur untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri siswa dalam memberikan pertolongan pertama.</p> Erlita Dianty Hardin La Ramba Shinta Prawitasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-20 2026-08-20 4 6 2354 2360 10.63004/hrji.v4i6.1337 Hubungan Kebisingan Kamar Mesin dengan Stres Kerja Teknisi: Dasar Penyusunan Program Kesehatan Kerja PT X https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1391 <p>Kamar mesin kapal kargo merupakan lingkungan kerja dengan risiko paparan kebisingan tinggi yang berpotensi menimbulkan stres kerja pada teknisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan paparan kebisingan di kamar mesin kapal kargo PT X dengan indikator stres kerja teknisi serta menyusun program kesehatan kerja berbasis HIRADC. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lima informan yang dipilih secara <em>purposive</em>, meliputi <em>Chief Engineer</em>, teknisi kamar mesin, dan petugas QSHE (<em>Quality, Safety, Health, and Environment</em>). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi pada tahun 2026 serta telaah pengukuran kebisingan sekunder tahun 2020 yang diposisikan sebagai baseline teknis historis, bukan estimasi pajanan personal terkini. Hasil pengukuran historis menunjukkan seluruh titik yang diukur di area kamar mesin melampaui NAB 85 dBA, dengan nilai tertinggi 100,5 dBA. Analisis HIRADC mengidentifikasi dua proses kerja berkategori <em>Extreme Risk</em> dan dua proses berkategori <em>High Risk</em>. Triangulasi data mengindikasikan keterkaitan kontekstual antara kebisingan dan keluhan kelelahan, gangguan tidur, tinnitus, gangguan komunikasi, serta potensi penurunan konsentrasi; namun kesenjangan waktu data dan ketiadaan dosimetri personal terkini membatasi penarikan kesimpulan kausal. Berdasarkan temuan tersebut, disusun <em>Hearing Conservation Program</em> dan Program <em>Medical Surveillance</em> yang terintegrasi dalam lima pilar upaya kesehatan kerja sesuai PP No. 28 Tahun 2024 guna mendukung penurunan risiko secara berkelanjutan.</p> Nur Alfaiz Gabriel Yesa Agustin Napitupulu Nico Linggi Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-20 2026-08-20 4 6 2361 2374 10.63004/hrji.v4i6.1391 Pengaruh Edukasi Diet Rendah Garam terhadap Tingkat Pengetahuan Pasien Hipertensi di Puskesmas Limboto Kabupaten Gorontalo https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1442 <p>Hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan global yang besar, dimana salah satu akar masalahnya yakni rendahnya pengetahuan pasien mengenai manajemen nutrisi berupa pembatasan asupan garam (natrium). Pengelolaan diet rendah garam sebagai strategi non-farmakologis untuk mengendalikan tekanan darah, karena konsumsi garam yang berlebih merupakan faktor utama yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi diet rendah garam terhadap tingkat pengetahuan pasien hipertensi di Puskesmas Limboto, Kabupaten Gorontalo. Desain penelitian menggunakan <em>quasi-experimental</em> dengan rancangan <em>one group pre-test post-test</em> pada 64 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Intervensi yang diberikan berupa edukasi menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan media leaflet selama 60 menit. Pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner sebanyak 20 item pertanyaan, kemudian data dianalisis menggunakan uji <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em>. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan pre-test sebesar 58,75 meningkat menjadi 84,63 rata-rata skor pengetahuan post-test, dengan proporsi responden dengan kategori pengetahuan baik dari 20,31% menjadi 76,56% setelah intervensi dengan hasil uji statistik diperoleh <em>p-value</em> sebesar 0,000 (p&lt;0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi diet rendah garam secara terstruktur memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan pasien hipertensi. Intervensi keperawatan ini terbukti efektif digunakan sebagai upaya promotif dan preventif pada pelayanan kesehatan primer.</p> Erwin Purwanto Nurdiana Djamaluddin Nirwanto K. Rahim Maryadi Maryadi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-20 2026-08-20 4 6 2375 2381 10.63004/hrji.v4i6.1442 Konstruksi Motivasi Fungsional dan Estetika dalam Pengambilan Keputusan Perawatan Ortodontik: Studi Sosiokultural pada Masyarakat Sumatera Barat https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1499 <p>Perawatan ortodonti kini tidak hanya menjadi kebutuhan medis, tetapi juga bagian dari konstruksi estetika diri yang dipengaruhi oleh faktor psikososial dan gender. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan urgensi gender dalam melakukan pengambilan keputusan untuk melakukan perawatan ortodonti. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan mengeksplorasi dan mengungkap esensi pengalaman partisipan terkait fenomena yang dialami secara langsung dalam konteks kehidupan mereka. Sebanyak 20 orang turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat cara pandang dan motif seseorang melakukan perawatan ortodonti, dimana perempuan menjalani perawatan ortodonti, yang sebagian besar bukan karena masalah fungsional pada gigi, tetapi karena alasan estetika yang dan berujung pada kepercayaan diri. Sebaliknya, laki-laki lebih banyak terdorong melakukan pemasangan behel karena kebutuhan fungsional dan profesional, seperti tuntutan pekerjaan atau adanya malfungsi oral. Peningkatan kepercayaan diri setelah pemasangan behel secara signifikan dirasakan oleh perempuan, bahkan turut berdampak pada aspek relasional dan sosial. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap kebutuhan ortodonti tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan psikologis. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam memahami perilaku kesehatan gigi berbasis gender.</p> Fuccy Utamy Syafitri Amin Akbar Muhammad Noufal Hak Cipta (c) 2026 2026-08-20 2026-08-20 4 6 2382 2390 10.63004/hrji.v4i6.1499 Dampak Pemberian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Konsentrasi Belajar Siswa SMPN 1 Temayang https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1452 <p>Masa SMP merupakan fase penting perkembangan kognitif yang sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi. Kekurangan gizi pada siswa dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, kelelahan, dan rendahnya partisipasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap konsentrasi belajar siswa SMPN 1 Temayang, Bojonegoro, Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen desain <em>One Group Pretest-Posttest</em>. Sampel berjumlah 86 siswa kelas 8 yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> dengan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan melalui angket konsentrasi belajar yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya (Alpha Cronbach ≥ 0,70). Perlakuan diberikan selama 48 hari. Hasil uji statistik deskriptif menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 101,37 (pretest) menjadi 109,40 (posttest). Uji Paired Sample T-Test menghasilkan nilai signifikansi 0,000 (p&lt;0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah perlakuan. Kesimpulannya, program MBG terbukti berdampak positif terhadap konsentrasi belajar siswa, khususnya pada indikator pemusatan pikiran, perhatian, dan pelaksanaan pembelajaran sesuai tujuan. Program ini direkomendasikan untuk diperluas ke lebih banyak sekolah, terutama di daerah terpencil.</p> Fathir Fathinsa Shihab Faridha Nurhayati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2391 2397 10.63004/hrji.v4i6.1452 Deteksi Cemaran Bakteri Pada Susu UHT Kemasan Dengan Variasi Merek, Suhu, Dan Waktu Penyimpanan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1474 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Susu <em>Ultra High Temperature</em> (UHT) memiliki masa simpan panjang dalam kemasan tertutup, namun berisiko mengalami kontaminasi mikroba setelah kemasan dibuka. <strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan mendeteksi cemaran bakteri pada susu UHT berdasarkan variasi merek, suhu, dan lama penyimpanan. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorik deskriptif dengan rancangan observasi serial waktu (<em>time series observation</em>). Penelitian menggunakan 36 unit pengamatan yang terdiri atas tiga merek susu UHT, dua kondisi suhu penyimpanan (23–26 °C dan 5–7 °C), serta enam waktu pengamatan (hari ke-0 hingga hari ke-5). Pemeriksaan meliputi pH, organoleptik, Angka Lempeng Total (ALT), dan identifikasi <em>Staphylococcus aureus</em>. <strong>Hasil:</strong> Nilai pH susu berkisar 6,108–6,934 dengan kecenderungan menurun selama penyimpanan. Perubahan organoleptik ditemukan pada penyimpanan suhu ruang hari ke-4 dan ke-5. Nilai ALT meningkat seiring bertambahnya lama penyimpanan dan lebih cepat pada suhu ruang dibandingkan suhu kulkas. Sebagian sampel mencapai kategori Terlalu Banyak Untuk Dihitung (TBUD) pada hari ke-4 dan ke-5. <em>S. aureus</em> mulai terdeteksi sejak hari ke-3 penyimpanan dan lebih cepat ditemukan pada suhu ruang. <strong>Kesimpulan</strong>: Suhu dan lama penyimpanan memengaruhi kualitas fisik dan mikrobiologis susu UHT setelah kemasan dibuka. Penyimpanan pada suhu kulkas lebih efektif mempertahankan kualitas susu dibandingkan suhu ruang.</p> Nadiya Putri Tiara Dini Harlita Ganea Qorry Aina Dwi Hendriani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2398 2405 10.63004/hrji.v4i6.1474 Pengaruh Pemberian Infusa Akar Kuning Terhadap Kadar ALT dan AST Pada Mencit Diabetes https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1633 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Penyakit metabolik jangka panjang ditandai hiperglikemia akibat gangguan masalah sekresi dikenal dengan diabetes melitus. Stres oksidatif disebabkan oleh hiperglikemia persisten mengakibatkan kerusakan hepatosit, ditandai peningkatan dari aktivitas enzim <em>Alanine Aminotransferase</em> (ALT) dan <em>Aspartate Aminotransferase</em> (AST). Akar kuning (<em>Coscinium fenestratum</em>) mengandung flavonoid dan berberin yang berfungsi sebagai antioksidan dan senyawa pelindung hati. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi adanya pengaruh dari mencit diabetes yang diberikan infusa akar kuning terhadap aktivitas enzim ALT dan AST. <strong>Metodologi: </strong>Penelitian dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen <em>posttest only control group design</em>. Mencit jantan berjumlah 32 ekor diinduksi aloksan, lalu dikelompokkan menjadi kelompok kontrol DM dan kelompok perlakuan yang memperoleh infusa akar kuning sebanyak 1 mL dua kali sehari. Kadar ALT dan AST diperiksa menggunakan metode kinetik, lalu dianalisis dengan uji <em>independent t-test</em>. <strong>Hasil</strong> <strong>: </strong>Rerata kadar ALT dalam kelompok kontrol DM adalah 94,19 U/L dan pada kelompok perlakuan sebesar 80,00 U/L. Rerata kadar AST pada kelompok kontrol DM adalah 239,50 U/L dan pada kelompok perlakuan sebesar 225,30 U/L. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada aktivitas enzim ALT dan AST antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (<em>p</em>&gt;0,05). <strong>Kesimpulan:</strong> Pemberian infusa akar kuning tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kadar ALT dan AST pada mencit diabetes.</p> Hesti Wira Sakti I Gede Andika Sukarya Tiara Dini Harlita Joko Sapto Pramono Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2406 2411 10.63004/hrji.v4i6.1633 Kajian Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter dan Tingkat Pengetahuan Masyarakat di Kelurahan Sikumana https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1622 <p>Antibiotik merupakan obat yang sering digunakan masyarakat untuk mengatasi infeksi bakteri, tetapi penggunaannya tanpa resep dokter masih tinggi dan berisiko meningkatkan resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat dan menggambarkan pola penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Peneliti mengambil 97 responden dari 10 RW di Kelurahan Sikumana menggunakan teknik cluster sampling, kemudian mengumpulkan data menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat berada pada kategori cukup baik (41%), sedangkan pola penggunaan antibiotik tanpa resep dokter juga berada pada kategori cukup baik (35%). Sebagian responden masih menganggap antibiotik dapat mengobati flu, batuk, dan demam, sedangkan sebagian lain masih menggunakan antibiotik tanpa konsultasi dokter (35,05%), memberikan antibiotik kepada anggota keluarga lain (45,36%), dan menyimpan antibiotik untuk digunakan kembali (64,95%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Kelurahan Sikumana memerlukan edukasi berkelanjutan dari tenaga kesehatan, khususnya apoteker, agar praktik swamedikasi antibiotik yang tidak rasional dapat berkurang.</p> Charolus Candra Gong Tadeus A.L. Regaletha Cahyani Purnasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2412 2417 10.63004/hrji.v4i6.1622 Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien Hipertensi di Puskesmas Bakunase Kota Kupang https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1597 <p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi di Nusa Tenggara Timur sebesar 28,2%, sedangkan data Dinas Kesehatan Kota Kupang 2023 mencapai 59,6%. Keberhasilan pengendalian hipertensi bergantung pada kepatuhan pengobatan, namun ketidakpatuhan masih terjadi dan meningkatkan risiko komplikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi di Puskesmas Bakunase Kota Kupang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan <em>cross-sectional</em> ini menggunakan 92 responden melalui teknik <em>consecutive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Kuesioner. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em>, <em>Fisher-Freeman-Halton Exact</em>, <em>Fisher Exact</em>, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak 48 orang (52,2%) termasuk kategori patuh dan 44 orang (47,8%) termasuk kategori tidak patuh. Analisis bivariat menunjukkan bahwa komorbiditas, sikap, tingkat pengetahuan, dan motivasi diri bepengaruh signifikan terhadap kepatuhan pengobatan (<em>p</em> &lt; 0,05). Setelah dilakukan analisis multivariat, hanya motivasi diri (OR = 16,6; 95% CI : 2,76 –99,71; <em>p</em> = 0,002) paling berhubungan signifikan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan motivasi pasien melalui edukasi dan pendampingan berkelanjutan.</p> Kristina Lanta Magdarita Riwu Nurul Fatmawati Pua Upa Matias Nataniel Kolobani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2418 2428 10.63004/hrji.v4i6.1597 Literature Review : Pentingnya Asupan Protein dan Zat Besi Pada Balita untuk Mencegah Stunting https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1579 <p><em>Stunting</em> merupakan kondisi yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan standar tinggi badan anak seusianya. <em>Stunting</em> hingga saat ini masih menjadi masalah gizi kronis secara global, dan menjadi fokus utama dalam <em>Sustainable Development Goals</em> (SDGs) poin 2 yaitu tanpa kelaparan (<em>Zero hunger). </em>Tujuan review artikel ini untuk menganalisis mengenai peran protein dan zat besi untuk mencegah stunting. Desain Penelitian adalah study literature yang dilakukan secara sistematis melalui beberapa basis data elektronik, yaitu google scholar, PubMed, ScienceDirect, dan beberapa search engine lainnya. Asam amino esensial merupakan komponen protein tidak dapat diproduksi oleh tubuh, sehingga harus diperoleh melalui konsumsi makanan sehari-hari, dengan mekanisme dapat mengaktivasi mTORC1 yang berfungsi sebagai regulator utama pertumbuhan dan perkembangan anak. Zat besi merupakan salah satu mikronutrien yang berperan dalam transport oksigen, terlibat dalam sintesis DNA, pembelahan sel, dan aktivitas berbagai enzim yang mendukung pertumbuhan jaringan. Hasil kajian menunjukkan bahwa protein, terutama asam amino esensial, dan zat besi merupakan zat gizi yang berperan penting dalam pencegahan stunting melalui mekanisme yang saling melengkapi. Kesimpulan dari kajian ini menunjukkan bahwa protein, terutama asam amino esensial, dan zat besi merupakan zat gizi yang berperan penting dalam pencegahan <em>stunting</em> melalui mekanisme yang saling melengkapi.</p> Alifia Mutiara Sholeha Rini Harianti Fathma Syahbanu Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2429 2438 10.63004/hrji.v4i6.1579 Evaluasi Pelaksanaan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Berbasis Model CIPP di Kota Pekalongan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1564 <p>Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Pekalongan, termasuk di Kelurahan Jenggot dan Kelurahan Panjang Wetan, sehingga pelaksanaan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Program DASHAT menggunakan model <em>Context, Input, Process,</em> dan <em>Product</em> (CIPP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Populasi penelitian adalah seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program DASHAT, dengan 15 informan yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025–Maret 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan dan sasaran program telah sesuai dengan kebutuhan keluarga berisiko stunting, namun pelaksanaannya belum optimal akibat keterbatasan sarana prasarana dan jumlah kader, partisipasi keluarga sasaran, serta faktor lingkungan. Program memberikan manfaat berupa peningkatan pengetahuan gizi keluarga dan pemanfaatan pangan lokal, meskipun perbaikan status gizi belum merata. Evaluasi menggunakan model CIPP menunjukkan bahwa Program DASHAT telah mendukung upaya percepatan penurunan stunting, namun efektivitas pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan melalui penguatan sarana prasarana, kapasitas kader, serta pendampingan keluarga secara berkelanjutan.</p> Galuh Dian Pratiwi Yuniarti Dewi Nugraheni Restu Mastuti Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2439 2445 10.63004/hrji.v4i6.1564 Studi Meta-Analisis: Efektivitas Terapi Akupunktur Pada Kasus Low Back Pain Terhadap Penurunan Skala Nyeri https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1552 <p>Low Back Pain (LBP) merupakan nyeri muskuloskeletal multifaktorial yang mengganggu mobilitas dan produktivitas berbagai kelompok usia, di mana akupunktur hadir sebagai modalitas non-farmakologis untuk memodulasi transmisi sinyal nosiseptif secara neurofisiologis. Tinjauan sistematis berbasis kerangka kerja PICO (Populasi, Intervensi, Comparison, Outcome) ini mengidentifikasi artikel dari PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect, dengan sembilan artikel yang memenuhi kriteria dianalisis menggunakan aplikasi Review Manager. Hasil analisis dari sembilan studi lintas negara dengan ukuran sampel berkisar antara 30 hingga 220 subjek menunjukkan bahwa terapi akupunktur secara signifikan lebih efektif menurunkan skala nyeri LBP dibandingkan kelompok non-akupunktur (SMD = -0,39; 95% CI: -0,78 hingga -0,00; P = 0,05), meskipun tingkat heterogenitas antar-studi tercatat sangat tinggi (I² = 83%; P &lt; 0,00001). Oleh karena itu, terapi akupunktur terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri pada pasien LBP sehingga direkomendasikan sebagai modalitas klinis yang valid dan aplikatif, walaupun memiliki variabilitas protokol yang cukup tinggi di lapangan.</p> Danang Aji Prabowo Fatimah Wahyu Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2446 2453 10.63004/hrji.v4i6.1552 Hubungan Pengetahuan Remaja Putri Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1489 <p>Kekurangan Energi kronis (KEK) merupakan masalah yang sering dialami pada remaja putri disebabkan kekurangan gizi makro yang menahun sehingga dapat menimbulkan adanya gangguan kesehatan dan memiliki resiko jangka panjang terhadap kesehatan dan produktivitas remaja putri ke depannya. Pentingnya pengetahuan yang baik tentang KEK agar dapat mencegah terjadinya kondisi tersebut terjadi pada usia remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kejadian KEK pada remaja putri di SMPN 1 Tekarang Tahun 2026. Jenis penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain penelitian analitik observasional sedangkan pendekatan waktu menggunakan cross sectional. Waktu penelitian ini dilakukan pada Januari sampai dengan Juni 2026 dengan pengumpulan data pada tanggal 12 Juni 2026. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi di SMPN 1 Tekarang berjumlah 117 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan data primer dengan kuesioner. Analisa data menggunakan uji Chi square dengan program SPSS. Hasil analisa bivariat dengan nilai <em>ρ value</em> =.0,000 (<em>ρ value</em> &lt; 0,05). Hal ini menunjukkan Ha diterima maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan remaja putri dengan kejadian KEK di SMPN 1 Tekarang Tahun 2026.</p> Umi Fania Julianti Sofia Afritasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2454 2459 10.63004/hrji.v4i6.1489 Pengaruh Pemberian Kunyit Asam Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Haid Remaja Putri Di Panti Asuhan X https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1491 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Nyeri haid terjadi akibat peningkatan produksi prostaglandin yang menyebabkan kontraksi uterus berlebihan sehingga menimbulkan rasa nyeri pada perut bagian bawah. Kunyit mengandung kurkumin yang memiliki efek antiinflamasi dan analgesik dengan cara menghambat pembentukan prostaglandin, sedangkan asam jawa mengandung flavonoid dan antosianin yang berperan sebagai antioksidan dan membantu mengurangi rasa nyeri. Panti Asuhan X Banjarbaru merupakan salah satu lembaga sosial yang menaungi remaja putri yang telah mengalami menstruasi dan masih ditemukan remaja putri yang mengalami nyeri haid sehingga mengganggu aktivitas. <strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui pengaruh pemberian kunyit asam terhadap penurunan tingkat nyeri haid pada remaja putri di Panti Asuhan X Banjarbaru. <strong>Metode</strong>: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre-Experimental Design menggunakan desain One Group Pretest-Posttest Design. Subjek penelitian adalah 20 remaja putri. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan Uji <em>Paired T-Test. </em><strong>Hasil</strong>: Hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansi p=0,000 (0&lt; 0,05), yang artinya pemberian kunyit asam secara statistik efektif dalam menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja putri. <strong>Kesimpulan</strong>: Pemberian kunyit asam terbukti efektif dalam menurunkan tingkat nyeri haid pada remaja putri di Panti Asuhan X Banjarbaru. Kunyit asam dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi nonfarmakologis yang aman, mudah diperoleh, dan ekonomis untuk membantu mengurangi dismenore pada remaja putri.</p> Raudhatul Jannah Agnes Fridolin Elisa Oktaviani Dewi Anggraeni Tri Yana Ayani Tiara Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2460 2467 10.63004/hrji.v4i6.1491 Analisis Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1501 <p>Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan penurunan fungsi ginjal progresif selama ≥3 bulan yang ditandai kerusakan struktur atau fungsi ginjal maupun penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR) &lt;60 mL/menit/1,73 m². Hipertensi berperan sebagai komorbid sekaligus komplikasi GGK. Penanganan hipertensi pada pasien GGK memerlukan berbagai obat antihipertensi dan obat lain sehingga penggunaan obat secara bersamaan (polifarmasi) meningkatkan risiko interaksi obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi obat antihipertensi berdasarkan pola peresepan pada pasien GGK di instalasi rawat inap RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo. Data diperoleh secara retrospektif dari rekam medis pasien periode Oktober–Desember 2025 yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan 63 pasien mengalami interaksi obat, sedangkan 7 pasien tidak. Interaksi yang ditemukan terdiri atas 85 kejadian farmakodinamik dan 23 kejadian farmakokinetik. Berdasarkan tingkat keparahan, terdapat 4 interaksi minor, 100 interaksi moderat, dan 4 interaksi mayor. Disimpulkan bahwa interaksi obat antihipertensi pada pasien GGK rawat inap didominasi interaksi <em>moderate</em> dengan mekanisme farmakodinamik. Kombinasi furosemid dan omeprazol merupakan interaksi yang paling sering ditemukan, sehingga diperlukan pemantauan terapi yang optimal untuk mencegah dampak klinis yang merugikan.</p> Rika Amelia Titi Agni Hutahaen Sebilah Sabil Noer Ria Indah Ria Indah Kusuma Pitaloka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2468 2477 10.63004/hrji.v4i6.1501 Hubungan Rasionalitas Antihipertensi Kombinasi Candesartan-Amlodipine Dengan Outcome Klinis di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1502 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Hipertensi merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Salah satu terapi farmakologis yang direkomendasikan adalah kombinasi candesartan dan amlodipine karena efektif menurunkan tekanan darah melalui mekanisme kerja yang saling melengkapi. Penggunaan antihipertensi harus memenuhi prinsip penggunaan obat rasional berdasarkan kriteria 5T, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat waktu pemberian untuk mencapai <em>outcome</em> klinis yang optimal. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rasionalitas penggunaan kombinasi candesartan dan amlodipine serta hubungannya dengan <em>outcome</em> klinis tekanan darah. <strong>Metode:</strong> Penelitian <em>retrospektif</em> ini menggunakan data rekam medis 75 pasien hipertensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Fisher exact test</em>. <strong>Hasil:</strong> Rasionalitas penggunaan kombinasi candesartan dan amlodipine di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo menunjukkan ketepatan pasien, indikasi, dan obat sebesar 100,00%, ketepatan dosis 98,67%, serta ketepatan interval waktu 97,33%. Outcome klinis menunjukkan 78,67% pasien mencapai target tekanan darah, sedangkan 21,33% tidak mencapainya. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai <em>Fisher’s Exact Test</em> sebesar 0,043 (p&lt;0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara rasionalitas penggunaan obat dan <em>outcome</em> klinis pasien. <strong>Simpulan:</strong> Terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antihipertensi kombinasi candesartan dan amlodipine dengan <em>outcome</em> klinis pasien hipertensi.</p> Tika Roro Anti Titi Agni Hutahaen Sebilah Sabil Noer Atika Nirmala Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2478 2487 10.63004/hrji.v4i6.1502 Hubungan Night Eating Syndrome (NES) dengan Stabilitas Kadar Gula Darah pada Lansia Diabetes Mellitus https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1521 <p>Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat. Salah satu faktor yang berhubungan dengan kondisi ini adalah <em>Night Eating Syndrome </em>(NES), yaitu pola makan berlebihan pada malam hari yang dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik. Lansia menjadi kelompok yang rentan mengalami diabetes mellitus akibat penurunan fungsi metabolisme tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan <em>Night Eating Syndrome</em> (NES) dengan stabilitas kadar gula darah pada lansia diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Sitiung 1 tahun 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>cross-sectional</em> dengan populasi seluruh pasien lanjut usia Diabetes Mellitus yang berjumlah 71 orang, dengan sampel 60 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami <em>Night Eating Syndrome</em> (71,7%) dan kadar gula darah stabil (70%). Terdapat hubungan yang signifikan antara NES dan stabilitas kadar gula darah pada lansia diabetes Mellitus dengan nilai p 0,000 (p&lt;0,05). Diharapkan kepada pihak Puskesmas Sitiung I dapat lebih meningkatkan upaya pencegahan diabetes mellitus melalui identifikasi perilaku <em>Night Eating</em> <em>Sindrom</em> (NES) sebagai salah satu faktor yang menentukan stabilitas kadar gula darah pada lansia diabetes mellitus.</p> Rida Suriani Reli Permata Sari Candra Syah Putra Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2488 2493 10.63004/hrji.v4i6.1521 Pengaruh Bleaching dan Enkapsulasi Terhadap Karakteristik Fisik Krim Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharanthus roseus L.) https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1539 <p>Krim merupakan sediaan topikal yang dapat mengantarkan zat aktif ke lapisan kulit dan memberikan kenyamanan saat digunakan. Daun tapak dara (<em>Catharanthus roseus</em> L.) mengandung berbagai senyawa antara lain flavonoid, alkaloid, tanin, dan fenolik yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami dalam menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan <em>bleaching</em> dan enkapsulasi terhadap karakteristik fisik krim ekstrak daun tapak dara. Ekstrak diperoleh menggunakan metode <em>Ultrasound-Assisted Extraction</em> (UAE), kemudian dilakukan proses <em>bleaching</em> menggunakan arang aktif dan enkapsulasi berbasis karboksimetil kitosan sebelum diformulasikan menjadi krim. Karakterisasi enkapsulat menggunakan <strong><em>Particle Size Analyzer</em></strong> <strong>(PSA)</strong> menunjukkan ukuran partikel rata-rata sebesar <strong>1556,4 nm</strong>. Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas, kemudian dianalisis menggunakan uji <strong><em>One Way ANOVA</em></strong>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formulasi memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan krim. Perlakuan bleaching dan enkapsulasi memberikan pengaruh signifikan terhadap daya sebar, daya lekat, dan viskositas (<strong>p&lt;0,05</strong>). Formulasi F3 menunjukkan karakteristik fisik terbaik dibandingkan formulasi lainnya. Dengan demikian, perlakuan <em>bleaching</em> dan enkapsulasi memengaruhi mutu fisik krim ekstrak daun tapak dara, meskipun ukuran partikel hasil enkapsulasi masih berada di atas rentang nanopartikel.</p> Siti Munawaroh Akhmad Al-Bari Abdul Basith Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2494 2503 10.63004/hrji.v4i6.1539 Konsumsi Alkohol sebagai Faktor Risiko dan Kaitannya dengan Luaran Tuberkulosis: Tinjauan Literatur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1541 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di dunia. Konsumsi alkohol merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian tuberkulosis dan memengaruhi luaran pengobatan. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan konsumsi alkohol sebagai faktor risiko dan kaitannya dengan luaran tuberkulosis. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> melalui penelusuran artikel pada basis data PubMed dan Google Scholar. Artikel berbahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 2016-2025 diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh tujuh artikel yang memenuhi kriteria. <strong>Hasil:</strong> Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol berhubungan dengan peningkatan risiko tuberkulosis serta luaran pengobatan yang kurang baik, seperti kegagalan pengobatan, kekambuhan (<em>relapse</em>), dan peningkatan mortalitas. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan respons imun dan peningkatan stres oksidatif yang mendukung pertumbuhan <em>Mycobacterium tuberculosis</em>. <strong>Simpulan:</strong> Konsumsi alkohol merupakan faktor risiko penting yang berhubungan dengan peningkatan kejadian tuberkulosis dan luaran pengobatan yang kurang baik.</p> Nabila Zahra Putri Nikki Aldi Massardi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-21 2026-08-21 4 6 2504 2514 10.63004/hrji.v4i6.1541 Gambaran Intensitas Kebisingan Sebagai Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Pekerja PT X Farmasi Di Jakarta https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1416 <p>Kebisingan merupakan salah satu faktor fisik di lingkungan kerja yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pendengaran pada pekerja. Industri farmasi memiliki potensi pajanan kebisingan karena penggunaan mesin produksi dan utilitas yang beroperasi secara mekanis. Penelitian ini bertujuan menggambarkan intensitas kebisingan pada area kerja PT X Farmasi, mengidentifikasi area yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB), serta menyusun rancangan program kesehatan kerja berdasarkan hasil pengukuran kebisingan. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Data diperoleh melalui pengukuran kebisingan pada 11 titik area kerja menggunakan metode SNI 7231:2009 dan Sound Level Meter Svantek SV 971, serta didukung observasi, wawancara HSE, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 11 titik pengukuran memiliki intensitas kebisingan melebihi NAB 85 dBA, yaitu Ruang Tablet 2 32P113, Ruang Primary Packaging, Ruang Kompresor, Ruang Grinding, dan Ruang Genset. Tingkat kebisingan tertinggi terdapat pada Ruang Genset (98,1 dBA), diikuti Ruang Grinding (90,4 dBA) dan Ruang Kompresor (87,5 dBA). Penilaian risiko menunjukkan Ruang Genset memiliki risiko awal sangat tinggi, sedangkan area lainnya berada pada kategori tinggi hingga rendah. Penelitian menyimpulkan bahwa beberapa area kerja PT X Farmasi memiliki potensi pajanan kebisingan tinggi sehingga perlu menjadi prioritas dalam program kesehatan kerja.</p> Darunnafisah Angela Sihotang Nico Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-22 2026-08-22 4 6 2515 2527 10.63004/hrji.v4i6.1416 ASI Eksklusif sebagai Faktor Dominan Kejadian Diare pada Bayi dan Balita https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1460 <p>Penyakit diare masih termasuk dalam kelompok penyebab utama kematian dan rasa sakit pada anak-anak balita. Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap terjadinya diare termasuk tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu, serta bayi yang memperoleh ASI secara eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap kejadian diare pada bayi dan balita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 40 orang dijadikan responden melalui teknik pengambilan sampel total. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis dengan regresi logistik. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup (45%), sikap positif (55%), namun praktik pemberian ASI eksklusif belum optimal (52,5%). Sebagian besar anak-anak kecil, seperti bayi dan balita, tidak mengalami diare, yaitu sekitar 55%. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap tidak memengaruhi terjadinya diare, tetapi praktik pemberian ASI secara eksklusif terbukti mempengaruhi kejadian diare. Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa menyusui secara eksklusif berpengaruh terhadap kejadian diare pada bayi dan anak balita, sehingga upaya pencegahan diare perlu difokuskan pada peningkatan menyusui secara eksklusif.</p> Janatin Aliah Fitri Yuliana Dwi Rahmawati Hairiana Kusvitasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-22 2026-08-22 4 6 2528 2533 10.63004/hrji.v4i6.1460 Efektivitas Intervensi Health-Gamification Terhadap Peningkatan Pengetahuan Pencegahan HIV/AIDS Pada Mahasiswa STIKES X Di Banjarmasin https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1472 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Infeksi Virus Immunodeficiency Virus (HIV) terus menjadi persoalan kesehatan publik yang serius dengan adanya jumlah kasus yang signifikan di kalangan anak remaja di Indonesia. Situasi ini meggambarkan bahwa dibutuhkan upaya pencegahan yang menyeluruh melalui metode pendidikan yang lebih kreatif dan interaktif sesuai dengan karakteristik pada generasi muda yaitu salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan health-gamification. Strategi ini mengombinasikan elemen permainan kusi digital dalam upaya meningkatkan proses motivasi belajar, partisipasi aktif serta daya ingat pada responden. <strong>Tujuan:</strong> Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menilai sejauh mana efektivitas intervensi helath-gamification dalam memberikan kualitas pemahaman pengetahuan mahasiswa STIKES X di Banjarmasin dalam pencegahan HIV/AIDS. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>quasi experimental</em> melalui pendekatan pre-test dan post-test terhadap satu kelompok. <strong>Hasil:</strong> Berdasarkan data penelitian sebelum dilakukan intervensi yaitu sebagian besar responden (43,8%) berada pada tingkat pengetahuan yang cukup dan setelah intervensi mayoritas responden (75%) menunjukkan peningkatan pengetahuan ke tingkat yang baik yaitu sebesar 31,2%. <strong>Kesimpulan:</strong> Penelitian ini disimpulkan bahwa terbukti efektif dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank dengan nilai p&lt;0,05 yang artinya metode health-gamication terbukti meningkatkan pengetahuan mahasiswa STIKES X di Banjarmasin mengenai pencegahan HIV/AIDS.</p> Rima Diaty Muhammad Fikri Rayendra Rifqiannor Hak Cipta (c) 2026 2026-08-22 2026-08-22 4 6 2534 2539 10.63004/hrji.v4i6.1472 Tingkat Pengetahuan Penggunaan Antibiotik Pada Siswa SMA Negeri 4 Palangka Raya https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1401 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Antibiotik berperan penting dalam pengobatan infeksi bakteri. Penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi. Pengetahuan siswa mengenai penggunaan antibiotik penting untuk mencegah penggunaan obat yang tidak rasional. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik pada siswa SMA Negeri 4 Palangka Raya. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan rancangan <em>cross-sectional</em>. Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 4 Palangka Raya, dengan jumlah sampel sebanyak 109 siswa Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri atas 10 pertanyaan mengenai indikasi, dosis, resistensi, efek samping, penyimpanan, dan cara penggunaan antibiotik. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk frekuensi dan persentase menggunakan Microsoft Excel. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa tentang penggunaan antibiotik berada pada kategori cukup sebanyak 50 siswa (45,87%), rendah sebanyak 41 siswa (37,61%), dan tinggi sebanyak 19 siswa (16,51%). <strong>Simpulan:</strong> Pengetahuan siswa mengenai penggunaan antibiotik masih bervariasi dan sebagian besar berada pada kategori cukup. Edukasi kesehatan berkelanjutan di sekolah perlu ditingkatkan untuk mendukung penggunaan antibiotik yang tepat.</p> Ahmad Irawan Ferayani Defilia Anogra Riani Shavira Alpasa Hakim Hak Cipta (c) 2026 2026-08-23 2026-08-23 4 6 2540 2547 10.63004/hrji.v4i6.1401 Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Asupan Zat Besi dan Vitamin C Pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Selo, Boyolali https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1479 <p>Ketahanan pangan keluarga berperan penting dalam menyediakan kebutuhan zat gizi, termasuk zat besi dan vitamin C pada wanita usia subur (WUS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketahanan pangan keluarga dengan asupan zat besi dan vitamin C pada WUS di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali keluarga dengan asupan zat besi dan vitamin C pada WUS di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan melibatkan 108 WUS yang dipilih menggunakan <em>simple random sampling</em>. Responden merupakan WUS yang bersedia mengikuti penelitian, telah tinggal di Kecamatan Selo minimal 5 tahun, tidak sedang menjalani diet khusus atau menderita penyakit kronis yang mempengaruhi pola makan, serta berperan dalam pengelolaan pangan keluarga sehari-hari. Ketahanan pangan keluarga diukur menggunakan <em>Household Food Insecurity Access Scale</em> (HFIAS) , sedangkan asupan zat besi dan vitamin C diukur menggunakan Kuesioner <em>Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire</em> (SQ-FFQ) . Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square . Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,8% keluarga tergolong rawan pangan, 53,7% WUS memiliki asupan zat besi kurang, dan 56,5% memiliki asupan vitamin C kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan keluarga dengan asupan zat besi ( p=0,004 ) dan vitamin C ( p=0,001 ). WUS yang berasal dari keluarga rawan pangan memiliki proporsi asupan zat besi dan vitamin C kurang lebih tinggi dibandingkan keluarga tahan pangan. Dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan keluarga berhubungan dengan asupan zat besi dan vitamin C pada wanita usia subur. Upaya peningkatan ketahanan pangan rumah tangga diperlukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan mikronutrien pada wanita usia subur.</p> Khansa Az-Zahidah Luluk Rakhma Siti Nurokhmah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-23 2026-08-23 4 6 2548 2561 10.63004/hrji.v4i6.1479 Studi Literatur: Hubungan antara Asupan Zat Gizi Makro, Status Gizi, dan Fungsi Kognitif pada Anak Usia Sekolah https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1728 <p>Fungsi kognitif pada anak usia sekolah dipengaruhi oleh asupan zat gizi makro dan status gizi yang berperan penting dalam perkembangan otak. Namun, hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan variasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bukti ilmiah mengenai hubungan antara asupan zat gizi makro, status gizi, dan fungsi kognitif pada anak usia sekolah. Penelitian menggunakan metode literature review dengan menelaah artikel ilmiah dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect terbitan tahun 2020–2025. Sebanyak tujuh artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa asupan protein, karbohidrat, dan lemak berhubungan dengan fungsi kognitif, khususnya memori, perhatian, konsentrasi, dan fleksibilitas kognitif. Status gizi baik juga cenderung berhubungan dengan fungsi kognitif yang optimal, meski beberapa studi menemukan hasil tidak signifikan akibat variasi karakteristik subjek, indikator status gizi, serta kebiasaan makan seperti sarapan. Kesimpulannya, asupan zat gizi makro dan status gizi berperan penting terhadap fungsi kognitif anak usia sekolah, walaupun dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan. Penelitian longitudinal lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat hubungan kausal antarvariabel.</p> Nizrina Gadzani Firmansyah Al Mukhlas Fikri Ratih Kurniasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-24 2026-08-24 4 6 2562 2569 10.63004/hrji.v4i6.1728 Uji Efektivitas Gel Ekstrak Etanol Kulit Batang Matoa (Pometia Pinnata) Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Melitus https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1611 <p>Kulit batang matoa (<em>Pometia pinnata</em>) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri sehingga berpotensi membantu penyembuhan luka diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas gel ekstrak etanol kulit batang matoa terhadap penyembuhan luka pada tikus model diabetes melitus yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan rancangan sediaan gel ekstrak kulit batang matoa <em>(Pometia Pinnata)</em> dengan variasi kosentrasi formula Gel 5%, 10% dan 15% serta sedian formulasi dioleskan dua kali sehari selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penutupan luka pada hari ke-10 berturut-turut untuk formulasi gel 5% (61,67%), 10% (67,22%), 15% (79,44%), control positif (98,33%) dan control negative (47,78%). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa formulasi gel ekstrak etanol kulit batang matoa konsentrasi 15% memberikan efektivitas terbaik dalam mempercepat penyembuhan luka diabetes melitus.</p> Yusmayani Bahri Muhammad Asri SR Agriawan Sudirman Hak Cipta (c) 2026 2026-08-24 2026-08-24 4 6 2570 2574 10.63004/hrji.v4i6.1611 Potensi Antikanker Teripang: Tinjauan Sistematis Senyawa Bioaktif dan Mekanisme Molekuler https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1228 <p>Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, dan keterbatasan terapi konvensional mendorong pencarian agen antikanker baru dari sumber alam laut. Teripang (<em>Holothuroidea</em>) telah lama dikenal kaya akan senyawa bioaktif dengan potensi antikanker yang menjanjikan. Tinjauan sistematis ini bertujuan mengidentifikasi spesies teripang dengan aktivitas antikanker terkuat, mengkarakterisasi senyawa bioaktif yang berperan, serta mengelaborasi mekanisme molekuler yang mendasarinya. Penelusuran literatur dilakukan pada tiga basis data (ScienceDirect, PubMed, dan SINTA) untuk publikasi periode 2016–2025 menggunakan kerangka PICOC, dengan 15 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa triterpen glikosida (misalnya holothurin) dan peptida bioaktif, terutama dari <em>Holothuria scabra</em>, <em>Stichopus hermanni</em>, dan <em>Holothuria atra</em>, memberikan efek sitotoksik poten terhadap berbagai jenis kanker, terutama kanker payudara, kolon, dan ovarium. Mekanisme utama meliputi induksi apoptosis, penghentian siklus sel, penghambatan metastasis melalui <em>downregulasi</em> MMP-9 dan HER2, anti-angiogenesis, dan imunomodulasi. Bukti <em>in vivo</em> berupa penurunan volume tumor memperkuat temuan ini, menjadikan teripang sebagai sumber potensial untuk pengembangan agen antikanker multitarget. Namun, sebagian besar bukti masih bersifat praklinis sehingga diperlukan penelitian lanjutan terkait optimasi struktur senyawa, ketersediaan bahan baku berkelanjutan, serta studi farmakokinetik dan toksikologi untuk mendukung translasi klinis.</p> Hisyam Abdu Rasyad Hesti Riasari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2575 2587 10.63004/hrji.v4i6.1228 Pengaruh Edukasi VIDSION (Video and Simulation) Terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Ibu Dalam Penanganan Tersedak Balita https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1394 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Tersedak merupakan kondisi kegawatdaruratan pada balita yang dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan pertolongan pertama memerlukan edukasi yang efektif. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi VIDSION <em>(Video and Simulation) </em>terhadap pengetahuan dan keterampilan ibu dalam penanganan tersedak pada balita. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi-experimental</em> dengan pendekatan <em>one-group pretest-posttest</em>. Sampel berjumlah 51 ibu yang memiliki balita di Desa Jubel Kidul, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, dipilih menggunakan teknik <em>consecutive sampling</em>. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan dan lembar observasi keterampilan. Data dianalisis menggunakan uji <em>paired t-test</em>. <strong>Hasil:</strong> Edukasi VIDSION meningkatkan rerata pengetahuan ibu dari 61,96 menjadi 87,25 dan keterampilan dari 11,3 menjadi 84,6. Hasil uji <em>paired t-test</em> menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi pada pengetahuan dan keterampilan (<em>p-value</em> = 0,000; p&lt;0,05). <strong>Simpulan :</strong> Edukasi VIDSION efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam penanganan tersedak pada balita melalui kombinasi media video dan simulasi yang memberikan pemahaman visual serta pengalaman praktik secara langsung.</p> Nabella Ayu Dwi Jayanti Isni Lailatul Maghfiroh Aprelia Afidatul Hanafi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2588 2594 10.63004/hrji.v4i6.1394 Pengaruh Terapi Afirmasi Positif Pada Remaja Dengan Harga Diri Rendah Di SMPN 26 Bandar Lampung Tahun 2025 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1324 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Harga diri rendah (self-esteem) merupakan salah satu masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja dan dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan diri, terganggunya hubungan sosial, prestasi akademik, serta kesehatan mental. Di Provinsi Lampung, penelitian menunjukkan bahwa 78,2% remaja memiliki harga diri rendah. Hasil pra-survei di SMP Negeri 26 Bandar Lampung juga menunjukkan bahwa 46,1% siswa mengalami harga diri rendah. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat menghambat perkembangan psikologis remaja. Salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan harga diri remaja adalah terapi afirmasi positif, yaitu pemberian kalimat-kalimat positif secara berulang untuk membangun keyakinan dan penilaian positif terhadap diri sendiri. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi afirmasi positif terhadap peningkatan harga diri pada remaja dengan harga diri rendah di SMP Negeri 26 Bandar Lampung Tahun 2025. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pra-eksperimental melalui pendekatan one-group pretest-posttest. Populasi penelitian berjumlah 253 siswa, dengan sampel sebanyak 20 siswa kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran tingkat harga diri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian terapi afirmasi positif, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 14 tahun sebanyak 12 responden (60%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12 responden (60%). Rata-rata skor harga diri sebelum diberikan terapi afirmasi positif sebesar 18,82 dan meningkat menjadi 23,00 setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,003 (p&lt;0,05), yang berarti terdapat peningkatan harga diri yang signifikan setelah pemberian terapi afirmasi positif. <strong>Kesimpulan :</strong> Terapi afirmasi positif terbukti efektif dalam meningkatkan harga diri pada remaja dengan harga diri rendah di SMP Negeri 26 Bandar Lampung. Terapi ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi dalam program bimbingan konseling maupun promosi kesehatan jiwa di sekolah guna membantu meningkatkan harga diri dan kesehatan mental remaja.</p> Fenita Loveani Eka Trismiyana Triyoso Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2595 2601 10.63004/hrji.v4i6.1324 Efektivitas Edukasi Kesehatan Menggunakan Ular Tangga Dalam Meningkatkan Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Desa Lalembo Kecamatan Sawa Kabupaten Konawe Utara Tahun 2025 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1141 <p>Diare merupkan salah satu penyakit yang paling sering menyerang anak-anak di seluruh dunia. Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir.. Diare merupakan pembunuh utama anakanak, terhitung sekitar 8% dari semua kematian pada anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Di desa Lalembo Kec. Sawa, Kabupaten Konawe Utara. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat dipengaruhi oleh perilaku hidup bersih dan sehat. Di Desa Lalembo Kecamatan Sawa Kabupaten Konawe Utara masih ditemukan kasus diare pada anak yang diduga berkaitan dengan perilaku kebersihan diri dan lingkungan yang belum optimal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pre-test dan post-test yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi kesehatan menggunakan media permainan ular tangga terhadap peningkatan pengetahuan PHBS pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 16 anak sekolah dasar, yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah diberikan edukasi kesehatan menggunakan media permainan ular tangga, sehingga media ini efektif digunakan sebagai sarana promosi kesehatan pada anak usia sekolah dasar</p> La Ode Ahmad Saktiansyah Jumakil Jumakil La Ode Liaumin Azim Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2602 2606 10.63004/hrji.v4i6.1141 Pengaruh Survival Clues Game Terhadap Pengetahuan Mitigasi Angin Puting Beliung Pada Remaja Pondok Pesantren https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1387 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Angin puting beliung merupakan bencana hidromeorologi yang sering terjadi di Indonesia dan dapat menyebabkan kerugian fisik,sosial,serta psikologis.Rendahnya pengetahuan remaja mengenai mitigasi bencana berpotensi meningkatkan risiko kepanikan dan tindakan yang tidak tepat saat bencana terjadi. Menganalisis pengaruh edukasi Survival Clues Game terhadap pengetahuan remaja tentang mitigasi bencana angin puting beliung di Pondok Pesantren Wali Songo Lamongan. <strong>Metode</strong>: penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan desain pretest-posttest control group<em>.</em>Sampel penelitian adalah 60 remaja yang terdiri atas 30 remaja kelompok intervensi dan 30 remaja kelompok kontrol dengan menggunakan total sampling. Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner yang meliputi tujuh indikator,yaitu pengertian mitigasi bencana,pengertian angin puting beliung,tanda angin puting beliung,penyebab angin puting beliung,mitigasi sebelum bencana,mitigasi saat bencana, dan mitigasi setelah bencana.Data dianalisis menggunakan <em>paired sampel t-test </em>dan <em>independent sample t-test. </em><strong>Hasil: </strong>Rata-rata skor pengetahuan kelompok intervensi meningkat dari 69,33 menjadi 91,33 setelah pemberian edukasi <em>survival clues game</em> dengan p-value (p&lt;0,000),sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. <strong>Diskusi: </strong><em>Survival clues game</em> efektif meningkatkan pengetahuan remaja mengenai mitigasi bencana angin puting beliung dan bisa menjadi media edukasi kebencanaan berbasis permainan digital di lingkungan pendidikan kebencanaan</p> Erlistya Bunga Nur Tantri Isni Lailatul Maghfiroh Aprelia Afidatul Hanafi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2607 2615 10.63004/hrji.v4i6.1387 Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Hipertensi Wilayah Kerja Puskemas Lamunti, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1473 <p>Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, gagal ginjal, dan kematian, dengan perilaku merokok sebagai salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan perilaku merokok dengan kejadian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Lamunti. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 485 penderita hipertensi yang berkunjung ke Puskesmas Lamunti selama tiga bulan sebelum penelitian. Sampel sebanyak 83 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% dan dipilih melalui teknik accidental sampling. Data perilaku merokok dikumpulkan menggunakan kuesioner Brinkman Index, sedangkan kejadian hipertensi diukur melalui pemeriksaan tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta dicatat pada lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan SPSS. Hasil menunjukkan sebagian besar responden merupakan perokok ringan (39,8%) dan mayoritas mengalami Hipertensi Stadium 1 (51,8%). Uji Chi-Square memperoleh nilai p = 0,003 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara perilaku merokok dan kejadian hipertensi. Petugas kesehatan disarankan meningkatkan edukasi bahaya merokok, pengendalian kebiasaan merokok, serta pemeriksaan tekanan darah berkala untuk mencegah hipertensi dan komplikasinya.</p> Siti Rosaidah Tien Aminah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2616 2622 10.63004/hrji.v4i6.1473 Hubungan Motivasi Perawat Dengan Kepatuhan Dalam Penerapan Sop Pasien Resiko Jatuh Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit X https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1314 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Kejadian pasien jatuh merupakan salah satu indikator keselamatan pasien di rumah sakit yang masih sering terjadi dan dapat menimbulkan dampak serius. Kepatuhan perawat dalam menerapkan SOP pencegahan risiko jatuh menjadi faktor penting, yang salah satunya dipengaruhi oleh motivasi perawat. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi perawat dengan kepatuhan dalam penerapan SOP pasien risiko jatuh di ruang rawat inap Rumah Sakit X <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 92 responden yang diambil menggunakan teknik <em>proportionate stratified random sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner motivasi dan lembar observasi kepatuhan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar perawat memiliki motivasi sedang/rendah 48 responden (52,2%) dan tingkat kepatuhan tidak patuh 47 responden (51,1%). Hasil uji statistik diperoleh nilai <em>p-value</em> = 0,001 (&lt;0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi perawat dengan kepatuhan dalam penerapan SOP pasien risiko jatuh. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan antara motivasi perawat dengan kepatuhan dalam penerapan SOP pasien risiko jatuh, di mana semakin tinggi motivasi perawat maka semakin tinggi tingkat kepatuhan.</p> Iwanda Saputra Dewi Kusumaningsih M. Arifki Zainaro M. Ricko Gunawan Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2636 2644 10.63004/hrji.v4i6.1314 Evaluasi Implementasi Program Kesehatan Kerja pada Area Workshop dan Perkantoran di PT X https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1413 <p>Program kesehatan kerja merupakan kewajiban perusahaan untuk melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja sesuai dengan ketentuan PP No. 28 Tahun 2024 dan Permenaker No. 5 Tahun 2018. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi program kesehatan kerja pada perusahaan layanan pemeliharaan ketenagalistrikan di Jakarta Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara dengan pekerja, serta telaah data sekunder hasil pengukuran lingkungan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di Workshop 1 sebesar 77,6 dBA dan Workshop 2 sebesar 74,9 dBA, masih berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA. Namun, nilai Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) di Workshop 1 sebesar 28,7°C, Workshop 2 sebesar 29,2°C, dan Workshop 3 sebesar 29,2°C melebihi NAB untuk pekerjaan sedang. Penilaian ergonomi pada staf produksi menunjukkan tingkat risiko rendah dengan skor 2 berdasarkan SNI 9011:2021, tetapi observasi lapangan menemukan postur kerja janggal pada pekerja las serta penggunaan APD yang belum memadai di area coating. Program kesehatan kerja telah diterapkan melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif, namun pelaksanaannya belum optimal sehingga diperlukan penguatan pengendalian bahaya spesifik, penerapan ergonomi kerja, dan kepatuhan penggunaan APD.</p> Reza Maria Nainggolan Muhammad Jenar Susanto Nico Linggi Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2623 2629 10.63004/hrji.v4i6.1413 Analisis Bentuk Pemborosan Pada Manajemen Logistik Medis Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Surabaya https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1430 <p>Manajemen logistik medis berperan penting dalam menjamin ketersediaan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di rumah sakit. Pengelolaan logistik yang belum optimal dapat menimbulkan pemborosan (<em>waste</em>) sehingga menurunkan efisiensi operasional dan mutu pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pemborosan pada manajemen logistik medis di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Surabaya menggunakan pendekatan <em>Lean Hospital </em>berdasarkan konsep <em>Seven Wastes</em>. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dipilih secara <em>purposive</em> sebanyak lima orang yang terlibat dalam pengelolaan logistik medis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan beberapa telaah dokumen, kemudian dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan manajemen logistik medis telah berjalan sesuai prosedur. Namun, masih ditemukan pemborosan berupa <em>waiting</em>, <em>overprocessing</em>, dan <em>motion</em>. <em>Waste waiting</em> terjadi akibat keterlambatan pengadaan dan distribusi dari distributor, <em>overprocessing</em> disebabkan pencatatan serta pemeriksaan yang dilakukan berulang, sedangkan <em>motion</em> muncul karena pergerakan petugas yang belum efisien. Sementara itu, <em>overproduction</em>, <em>transportation</em>, <em>inventory</em>, dan <em>defect</em> tidak ditemukan sebagai masalah yang signifikan. Disimpulkan bahwa penerapan <em>Lean Hospital </em>mampu mengidentifikasi pemborosan sebagai dasar perbaikan berkelanjutan guna meningkatkan efisiensi manajemen logistik medis.</p> Diva Faradiba Afif Kurniawan Yura Witsqa Firmansyah Firnanda Erindia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2630 2635 10.63004/hrji.v4i6.1430 Hubungan Antara Usia Dan Jenis Kelamin Dengan Kesesuaian Penggunaan Antibiotik Pada Pasien ISPA https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1447 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai di pelayanan kesehatan primer dan kerap diterapi dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berisiko meningkatkan resistensi sehingga perlu dievaluasi kesesuaiannya. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien ISPA di Puskesmas Gaya Baru V Kabupaten Lampung Tengah. <strong>Metode:</strong> Penelitian observasional deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan 184 rekam medis pasien ISPA periode September–Desember 2025 yang dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. <strong>Hasil:</strong> Kelompok usia dewasa (47,8%) dan laki-laki (53,3%) mendominasi pasien. Influenza merupakan diagnosis terbanyak (84,2%), sedangkan amoksisilin menjadi antibiotik yang paling sering diresepkan (54,9%). Ketidaksesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan standar Pharmaceutical Care mencapai 62,5%. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin (p=0,939; OR=1,024) maupun usia (p=0,463; OR=0,672) dengan kesesuaian penggunaan antibiotik. <strong>Simpulan:</strong> Usia dan jenis kelamin tidak berhubungan dengan kesesuaian penggunaan antibiotik. Peningkatan kepatuhan terhadap pedoman penggunaan antibiotik rasional di pelayanan kesehatan primer tetap diperlukan.</p> Fadel Hariya Pamungkas Ade Maria Ulfa Robby Candra Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2636 2644 10.63004/hrji.v4i6.1447 Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi di Wilayah Kerja UPT Puskemas Mantangai, Kalimantan Tengah https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1458 <p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan kepatuhan minum obat secara berkelanjutan untuk mencegah komplikasi. Pengetahuan yang memadai mengenai hipertensi dan pengobatannya berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi sehingga tekanan darah dapat dikendalikan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Mantangai. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan rancangan <em>cross-sectional</em>. Sebanyak 60 pasien hipertensi dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan kepatuhan minum obat diukur menggunakan <em>Morisky Medication Adherence Scale-8</em> (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (60,0%), namun lebih dari separuh memiliki kepatuhan minum obat yang rendah (53,3%). Hasil tabulasi silang menunjukkan 47,2% responden dengan pengetahuan baik memiliki kepatuhan tinggi, sedangkan seluruh responden dengan pengetahuan kurang memiliki kepatuhan rendah. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan minum obat (r= 0,543; p&lt;0,001). Pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Peningkatan edukasi kesehatan perlu dioptimalkan untuk meningkatkan kepatuhan terapi dan mendukung pengendalian hipertensi.</p> Eka Fitriani Musthika Wida Mashitah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2645 2651 10.63004/hrji.v4i6.1458 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Terhadap Pengobatan di Komunitas Pedesaan : Peran Pengetahuan, Dukungan Keluarga, dan self eficacy https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1619 <p>Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan faktor penting dalam pengendalian hipertensi. Faktor kognitif dan psikososial, seperti pengetahuan, dukungan keluarga, dan <em>self-efficacy</em>, diduga berperan dalam membentuk kepatuhan pasien, khususnya di komunitas pedesaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pengetahuan, dukungan keluarga, dan self-efficacy dengan kepatuhan terhadap pengobatan pada pasien hipertensi di komunitas pedesaan wilayah kerja Puskesmas Lamunti. Penelitian menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel sebanyak 364 pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Lamunti dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan hipertensi, kuesioner dukungan keluarga, <em>Medication Adherence Self-Efficacy Scale-Revised</em>, dan <em>Morisky Medication Adherence Scale-8</em>. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p&lt;0,05. Hasil penelitian menemukan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (72,5%), dukungan keluarga kurang (62,6%), self-efficacy rendah (69,2%), dan kepatuhan pengobatan tinggi (54,9%). Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan terhadap pengobatan (p=0,001), sedangkan pengetahuan (p=0,246) dan <em>self-efficacy</em> (p=0,118) tidak berhubungan secara signifikan. Dukungan keluarga merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap pengobatan pada pasien hipertensi di komunitas pedesaan. Intervensi peningkatan kepatuhan perlu mengoptimalkan keterlibatan keluarga melalui pendekatan family-centered care dalam pengelolaan hipertensi.</p> Raya Raya Bayu Budi Laksono Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2652 2658 10.63004/hrji.v4i6.1619 Hubungan Risiko Ergonomi Dengan Kelelahan Kerja Pada Petugas Administrasi Di (RSD) Idaman Kota Banjarbaru Tahun 2026 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/2659-2663 <p>Petugas administrasi rumah sakit memiliki aktivitas kerja yang didominasi oleh posisi duduk statis dan penggunaan komputer dalam waktu lama sehingga berisiko mengalami gangguan ergonomi dan kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan risiko ergonomi dengan kelelahan kerja pada petugas administrasi di (RSD) Idaman Kota Banjarbaru Tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian berjumlah 87 petugas administrasi, dengan sampel sebanyak 72 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner risiko ergonomi dan kelelahan kerja, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki risiko ergonomi kategori baik sebanyak 63 responden (87,5%), sedangkan kelelahan kerja kategori tinggi dialami oleh 54 responden (75,0%). Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai <em>p-value</em> = 0,000 (&lt;0,05) dengan koefisien korelasi (r) = 0,471 yang menunjukkan adanya hubungan positif dengan kekuatan sedang antara risiko ergonomi dan kelelahan kerja. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara risiko ergonomi dengan kelelahan kerja pada petugas administrasi di (RSD) Idaman Kota Banjarbaru. Penerapan prinsip ergonomi perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk mengurangi risiko kelelahan kerja.</p> Muhammad Risky Mulyawan Rusdi Rusdi Asni Hasaini Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 10.63004/hrji.v4i6.1528 Hubungan Self-Management dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus di Wilayah Kerja UPT Puskemas Mantangai, Kalimantan Tengah https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1457 <p>Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan mandiri (<em>self-management</em>) untuk menjaga kestabilan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. <em>Self-management</em> yang baik meliputi pengaturan diet, aktivitas fisik, kepatuhan pengobatan, serta pemanfaatan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara <em>self-management</em> dengan kadar gula darah pasien Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Mantangai, Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan rancangan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik a<em>ccidental sampling</em>. <em>Self-management</em> yang diukur menggunakan kuesioner DSMQ (<em>Diabetic Self-Management Questionnaire</em>) dan kadar gula darah diukur berdasarkan gula darah sewaktu menggunakan glukometer. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki <em>self-management</em> yang buruk, yaitu sebanyak 38 responden (63,3%). Pada kelompok tersebut, sebanyak 23 responden (60,5%) memiliki kadar gula darah tidak terkontrol, sedangkan 15 responden (39,5%) memiliki kadar gula darah terkontrol. Sebaliknya, pada responden dengan <em>self-management</em> yang baik, sebagian besar memiliki kadar gula darah terkontrol, yaitu sebanyak 14 responden (63,6%), sedangkan 8 responden (36,4%) memiliki kadar gula darah tidak terkontrol. Berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara <em>self-management</em> dengan kadar gula darah (p=0,071; p&gt;0,05). Meskipun secara statistik tidak mununjukkan hubungan yang signifikan, terdapat kecenderungan bahwa semakin baik <em>self-management</em>, semakin baik pula kontrol gula darah.</p> Sendi Sendi Musthika Wida Mashitah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2664 2670 10.63004/hrji.v4i6.1457 HbA1c Levels and Ureum Creatinine Levels Among T2DM Patients in Indonesia: A Systematic Review https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1593 <p><strong>Pendahuluan</strong>: Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis yang diakibatkan oleh hiperglikemia kronis, yang dapat menyebabkan kerusakan glomerulus. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dengan kadar ureum dan kreatinin pada pasien DMT2 di Indonesia. <strong>Metode</strong>: Tinjauan sistematis dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan menggunakan Google Scholar, Garuda, PubMed, EBSCO, dan Scopus. Risiko bias dievaluasi menggunakan JBI <em>critical appraisal</em>. Data diekstraksi dan disintesis secara naratif. <strong>Hasil</strong>: Sebanyak sembilan studi potong lintang yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025 memenuhi kriteria inklusi, melibatkan total 3.872 peserta. Kesembilan studi tersebut menunjukkan hasil yang bervariasi. Ada studi yang menganalisis kadar ureum saja dan ada pula yang menganalisis kadar ureum dan kreatinin secara bersamaan: 3 studi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar ureum. 5 studi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kreatinin. Namun, 4 studi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara HbA1c dan kreatinin. <strong>Kesimpulan</strong>: Sebagian besar bukti menunjukkan adanya hubungan antara kontrol glikemik yang buruk dan perubahan parameter fungsi ginjal pada pasien dengan DM Tipe 2. Pemantauan HbA1c bersamaan dengan kadar ureum dan kreatinin berpotensi mendukung deteksi dini nefropati diabetik di Indonesia.</p> Satria Akbar Putra Asmara Kahaya Ainin Asya Alissa Anna Safira Cinta Putri Aulia Nugroho Muhammad Rio Al Faridzky Hak Cipta (c) 2026 2026-08-27 2026-08-27 4 6 2671 2677 10.63004/hrji.v4i6.1593 Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Mahasiswa Praktik Klinik Infeksi Nosokomial Dengan Kepatuhan Kebersihan Tangan Di RSD Idaman Banjar Baru https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1557 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Infeksi nosokomial merupakan masalah kesehatan yang meningkatkan risiko penularan infeksi di rumah sakit. Salah satu upaya pencegahannya adalah penerapan kebersihan tangan sesuai standar <em>Five Moments for Hand Hygiene</em>. Kepatuhan kebersihan tangan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap mahasiswa praktik klinik tentang infeksi nosokomial. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap mahasiswa praktik klinik tentang infeksi nosokomial dengan kepatuhan kebersihan tangan di RSD Idaman Banjarbaru. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 52 mahasiswa praktik klinik yang dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap tentang infeksi nosokomial serta lembar observasi kepatuhan kebersihan tangan berdasarkan <em>Five Moments for Hand Hygiene</em>. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. <strong>Hasil</strong>: Terdapat hubungan antara pengetahuan tentang infeksi nosokomial dengan kepatuhan kebersihan tangan (<em>p</em>=0,021; <em>r</em>=0,320). Selain itu, terdapat hubungan antara sikap tentang infeksi nosokomial dengan kepatuhan kebersihan tangan (<em>p</em>=0,016; <em>r</em>=0,333). Kedua hubungan bersifat positif dengan kekuatan hubungan rendah. <strong>Simpulan</strong>: Pengetahuan dan sikap mahasiswa praktik klinik tentang infeksi nosokomial berhubungan dengan kepatuhan kebersihan tangan di RSD Idaman Banjarbaru.</p> Sopia Ika Lestiani Hj Rusdiana Martini Nur Sukmawaty Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2678 2685 10.63004/hrji.v4i6.1557 Hubungan Status Gizi Dan Psikologis Ibu Hamil Dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum Di PMB Jawiriyah https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1569 <p>Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan mual dan muntah berlebihan sehingga dapat berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Status gizi dan kondisi psikologis diduga berperan terhadap kejadian hiperemesis gravidarum. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan kondisi psikologis ibu hamil dengan kejadian hiperemesis gravidarum di PMB Jawiriyah Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 ibu hamil trimester pertama hingga awal trimester kedua yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian hiperemesis gravidarum (p&lt;0,001) serta hubungan yang signifikan antara kondisi psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum (p&lt;0,001). Ibu hamil dengan status gizi kurang dan kondisi psikologis yang tidak baik memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami hiperemesis gravidarum. Disimpulkan bahwa status gizi dan kondisi psikologis berhubungan secara signifikan dengan kejadian hiperemesis gravidarum di PMB Jawiriyah. Tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan skrining status gizi dan kondisi psikologis pada ibu hamil sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan hiperemesis gravidarum.</p> Dinni Meutia Larasati Nelva Riza Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2685 2691 10.63004/hrji.v4i6.1569 Hubungan Beban Kerja Dengan Kinerja Pada Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) Di Rumah Sakit Adi Husada Kapasari Surabaya https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1431 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan salah satu bentuk transformasi digital di rumah sakit yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dalam penerapannya, perubahan sistem kerja dari manual ke elektronik dapat memengaruhi beban kerja petugas sehingga berpotensi berdampak pada kinerja dalam menjalankan tugas. <strong>Tujuan:</strong> Mengidentifikasi Hubungan Beban Kerja Dengan Kinerja Pada Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di Rumah Sakit Adi Husada Kapasari Surabaya. <strong>Metode:</strong> Desain penelitian analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Adi Husada Kapasari Surabaya dengan sampel sebanyak 43 responden yang terdiri dari petugas rekam medis, perawat poli rawat jalan, dan perawat IGD menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner beban kerja dan kinerja, sedangkan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. <strong>Hasil:</strong> Mayoritas responden memiliki beban kerja rendah dan kinerja tinggi. Uji Spearman Rank menghasilkan nilai <em>p-value</em> sebesar 0,02 dengan koefisien korelasi (<em>r</em>) sebesar 0,455, yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kekuatan sedang (cukup kuat). <strong>Kesimpulan:</strong> Sebagian besar responden memiliki tingkat beban kerja rendah (65,1%) dan kinerja tinggi (55,8%) pada implementasi RME. Terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan sedang (cukup kuat) antara beban kerja dan kinerja pada implementasi RME di Rumah Sakit Adi Husada Kapasari Surabaya (<em>p-value</em> = 0,02; <em>r</em> = 0,455).</p> Nevia Rahma Putri Dwi Yuniar Ramadhani Novita Fajriyah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2692 2699 10.63004/hrji.v4i6.1431 Analisisi Hubungan Penerapan PHBS Terhadap Status Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bangetayu https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1405 <p>Diare merupakan pemicu utama mortalitas balita. Peran pengasuh sangat penting dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk meminimalisasi risiko penularan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan penerapan PHBS terhadap status kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>case control</em>. Sampel terdiri dari 38 kelompok kasus dan 38 kelompok kontrol yang dipilih melalui teknik <em>purposive random sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Uji <em>Chi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan penerapan PHBS kurang sebanyak 36 orang (47,4%) lebih kecil dibandingkan dengan PHBS baik sebanyak 40 orang (52,6%). Balita yang mengalami diare berjumlah 38 anak (50%), mayoritas berusia 1–3 tahun (44,7%). Hasil analisis bivariat diperoleh nilai <em>p-value</em> 0,000 (&lt; 0,05). Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan PHBS dengan status kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu.</p> Maria Ulfa Riyadhotul Jannah Eko Prasetyo Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2700 2706 10.63004/hrji.v4i6.1405 Analisis Pajanan Kebisingan dan Pengendalian Risiko PAK pada Engine Run-Up di Run Up Bay PT X https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1411 <p>Aktivitas <em>engine run-up </em>pada industri <em>Maintenance, Repair, and Overhaul</em> (MRO) menghasilkan kebisingan berintensitas tinggi yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pajanan kebisingan pada aktivitas <em>engine run-up</em> di <em>Run Up Bay</em> PT X, mengidentifikasi dampak kesehatan, serta mengevaluasi pengendalian risiko berdasarkan hierarchy of control. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari hasil pengukuran kebisingan menggunakan <em>sound level meter</em>, observasi lapangan, dan informasi dari tim <em>Health, Safety, and Environment</em> (HSE). Hasil penelitian menunjukkan intensitas kebisingan mencapai 102 dBA, melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA untuk 8 jam kerja sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018. Setiap sesi <em>engine run-up</em> berlangsung 30 menit, sedangkan batas pajanan aman pada intensitas tersebut hanya sekitar 9,45 menit per hari kerja. Pajanan ini berpotensi menyebabkan <em>Noise Induced Hearing Loss</em>, tinnitus, gangguan komunikasi, stres kerja, dan gangguan tidur. PT X telah menerapkan pengendalian administratif, penggunaan alat pelindung pendengaran, dan program kesehatan kerja, namun pengendalian rekayasa teknik masih perlu ditingkatkan. Diperlukan penguatan pengendalian rekayasa, pengawasan kepatuhan APD, dan pemantauan audiometri berkala untuk menekan risiko kesehatan pekerja.</p> Dicky Ramadan Arazs Al Wassiy Yessy Nursya’bani Muzdhalifah Nico Linggi Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2707 2714 10.63004/hrji.v4i6.1411 Upaya Peningkatan Pengetahuan Tentang Asi Ekslusif Terhadap Ibu Hamil Melalui Media Video Animasi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1551 <p>Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada bayi usia 0–6 bulan penting untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi. Rendahnya pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pemberiannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi menggunakan video animasi terhadap pengetahuan ibu hamil trimester III tentang ASI eksklusif. Penelitian ini menggunakan desain <em>pre-experimental</em> dengan pendekatan <em>one group pretest-posttest</em>. Sampel berjumlah 31 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan <em>simple random sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori cukup, sedangkan setelah intervensi seluruh responden memiliki kategori baik. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai <em>p</em> = 0,001 (<em>p</em>&lt;0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan edukasi menggunakan video animasi terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang ASI eksklusif. Disimpulkan bahwa edukasi menggunakan video animasi efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai ASI eksklusif.</p> Windy Salsa Brilianti Ira Titisari Koekoeh Hardjito Susanti Pratamaningtyas Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2715 2720 10.63004/hrji.v4i6.1551 Pengaruh Clitoria Ternatea Tea dan Dzikir Asmaul Husna Terhadap Kualitas Tidur Hipertensi Di Puskesmas Mantup https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1567 <p>Hipertensi merupakan penyakit kronik yang rentan menyebabkan gangguan tidur dan memicu kenaikan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kombinasi terapi <em>clitoria ternatea</em> <em>tea</em> dan dzikir Asmaul Husna terhadap kualitas tidur pasien hipertensi. Desain penelitian menggunakan <em>pre-experimental</em> (<em>one group pretest-posttest design)</em>, dimana populasi sebanyak 171 orang, dan sampel didapatkan 70 pasien dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Intervensi terapi pemberian <em>clitoria ternatea tea</em> dan mendengarkan dzikir Asmaul Husna setiap malam sebelum tidur selama 7 hari. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner PSQI, lembar observasi, SOP tekanan darah, konsumsi <em>clitoria ternatea tea</em> dan dzikir Asmaul Husna. Analisis data menggunakan uji <em>Wilcoxon Sign Test</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden berada pada kategori kualitas tidur sedang (54,3%), setelah diberikan intervensi responden mengalami perbaikan signifikan ke kategori sedang (44,3%) serta baik (42,9%), dengan rerata skor PSQI menurun sebesar 8 poin. Hasil analisis menunjukan terdapat pengaruh secara signifikan dengan nilai <em>p-value</em> 0,000 (p &lt;0,05). ecara fisiologis dan psikologis, kombinasi terapi ini bekerja merangsang reseptor GABA, menekan sekresi hormon kortisol, serta mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, sehingga efektif meredakan stres psikofisiologis dan meningkatkan kualitas tidur pasien hipertensi.</p> Analisa Shendy Herwati Virgianti Nur Faridah Rizky Asta Pramestirini Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2721 2726 10.63004/hrji.v4i6.1567 Pengaruh Edukasi PHBS Menggunakan Media Flash Card Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dalam Pencegahan Diare https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1598 <p><strong>Pendahuluan </strong>Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan berisiko menyebabkan dehidrasi. Rendahnya pengetahuan dan sikap mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko diare. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi PHBS menggunakan media <em>flash card</em> terhadap tingkat pengetahuan dan sikap dalam pencegahan diare pada siswa SDN 1 Jubel Kidul. <strong>Metode</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>pre-experimental</em> dengan pendekatan <em>one group pretest-posttest design</em>. Sampel berjumlah 72 siswa kelas 1–6 yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap mengenai PHBS dalam pencegahan diare. Data dianalisis menggunakan uji <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em>. <strong>Hasil</strong> Sebelum intervensi, sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup dan sikap kategori negatif. Setelah diberikan edukasi, hampir seluruh siswa memiliki tingkat pengetahuan kategori baik dan sikap kategori positif. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh edukasi PHBS menggunakan media <em>flash card</em> terhadap tingkat pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000). <strong>Pembahasan </strong>Edukasi PHBS menggunakan media <em>flash card</em> efektif meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap positif siswa dalam pencegahan diare.</p> Elsa Meylinda Dadang Kusbiantoro Sylvi Harmiardillah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2727 2735 10.63004/hrji.v4i6.1598 Paparan Media Digital dan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja di SMK Kesehatan di Surakarta https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1660 <p>Perilaku seksual berisiko pada remaja dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan kehidupan remaja. Salah satu faktor yang memicu perilaku seksual pranikah pada remaja adalah keberadaan media digital. Media digital memungkinkan remaja memperoleh berbagai informasi dengan cepat, salah satunya informasi dan konten terkait pornografi dan seksualitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan paparan media digital dan perilaku seksual berisiko pada siswa SMK Kesehatan di Surakarta. Penelitian <em>cross sectional </em>ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 119 siswa SMK Kesehatan di Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis datamenggunakan uji statistik secara univariat guna memperoleh karakteristik responden serta distribusi masing-masing variabel penelitian yang disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square (χ²) guna mengetahui hubungan antara paparan media digital dengan perilaku seksual pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan 61,3% responden ada dalam paparan tinggi media digital, namun hanya 3,4% responden yang memiliki perilaku seksual berisiko. Uji statistik mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara paparan media digital dan perilaku seksual berisiko pada remaja dengan nilai <em>p = 0,01. </em>Penelitian ini menyimpulkan bahwa media digital merupakan salah satu faktor yang berisiko terhadap perilaku seksual remaja, namun media digital bukan satu-satunya faktor yang berperan dalam perilaku seksual pada remaja.</p> Atur Semartini Lilik Ariyanti Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2736 2741 10.63004/hrji.v4i6.1660 Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Picky Eating pada Anak Usia Prasekolah di TK Islam Bakti Kauman Batang https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1596 <p><strong>Latar Belakang</strong>: <em>Picky eating</em> merupakan salah satu masalah perilaku makan yang sering dijumpai pada anak usia prasekolah dan berkaitan dengan kecukupan asupan gizi serta pertumbuhan anak. Pola asuh orang tua merupakan aspek pengasuhan yang sering dikaji dalam hubungannya dengan perilaku makan anak, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang belum konsisten. <strong>Tujuan</strong>: Menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku <em>picky eating</em> pada anak usia prasekolah di TK Islam Bakti Kauman Batang. <strong>Metode</strong>: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 46 orang tua yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Pola asuh orang tua diukur menggunakan <em>Parenting Styles and Dimensions Questionnaire–Short Form</em> (PSDQ-SF), sedangkan perilaku <em>picky eating</em> diukur menggunakan subskala <em>Food Fussiness</em> dari <em>Children's Eating Behaviour Questionnaire</em> (CEBQ). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. <strong>Hasil</strong>: Sebagian besar responden menerapkan pola asuh orang tua demokratis (52,2%), sedangkan 41,3% anak mengalami perilaku <em>picky eating</em>. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua dengan perilaku <em>picky eating</em> (r = -0,612; p &lt; 0,001). <strong>Kesimpulan</strong>: Terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orang tua dengan perilaku <em>picky eating</em> pada anak usia prasekolah di TK Islam Bakti Kauman Batang.</p> Hesti Fathan Nurfais Fauziah Fatikhah Penthatasya Yulia Ardiyanti Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2742 2748 10.63004/hrji.v4i6.1596 Hubungan Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan dengan Kepuasan Pasien Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di RSUD Ratu Zalecha Martapura https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1566 <p><!--StartFragment--></p> <p>Latar Belakang: Waktu tunggu pelayanan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Waktu tunggu yang melebihi standar dapat menurunkan kualitas pelayanan dan berdampak terhadap kepuasan pasien. RSUD Ratu Zalecha Martapura masih menghadapi permasalahan waktu tunggu pelayanan rawat jalan yang belum sepenuhnya memenuhi standar ≤60 menit. Tujuan: Menganalisis hubungan waktu tunggu pelayanan rawat jalan dengan kepuasan pasien berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di RSUD Ratu Zalecha Martapura Tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling.</em> Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rho dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Sebanyak 56 responden (56%) mengalami waktu tunggu sesuai standar SPM (≤60 menit), sedangkan 44 responden (44%) mengalami waktu tunggu melebihi standar. Tingkat kepuasan menunjukkan 62 responden (62%) merasa puas dan 38 responden (38%) tidak puas. Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai p=0,002 (&lt;0,05) dengan koefisien korelasi r=0,302 yang menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu pelayanan rawat jalan dengan kepuasan pasien. Semakin sesuai waktu tunggu dengan Standar Pelayanan Minimal, semakin tinggi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan rawat jalan di RSUD Ratu Zalecha Martapura.</p> <p><!--EndFragment--></p> Gusti Muhammad Nizar H. Raziansyah Any Zahrotul Widniah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2749 2754 10.63004/hrji.v4i6.1566 Analisis Faktor Yang Memengaruhi Kepatuhan Minum Obat Pasien Lansia Diabetes Melitus Tipe 2 Puskesmas Sikumana https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1638 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang banyak diderita lansia dan berisiko tinggi menimbulkan komplikasi. Keberhasilan terapi DM sangat bergantung pada kepatuhan minum obat, sedangkan ketidakpatuhan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien. Hingga saat ini belum ada penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien lansia DM tipe 2 di Puskesmas Sikumana. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien lansia DM tipe 2 di Puskesmas Sikumana, meliputi faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama terdiagnosis, dan penyakit penyerta) pengetahuan, dan dukungan keluarga. <strong>Metode:</strong> Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional pada 91 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi, DKQ, MARS-5, dan HDFSS, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji <em>Chi-Square</em>/<em>Fisher's Exact Test</em>. <strong>Hasil:</strong> Sebanyak 57 responden (62,6%) tidak patuh dan 34 responden (37,4%) patuh minum obat. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara usia (<em>p</em>=1,000), jenis kelamin (<em>p</em>=0,364), tingkat pendidikan (<em>p</em>=0,192), lama terdiagnosis (<em>p</em>=0,393), penyakit penyerta (<em>p</em>=0,647), dan pengetahuan (<em>p</em>=0,499) dengan kepatuhan minum obat. Sebaliknya, dukungan keluarga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan minum obat (<em>p</em>=0,022). <strong>Simpulan:</strong> Dukungan keluarga merupakan satu-satunya faktor yang signifikan mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien lansia DM tipe 2 di Puskesmas Sikumana.</p> Fiyona Geraldine Nalle Magdarita Riwu Cahyani Purnasari Syahrir Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2755 2765 10.63004/hrji.v4i6.1638 Gambaran Posttraumatic Growth (PTG) Pada Mahasiswa Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1384 <p>Pendahuluan: Mahasiswa kesehatan berisiko mengalami berbagai peristiwa traumatis yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Namun, tidak semua individu mengalami dampak negatif karena sebagian dapat mengalami Posttraumatic Growth (PTG), yaitu perubahan psikologis positif setelah menghadapi trauma. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Posttraumatic Growth pada mahasiswa kesehatan Universitas Negeri Gorontalo. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel berjumlah 307 mahasiswa dari Program Studi Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, dan Kesehatan Masyarakat yang dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, paparan kejadian traumatis, dan Posttraumatic Growth Inventory (PTGI). Analisis data dilakukan secara univariat dengan penyajian distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Mayoritas responden berusia 18–21 tahun (96,7%) dan berjenis kelamin perempuan (85,0%). Jenis trauma yang paling banyak dialami adalah kehilangan orang yang dicintai (31,7%). Sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat PTG rendah (52,8%), sedangkan 47,2% berada pada kategori tinggi. Domain PTG dengan proporsi kategori tinggi terbesar adalah Relating to Others (47,6%). Simpulan: Mahasiswa kesehatan Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan kecenderungan PTG yang masih rendah, meskipun sebagian telah mengalami pertumbuhan psikologis positif setelah peristiwa traumatis.</p> Siti Hajar Salawali Nanang Roswita Anisa Zubaedi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2766 2770 10.63004/hrji.v4i6.1384 Bukan Sekadar Alat dan Prosedur: Reorientasi Intervensi Multidimensi pada Kecemasan Simulasi OSCE Kebidanan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1590 <p><strong>Pendahuluan:</strong> <em>Objective Structured Clinical Examination</em> (OSCE) merupakan metode evaluasi kompetensi klinis yang objektif, namun berpotensi menjadi <em>stressor</em> psikologis bagi mahasiswi tingkat awal. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pengenalan prosedur OSCE dan infrastruktur laboratorium terhadap tingkat kecemasan mahasiswi dalam menghadapi simulasi OSCE. <strong>Metode:</strong> Desain kuantitatif analitik potong-lintang (<em>cross-sectional</em>) digunakan dengan teknik <em>total sampling</em> pada mahasiswi semester II D-III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang. Setelah fase <em>data cleaning</em>, diperoleh 64 sampel efektif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner adaptasi dan skala standar <em>Zung Self-Rating Anxiety Scale</em> (ZSAS), lalu dianalisis melalui uji regresi linier berganda. <strong>Hasil:</strong> Analisis deskriptif menunjukkan mayoritas responden mengalami kecemasan tingkat sedang (70,3%). Hasil regresi linear berganda membuktikan bahwa secara parsial maupun simultan, pengenalan prosedur OSCE (<em>p</em>=0,249) dan infrastruktur laboratorium (<em>p</em>=0,924) tidak berpengaruh signifikan terhadap kecemasan (<em>p</em>&gt;0,05). Nilai konstanta yang tinggi sebesar 52,444 (<em>p</em>&lt;0,001) mengonfirmasi adanya kecemasan dasar (<em>baseline</em>) yang nyata pada mahasiswi pemula. Nilai <em>R Square</em> sebesar 0,025 menunjukkan bahwa model eksternal ini hanya berkontribusi sebesar 2,5% terhadap variasi kecemasan. <strong>Simpulan:</strong> Kesiapan fasilitas fisik dan pengenalan prosedur makro tidak serta-merta mereduksi kecemasan antisipasi. Institusi disarankan beralih fokus pada penguatan aspek psikologis internal melalui manajemen stres dan peningkatan efikasi diri.</p> Retno Imami Annisa Sali Pinaremas Hak Cipta (c) 2026 2026-08-28 2026-08-28 4 6 2771 2779 10.63004/hrji.v4i6.1590 Rancangan Program Kesehatan Kerja Berdasarkan Analisis Ergonomi pada Pekerja Pengelasan Di PT. XYZ https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1410 <p>Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu aktivitas kerja dengan risiko ergonomi tinggi akibat postur kerja tidak ergonomis, gerakan berulang, dan durasi kerja yang panjang sehingga berpotensi menyebabkan <em>Musculoskeletal disorders</em> (MSDs). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat risiko ergonomi, mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal pekerja, serta merancang program kesehatan kerja berbasis ergonomi pada pekerja pengelasan di PT. XYZ. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan subjek sebanyak tujuh pekerja pengelasan. Penilaian risiko postur kerja dilakukan menggunakan metode <em>Rapid Upper Limb Assessment</em> (RULA) dan <em>Rapid Entire Body Assessment</em> (REBA), sedangkan keluhan muskuloskeletal diukur menggunakan kuesioner GOTRAK berdasarkan SNI 9011:2021. Hasil penilaian menunjukkan bahwa aktivitas pengelasan duduk membungkuk memperoleh skor RULA 7 dan REBA 10, sedangkan aktivitas pengelasan posisi jongkok/menunduk memperoleh skor RULA 6 dan REBA 9, yang keduanya termasuk kategori risiko tinggi. Survei GOTRAK menunjukkan keluhan dominan pada punggung atas, punggung bawah, leher, bahu, dan lutut. Analisis HIRADC mengidentifikasi enam bahaya ergonomi dengan postur membungkuk ekstrem sebagai risiko tertinggi. Berdasarkan hasil tersebut, dirancang program kesehatan kerja yang meliputi rekayasa <em>workstation</em>, pelatihan ergonomi, pengaturan rotasi kerja dan <em>microbreak</em>, surveilans kesehatan berkala, program penguatan fisik, serta monitoring dan evaluasi program. Program yang dirancang diharapkan mampu mengurangi risiko MSDs dan meningkatkan kesehatan serta produktivitas pekerja pengelasan.</p> Feiyi Ruth Helena Simbolon Hamy Afidah Talin Maura Cahya Cantika Putri Nico Linggi Pongmasangka Hak Cipta (c) 2026 2026-08-29 2026-08-29 4 6 2780 2790 10.63004/hrji.v4i6.1410 Evaluasi Kejadian Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Pagelaran Kabupaten Pringsewu https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1445 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) berlangsung dalam waktu lama dan berpotensi menimbulkan efek samping yang memengaruhi kepatuhan serta keberhasilan terapi. <strong>Tujuan:</strong> Mengevaluasi kejadian efek samping OAT pada pasien TB di Rawat Jalan Puskesmas Pagelaran, Kabupaten Pringsewu. <strong>Metode:</strong> Penelitian observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> pada 50 pasien TB yang memenuhi kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan lembar <em>checklist</em> dan kuesioner Naranjo, kemudian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji Chi-Square. <strong>Hasil:</strong> Efek samping yang paling sering ditemukan yaitu perubahan warna urin menjadi kemerahan (32,43%), nyeri sendi (12,16%), pusing (10,81%), mual muntah (10,81%), dan penurunan nafsu makan (13,51%). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia pasien dan kejadian efek samping OAT (p&lt;0,05). <strong>Simpulan:</strong> Efek samping OAT masih sering terjadi pada pasien TB, dengan perubahan warna urin menjadi kemerahan sebagai efek samping terbanyak. Usia berhubungan signifikan dengan kejadian efek samping sehingga diperlukan pemantauan yang lebih intensif selama pengobatan.</p> Yoga Pratama Iskandar Martianus Perangin Angin Gusti Ayu Rai Saputri Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2791 2799 10.63004/hrji.v4i6.1445 Analisis Pola Konsumsi Pangan Terhadap Kejadian Malnutrisi Pada Lansia Di Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1559 <p>Penurunan fungsi fisiologis meningkatkan risiko malnutrisi pada populasi lanjut usia (lansia). Walaupun Kecamatan Langgudu memiliki potensi pangan lokal yang melimpah, prevalensi gizi kurang pada lansia di wilayah ini terus meningkat hingga mencapai 24,7% pada tahun 2023. Penelitian ini menganalisis pengaruh pola konsumsi pangan lokal terhadap kejadian malnutrisi lansia di Kecamatan Langgudu. Penelitian observasional analitik berdesain cross-sectional ini melibatkan 96 responden lansia. Peneliti mengukur pola konsumsi menggunakan instrumen <em>Food Frequency Questionnaire </em>(FFQ) dan menilai kejadian malnutrisi menggunakan <em>Mini Nutritional Assessment </em>(MNA) serta status gizi. Analisis data menggunakan uji statistik <em>Chi-Square</em>. Hasil penelitian menunjukkan 77,1% lansia memiliki pola konsumsi pangan kurang dan 53,1% mengalami malnutrisi. Uji statistik membuktikan terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara pola konsumsi pangan dengan kejadian malnutrisi (p-<em>value </em>= 0,000). Seluruh lansia dengan pola konsumsi baik terhindar dari malnutrisi, sedangkan 68,9% lansia berpola konsumsi kurang terdiagnosis malnutrisi. Kesimpulannya, kualitas pola konsumsi pangan lokal menentukan status gizi lansia secara langsung. Optimalisasi pemanfaatan pangan endemik terbukti efektif mencegah malnutrisi pada kelompok geriatri.</p> Anisaturahmah Ningrum Dea Zara Avila Aris Iwansyah M. Noris Dedent Ekabimma Hariyanto S Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2800 2807 10.63004/hrji.v4i6.1559 Hubungan Pengalaman Kerja Dan Akses Internet Terhadap Implementasi Rekam Medis Elektronik Di Fasyankes: Meta Analisis https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1612 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) di fasilitas pelayanan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan mutu pelayanan, namun keberhasilannya dipengaruhi kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung. Tujuan: menganalisis dan mengestimasi besaran hubungan pengalaman kerja tenaga kesehatan dan akses internet dengan keberhasilan implementasi RME melalui pendekatan meta-analisis. <strong>Subjek dan Metode:</strong> Studi tinjauan sistematis dan meta-analisis dengan kriteria PICO: tenaga kesehatan (P), pengalaman kerja dan akses internet (I), tanpa pengalaman kerja dan akses internet (C), serta implementasi RME (O). Pencarian artikel tahun 2021–2026 menggunakan database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan SpringerLink. Kriteria inklusi meliputi studi cross-sectional dengan adjusted Odds Ratio (aOR). Kelayakan artikel dinilai dengan instrumen CEBM, diseleksi melalui diagram PRISMA, dan dianalisis menggunakan Review Manager 5.3. <strong>Hasil:</strong> Meta-analisis 7 studi menunjukkan tenaga kesehatan berpengalaman kerja memiliki peluang 2.04 kali lebih besar mengimplementasikan RME dibanding yang tidak berpengalaman (aOR=2.04; 95% CI=1.53–2.71; p=0.0001). Analisis 7 studi lainnya menunjukkan tenaga kesehatan dengan akses internet berpeluang 1.64 kali lebih besar menerapkan RME dibanding yang tidak memiliki akses (aOR=1.64; 95% CI=1.27–2.11; p=0.0001). <strong>Kesimpulan:</strong> Pengalaman kerja dan ketersediaan akses internet secara signifikan meningkatkan peluang keberhasilan implementasi RME di fasilitas pelayanan kesehatan.</p> Aem Ismail Sri Lestari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2808 2815 10.63004/hrji.v4i6.1612 Efektivitas Antibiotik dan Tantangan Resistensi pada Infeksi Saluran Kemih: Tinjauan Naratif https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1625 <p>Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling sering terjadi secara global dan menjadi penyebab utama penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan meningkatnya resistensi antimikroba di berbagai negara. Kondisi ini menjadi tantangan dalam praktik klinis karena dapat menyebabkan kegagalan terapi, peningkatan komplikasi, serta meningkatnya beban ekonomi pada sistem kesehatan. Tinjauan ini bertujuan untuk menelaah penggunaan antibiotik pada infeksi saluran kemih serta mengevaluasi pola resistensi antimikroba yang berkembang pada uropatogen. Metode menggunakan pendekatan <em>narrative review</em> dengan menelusuri artikel ilmiah dari database PubMed, Scopus, dan ScienceDirect dalam rentang waktu tahun 2020 hingga 2026. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa <em>Escherichia coli</em> merupakan patogen utama penyebab ISK yang diperkirakan menyebabkan sekitar 75–80% ISK pada populasi rawat jalan. Fosfomisin trometamol, nitrofurantoin, pivmecillinam, dan nitroxoline merupakan pilihan terapi utama yang direkomendasikan pada <em>localized</em> <em>UTI</em> sedangkan pada <em>systemic</em> UTI terapi menekankan pentingnya kultur urin dan uji sensitivitas pada pasien. Peningkatan resistensi terhadap antibiotik fluoroquinolone dan trimetoprim-sulfametoksazol dilaporkan secara luas di berbagai wilayah. Penggunaan antibiotik pada ISK harus dilakukan secara rasional dan berbasis bukti dengan mempertimbangkan pola resistensi lokal serta prinsip <em>antibiotic stewardship</em> guna meningkatkan efektivitas terapi dan menekan perkembangan resistensi antimikroba.</p> Nisriyati Fiddina Anggita Mira Azhari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2816 2821 10.63004/hrji.v4i6.1625 Perilaku Konsumsi Minuman Kemasan Sebagai Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik pada Siswa SMA Kota Bengkulu https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1649 <p>Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat secara global. Perubahan pola konsumsi remaja, terutama meningkatnya konsumsi minuman berpemanis seperti minuman bersoda dan minuman berenergi, diduga berkontribusi terhadap peningkatan faktor risiko GGK melalui mekanisme gangguan metabolik dan penurunan fungsi ginjal. Informasi mengenai pola konsumsi minuman kemasan pada remaja di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku konsumsi minuman kemasan sebagai faktor risiko penyakit ginjal kronik pada siswa SMAN 1 Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 90 siswa yang dipilih menggunakan teknik <em>proportional strafed random sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar responden berusia 16 tahun (46,9%), berjenis kelamin perempuan (53,1%), dan memiliki status ekonomi keluarga sedang (66,3%). Sebanyak 50,0% responden jarang mengonsumsi minuman bersoda, 54,4% jarang mengonsumsi minuman berenergi, sedangkan 45,6% hanya mengonsumsi air putih sebanyak 1000 – 1999 ml per hari. Sebagian besar responden (91,9%) tidak memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga. Meskipun mayoritas siswa berada pada kategori jarang mengonsumsi minuman berpemanis, masih terdapat kelompok remaja yang mengonsumsi minuman tersebut setiap hari serta memiliki konsumsi air putih yang belum optimal.</p> Ikhsan Ikhsan Titin Aprilatutini Tessa Kapia Ulandari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2822 2828 10.63004/hrji.v4i6.1649 Deteksi Bakteri Pada Pus Jerawat Mahasiswa Di Lingkungan Kampus Kurnia Makmur Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1634 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Jerawat (<em>acne vulgaris</em>) merupakan penyakit kulit inflamasi yang sering terjadi pada remaja dan dewasa muda akibat peningkatan produksi sebum, penyumbatan folikel, serta kolonisasi bakteri. Identifikasi bakteri pada pustula jerawat penting untuk mengetahui profil mikrobiologi lesi sebagai dasar pengelolaan jerawat. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri yang diisolasi dari pus jerawat mahasiswa di Kampus Kurnia Makmur Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. <strong>Metode:</strong> Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Sebanyak 20 sampel pus jerawat dikultur pada media <em>Brain Heart Infusion Broth</em> (BHIB), <em>Blood Agar</em> (BA), <em>MacConkey Agar</em> (MC), <em>Mannitol Salt Agar</em> (MSA), dan <em>Deoxyribonuclease Agar </em>(DNase). Identifikasi bakteri dilakukan berdasarkan karakteristik koloni, pewarnaan Gram, dan uji biokimia, kemudian dianalisis secara deskriptif. <strong>Hasil:</strong> Seluruh sampel menunjukkan pertumbuhan pada media BHIB, sedangkan pertumbuhan pada BA dan MC masing-masing sebesar 95% dan 5%. Dari 24 isolat yang diperoleh, bakteri Gram positif mendominasi (96%), terdiri atas <em>Staphylococcus epidermidis</em> (33%), <em>Bacillus</em> <em>sp.</em> (30%), <em>Staphylococcus aureus</em> (25%), dan <em>Cutibacterium acnes</em> (8%), sedangkan bakteri Gram negatif hanya <em>Klebsiella pneumoniae</em> (4%). <strong>Simpulan:</strong> Bakteri Gram positif merupakan kelompok bakteri yang paling banyak diisolasi dari pus jerawat mahasiswa, dengan <em>S. epidermidis</em> sebagai spesies yang paling dominan.</p> Lengken Seilpina Lestari Tiara Dini Harlita I Gede Andika Sukarya Agus Evendi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2829 2835 10.63004/hrji.v4i6.1634 Perubahan Kualitas Thrombocyte Concentrate Berdasarkan Kadar Glukosa, LDH dan MPV Selama Penyimpanan Hari ke- 1, 3 dan 5 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1694 <p><em>Thrombocyte Concentrate</em> (TC) disimpan maksimal lima hari pada suhu 20–24°C dengan agitasi kontinu. Selama penyimpanan, terjadi <em>platelet storage lesion</em> yang menurunkan kualitas TC. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kualitas TC berdasarkan kadar glukosa, <em>Lactate Dehydrogenase</em> (LDH), dan <em>Mean Platelet Volume</em> (MPV) selama penyimpanan hari ke-1, 3, dan 5. Penelitian eksperimental dengan rancangan <em>repeated measures</em> ini menggunakan 30 kantong TC (<em>purposive sampling</em>). Kadar glukosa dan LDH diukur menggunakan Cobas c311, sedangkan MPV menggunakan Sysmex XN-1000. Uji statistik disesuaikan dengan distribusi data. Hasil menunjukkan rerata glukosa menurun signifikan dari 456,63±40,86 mg/dL (hari ke-1) menjadi 443,27±47,66 mg/dL (hari ke-3) dan 429,00±50,35 mg/dL (hari ke-5) (p&lt;0,001). Rerata LDH meningkat dari 151,03±41,23 U/L menjadi 173,30±60,03 U/L dan 180,40±67,25 U/L (p&lt;0,001), serta rerata MPV meningkat dari 8,11±0,51 fL menjadi 8,96±0,57 fL dan 10,59±0,79 fL (p&lt;0,001). Disimpulkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas TC melalui perubahan metabolik, kerusakan membran, dan perubahan morfologi trombosit.</p> Nur Hasirin Suci Indah Astuti Muhammad Fahmi Aminuddin La Ode Marsudi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2836 2843 10.63004/hrji.v4i6.1694 Efektivitas Pelatihan Abdominal Effleurage Massage dan Akupresur terhadap Kemampuan Self-Management Dismenorea pada Mahasiswa https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1708 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Dismenorea primer merupakan keluhan nyeri haid yang umum dialami mahasiswa usia reproduktif dan berdampak signifikan terhadap aktivitas akademik serta kualitas hidup, sehingga diperlukan strategi <em>self-management</em> yang efektif dan aman tanpa bergantung pada terapi farmakologis. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan <em>abdominal effleurage massage </em>dan akupresur (SP6, SP8, LR3, dan CV4) terhadap peningkatan kemampuan <em>self-management</em> dismenorea pada mahasiswa dengan dismenorea primer. <strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan desain <em>quasi-experimental </em>melalui pendekatan <strong><em>one-group pretest–posttest design</em></strong>, melibatkan 25 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Skala nyeri diukur menggunakan <em>Visual Analog Scale</em> (VAS) dan kemampuan self-management diukur menggunakan instrumen <em>Adolescent Dysmenorrhea Self-Care Scale</em> (ADSCS) sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample t-Test. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan rerata skor ADSCS meningkat dari 84,84 (SD = 13,39) pada pretest menjadi 102,24 (SD = 16,19) pada posttest, dengan hasil uji t(24) = 4,128 dan p = 0,001 (p &lt; 0,05), serta effect size (Cohen's d) sebesar 0,826 yang tergolong besar. Selain itu intervensi juga menurunkan derajat nyeri dari skala berat 32,0% menjadi 0,0%. <strong>Simpulan:</strong> Pelatihan <em>abdominal effleurage massage</em> dan akupresur efektif meningkatkan kemampuan self-management dismenorea secara signifikan, sehingga dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan komplementer bagi mahasiswa dengan dismenorea primer.</p> Andi Sri Ulfi Megawati Sibulo Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2844 2851 10.63004/hrji.v4i6.1708 Pengaruh Kehamilan Remaja Dan Status Gizi Terhadap Luaran Perinatal Di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1750 <p>Latar belakang: Luaran perinatal seperti BBLR, prematuritas, asfiksia neonatorum, dan kematian bayi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kehamilan remaja dan status gizi ibu diduga berhubungan dengan luaran perinatal. Tujuan: Menganalisis hubungan kehamilan remaja dan status gizi ibu hamil dengan luaran perinatal di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Metode: Penelitian Retrospective Cohort dengan pendekatan observasional analitik melibatkan 980 ibu hamil. Analisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik biner. Hasil: Kehamilan remaja dan status gizi berhubungan signifikan dengan BBLR, prematuritas, asfiksia neonatorum, dan kematian bayi (p&lt;0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa status gizi merupakan faktor paling dominan terhadap luaran perinatal. Kesimpulan: Kehamilan remaja dan status gizi ibu berhubungan dengan luaran perinatal, dengan status gizi sebagai faktor yang paling dominan. Upaya perbaikan gizi ibu dan pencegahan kehamilan remaja diperlukan untuk meningkatkan luaran perinatal.</p> Mari Maryati Juda Julia Kristiarini Hargianti Dini Iswandari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2852 2862 10.63004/hrji.v4i6.1750 Health seeking behavior Masyarakat Dayak Dalam Memilih Ritual Balian Sebagai Pengobatan Tradisional https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1740 <p>Praktik pengobatan tradisional melalui ritual balian masih menjadi pilihan sebagian masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan meskipun pelayanan kesehatan modern telah tersedia. Keputusan mencari pengobatan tidak hanya dipengaruhi aspek medis, tetapi juga faktor sosial budaya, kepercayaan, dan pengalaman pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis <em>health seeking behavior </em>masyarakat Dayak dalam memilih ritual balian sebagai pengobatan tradisional di kaki Gunung Haur Bunak, Kalimantan Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri atas pasien, tokoh balian, dan tokoh masyarakat sebagai informan triangulasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan dua faktor utama, yaitu <em>attitude toward health service </em>&nbsp;dan <em>knowledge about disease</em>. Kemudahan akses, biaya terjangkau, pelayanan cepat, dan prosedur sederhana membentuk persepsi positif terhadap ritual balian. Pengetahuan penyakit dipengaruhi pengalaman, kepercayaan terhadap tokoh balian, dukungan keluarga, dan nilai budaya yang diwariskan. Disimpulkan bahwa pemilihan ritual balian merupakan hasil interaksi faktor pelayanan, budaya, kepercayaan, pengalaman, dan keluarga. Promosi kesehatan masyarakat adat perlu mempertimbangkan nilai budaya lokal.</p> M Fajriannor Khairatun Nisa Nadya Novianty Norul Hikmah Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2863 2872 10.63004/hrji.v4i6.1740 Optimalisasi Pengetahuan Keluarga Tentang Hand Hygiene Di Ruang Rawat Inap https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1420 <p>Rumah sakit merupakan tempat yang berisiko terjadinya penularan infeksi. Salah satu upaya pencegahan yang efektif adalah penerapan <em>hand hygiene</em> untuk mengurangi jumlah mikroorganisme dan mencegah transmisi silang. Berdasarkan hasil <em>pre-survey</em> terhadap 10 keluarga pasien, sebanyak 70% memiliki pengetahuan kurang dan 30% memiliki pengetahuan baik mengenai <em>hand hygiene</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan keluarga pasien dalam melakukan <em>hand hygiene</em>. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel berjumlah 20 responden, dengan analisis data menggunakan uji <em>paired t-test</em>. Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,0001 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah diberikan edukasi. Kesimpulannya, edukasi <em>hand hygiene</em> berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan keluarga pasien sehingga dapat mendukung upaya pencegahan infeksi di rumah sakit.</p> Dewi Kusumaningsih Beatrick Rosali Nasta Rudi Winarno Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2873 2877 10.63004/hrji.v4i6.1420 Pengaruh Masker Aloe Vera Terhadap Acne Vulgaris Pada Remaja Putri Di SMP Muhammadiyah 1 Babat Lamongan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1526 <p><em>Acne vulgaris </em>merupakan masalah kulit yang sering terjadi pada remaja putri akibat bakteri <em>cutibacterium acnes </em>ditandai dengan komedo, papula, pustula, nodul. Salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan adalah masker <em>aloe vera </em>yang memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masker <em>aloe vera </em>terhadap <em>acne vulgaris </em>pada remaja putri. Menggunakan desain penelitian <em>pre-experimental </em>dengan pendekatan <em>one group pretest-postest design</em>. Seluruh remaja putri yang mengalami <em>acne vulgaris </em>sebanyak 25 dengan sampel 24 yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independen adalah masker <em>aloe vera </em>dan variabel dependen adalah <em>acne vulgaris</em>. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi yang dianalisis dengan uji <em>wilcoxon </em>sebelum dan sesudah pemberian masker <em>aloe vera</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pemberian masker <em>aloe vera </em>14 remaja putri (58,3%) mengalami <em>acne vulgaris </em>tingkat ringan, sedangkan setelah perlakuan jumlah remaja putri yang berada pada kategori ringan meningkat menjadi 22 orang (91,7%). Dari hasil uji statistik <em>Wilcoxon </em>didapatkan hasil p=0,003, sehingga p &lt;0,05 yang berarti H₀ ditolak H₁ diterima membuktikan ada pengaruh pemberian masker <em>aloe vera </em>terhadap <em>acne vulgaris</em>. Masker <em>aloe vera </em>bisa menjadi salah satu pilihan alternatif terapi non-farmakologis yang aman, alami, dan mudah didapat untuk merawat kulit yang mengalami <em>acne vulgaris </em>pada remaja putri.</p> Hesti Shofiyyah Oktafiani Sulistiyowati Sulistiyowati Lilin Turlina Ponco Indah Arista Sari Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2878 2885 10.63004/hrji.v4i6.1526 Hubungan Kesiapsiagaan Ibu Dengan Upaya Mencegah Keracunan Pada Anak SDN 2 Campang Raya Bandar Lampung https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1604 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Keracunan makanan merupakan masalah kegawatdaruratan yang dapat menyebabkan kematian. WHO memperkirakan sekitar 70% dari 1,5 miliar kasus <em>foodborne disease</em> berkaitan dengan pangan terkontaminasi dan menyebabkan jutaan kasus diare serta sekitar tiga juta kematian setiap tahun. Di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan meningkat dari 70 kejadian dengan 3.130 kasus pada 2021 menjadi 198 kejadian dengan 7.003 kasus hingga September 2024. Kasus terbanyak terjadi pada anak usia sekolah dasar. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan kesiapsiagaan ibu dengan upaya mencegah keracunan pada anak di SDN 2 Campang Raya Kota Bandar Lampung Tahun 2026. <strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em> menggunakan survei analitik. Populasi sekaligus sampel sebanyak 82 ibu yang memiliki anak kelas 1–3. <strong>Hasil:</strong> Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (84,1%), berpendidikan SMA (67,1%), tidak bekerja/IRT (59,8%), dan memiliki dua anak (41,5%). Sebagian besar memiliki kesiapsiagaan (62,2%) dan upaya pencegahan (52,4%) yang kurang baik. Terdapat hubungan signifikan antara kesiapsiagaan ibu dengan upaya mencegah keracunan pada anak (p=0,000; OR=8,229). <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat hubungan erat antara kesiapsiagaan ibu dengan upaya mencegah keracunan pada anak, dengan lebih dari 50% ibu masih memiliki kesiapsiagaan dan upaya pencegahan yang kurang baik.</p> Aurel Veny Marshanda Aryanti Wardiah Rilyani Rilyani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2886 2891 10.63004/hrji.v4i6.1604 Faktor Psikososial dan Pengetahuan yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan pada Pasien hipertensi di RSUD Kuala Kurun https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1616 <p>Kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengendalian hipertensi. Faktor psikososial dan pengetahuan diduga memengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, dan <em>self-efficacy</em> terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi di RSUD Kuala Kurun. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 287 pasien hipertensi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, dukungan keluarga, <em>Medication Adherence Self-Efficacy Scale-Revised</em> (MASES-R), dan <em>Morisky Medication Adherence Scale-8</em> (MMAS-8). Analisis data meliputi analisis univariat dan uji Pearson Chi-Square dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 36–45 tahun (36,2%), berjenis kelamin laki-laki (63,4%), berpendidikan SMA (34,1%), dan bekerja sebagai petani (37,3%). Mayoritas responden memiliki pengetahuan baik (54,0%), dukungan keluarga kurang (44,3%), <em>self-efficacy</em> rendah (66,6%), serta kepatuhan minum obat tinggi (64,1%). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,007), dan <em>self-efficacy</em> (p=0,012) berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat. Kesimpulan: Faktor pengetahuan serta faktor psikososial berupa dukungan keluarga dan <em>self-efficacy</em> berhubungan signifikan dengan kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi di RSUD Kuala Kurun. Upaya peningkatan kepatuhan perlu mengintegrasikan edukasi pasien, penguatan dukungan keluarga, dan peningkatan <em>self-efficacy</em> dalam pengelolaan hipertensi.</p> Febri Kurniawati Bayu Budi Laksono Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2892 2898 10.63004/hrji.v4i6.1616 Evaluasi Perhitungan Overhead Cost IGD Berbasis Activity Based Costing Dalam Meningkatkan Efisiensi Biaya Rawat Jalan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1646 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Perhitungan biaya pelayanan kesehatan yang akurat merupakan faktor penting dalam mendukung efisiensi pengelolaan rumah sakit. Penggunaan metode perhitungan biaya tradisional dalam mengalokasikan biaya <em>overhead</em> sering menimbulkan distorsi biaya karena tidak mempertimbangkan konsumsi aktivitas secara spesifik. <strong>Tujuan:</strong> Untuk mengevaluasi penerapan <em>Activity-Based Costing (ABC)</em> dalam perhitungan <em>overhead cost</em> Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta menganalisis kontribusinya terhadap peningkatan efisiensi biaya rawat jalan. <strong>Metode: </strong>Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, serta analisis dokumen keuangan rumah sakit. Analisis dilakukan melalui identifikasi aktivitas, pengelompokan aktivitas ke dalam <em>cost pool</em>, penentuan <em>cost driver</em>, pembebanan biaya menggunakan metode ABC, dan triangulasi sumber data. <strong>Hasil:</strong>Metode <em>Activity-Based Costing</em> mampu mengalokasikan biaya <em>overhead</em> secara lebih proporsional berdasarkan aktivitas yang mengonsumsi sumber daya dibandingkan metode tradisional. Informasi biaya yang dihasilkan menjadi lebih akurat sehingga mendukung pengambilan keputusan manajerial, evaluasi efisiensi penggunaan sumber daya, serta penyusunan tarif pelayanan yang lebih rasional. Implementasi metode ABC masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sistem informasi manajemen rumah sakit, kompleksitas aktivitas pelayanan, dan kesiapan sumber daya manusia. <strong>Simpulan: </strong>Penerapan <em>Activity-Based Costing</em> berpotensi meningkatkan efisiensi biaya rawat jalan melalui penyediaan informasi biaya yang lebih akurat dan dapat dijadikan dasar dalam pengendalian biaya serta perencanaan keuangan rumah sakit.</p> I Gede Pramana Yogi Angestu Rian Andriani Mira Veranita Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2899 2907 10.63004/hrji.v4i6.1646 Uji Efektivitas Antidiabetes Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia) Terhadap Mencit (Mus musculus) Yang Diinduksi Aloksan https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1481 <p>Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh peningkatan kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja insulin. Penyakit ini terus mengalami peningkatan prevalensi dan menjadi salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan penanganan yang serius. Penggunaan obat antidiabetes sintetis secara berkelanjutan diketahui dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan, sehingga diperlukan alternatif herbal seperti daun binahong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serta menentukan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi aloksan. Penelitian rancangan eksperimen ini menggunakan 25 mencit jantan yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, serta kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak 100, 200, dan 400 mg/kgBB. Hasil penelitian ini diuji menggunakan One-Way ANOVA dan menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap penurunan kadar glukosa darah (p&lt;0,05), yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun binahong berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit. Dilanjutkan dengan uji tukey tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok ekstrak dengan kelompok kontrol positif (p&gt;0,05). Di antara seluruh dosis, dosis 400 mg/kgBB menunjukkan rerata penurunan kadar glukosa darah terbesar (-133,00 ± 10,62 mg/dL) dibandingkan dengan dosis lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, dosis 400mg/kgBB dapat dipertimbangkan sebagai dosis yang memberikan aktivitas antidiabetes paling optimal.</p> Putri Isauraamabel Tangahu Moh Rivaldi Mappa Rizky Resvita R Bahi Windi Astuti Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2908 2917 10.63004/hrji.v4i6.1481 Perbandingan Aktivitas Antidiabetik antara Ekstrak Daun Alpokat dan Ekstrak Rimpang Temulawak Tunggal https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1603 <p>Prevalensi Diabetes Melitus terus meningkat, sementara obat-obatan sintetis menggunakan bahan baku dari luar negeri dan sering kali menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Indonesia dikenal memiliki ribuan tanaman berkhasiat obat, termasuk daun alpokat dan rimpang temulawak, yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan untuk mengobati Diabetes Melitus. Praktik penggunaan empiris ini bervariasi ada yang hanya menggunakan daun alpokat, ada yang hanya menggunakan rimpang temulawak, dan ada pula yang mengombinasikan keduanya tanpa adanya standar dosis yang seragam. Tujuan penelitian: Mengidentifikasi aktivitas antidiabetes dari ekstrak daun alpokat dan rimpang temulawak, baik secara tunggal maupun kombinasi. Metode Penelitian: <em>True experimental</em> dengan desain <em>Pre-Posttest Control Group</em>. Sampel yang digunakan adalah 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok (n = 3), yaitu kelompok positif (Metformin 500 mg), kelompok negatif (Na CMC 0,5%), serta kelompok perlakuan yang terdiri dari Kelompok Formula Kombinasi (0,6 gram ekstrak temulawak dan 0,4 gram alpokat), Kelompok Formula Tunggal Ekstrak Temulawak 17,5 mg/kgBB, dan Kelompok Formula Tunggal Ekstrak Daun Alpokat 175 mg/kgBB; semuanya diberikan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antidiabetes ekstrak etanol rimpang temulawak lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol daun alpokat maupun Metformin 500 mg. Formula 1, yang merupakan kombinasi dari 0,6 g ekstrak etanol rimpang temulawak (<em>Curcuma xanthorrhiza Roxb</em>.) dan 0,4 g ekstrak etanol daun alpokat (<em>Persea americana P. Mill</em>), memiliki aktivitas antidiabetes yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol rimpang temulawak tunggal, ekstrak etanol daun alpokat tunggal, maupun Metformin 500 mg.</p> Darini Kurniawati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2918 2926 10.63004/hrji.v4i6.1603 Efektivitas Edukasi Hipertensi dan Hidroterapi terhadap Pengetahuan Masyarakat Desa Pantai Hambawang https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1801 <p>Hipertensi memerlukan pengendalian berkelanjutan yang didukung pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, komplikasi, pemeriksaan tekanan darah, dan terapi pendamping yang aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan pengetahuan masyarakat setelah edukasi hipertensi dan hidroterapi rendam kaki hangat campuran garam dan serai di Desa Pantai Hambawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan satu kelompok pretest-posttest melalui analisis sekunder data evaluasi pengabdian kepada masyarakat. Sampel terdiri atas 24 peserta yang memiliki pasangan skor lengkap dan dipilih dengan total sampling. Pengetahuan diukur melalui 10 pertanyaan dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji Wilcoxon. Rata-rata usia peserta 48,96 tahun. Rata-rata skor meningkat dari 72,08 pada pretest menjadi 94,58 pada posttest, dengan kenaikan rata-rata 22,50 poin. Sebanyak 19 peserta mengalami peningkatan dan lima peserta memiliki skor tetap. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan bermakna antara skor pretest dan posttest (p&lt;0,001). Edukasi hipertensi yang disertai demonstrasi hidroterapi berhubungan dengan peningkatan pengetahuan segera setelah kegiatan, tetapi temuan ini tidak membuktikan efektivitas hidroterapi dalam menurunkan tekanan darah.</p> Elisa Oktaviani Dewi Anggraeni Anita Herawati Linda Kusumawati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2927 2931 10.63004/hrji.v4i6.1801 Implementasi Konseling pada Pelayanan Antenatal Terpadu : Studi Kualitatif di Puskesmas Galur II Kulon Progo https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1709 <p>Konseling bagi ibu hamil merupakan komponen penting dalam pelayanan antenatal terpadu. Hal ini bertujuan untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kesiapan persalinan, namun efektivitas pelaksanaannya di tingkat Puskesmas seringkali menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan manfaat konseling antenatal dalam pencegahan komplikasi kehamilan, deteksi dini masalah kesehatan, dan peningkatan kesiapan persalinan. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancara mendalam dan studi dokumen. Sebanyak 10 partisipan yaitu tenaga kesehatan di Puskesmas Galur II terlibat dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling antenatal berperan signifikan dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan, mendorong kepatuhan kunjungan ANC minimal empat kali, serta memicu kesiapsiagaan persalinan melalui perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi. Namun, rata-rata durasi konseling yang dilakukan tidak berlangsung lama disebabkan oleh keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dan tingginya beban pasien per hari, sehingga membatasi kedalaman materi konseling. Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan manajemen waktu layanan serta pelatihan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan guna mengoptimalkan kualitas pelayanan antenatal terpadu.</p> Nurrul Ainy Ainin Rahmanawati Ahmad Yani Noor Naera Zhafira Azkiati Zamzami Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2932 2939 10.63004/hrji.v4i6.1709 Systematic Literature Review: Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pembayaran Iuran Pada Peserta PBPU JKN https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1681 <p>Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih menghadapi rendahnya kepatuhan pembayaran iuran pada peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang berdampak pada keberlanjutan pembiayaan program. Artikel ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pembayaran iuran peserta PBPU melalui sintesis bukti ilmiah dari penelitian terkini. Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> dengan pendekatan <em>systematic review</em>. Penelusuran artikel dilakukan pada basis data PubMed dan Garuda menggunakan model PICO serta mengikuti alur PRISMA. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2021–2025 diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh lima artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kepatuhan pembayaran iuran dipengaruhi oleh kemampuan dan kemauan membayar, karakteristik sosiodemografi, pola pengeluaran rumah tangga, literasi JKN, sikap terhadap risiko kesehatan, pemanfaatan layanan kesehatan, kepuasan peserta, serta kondisi wilayah tempat tinggal. Seluruh faktor tersebut saling berkaitan sehingga kepatuhan pembayaran iuran bersifat multidimensional. Kajian ini menegaskan bahwa peningkatan kepatuhan peserta PBPU memerlukan strategi yang mengintegrasikan pendekatan ekonomi, edukasi, dan peningkatan mutu layanan kesehatan sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih efektif.</p> Feri Irawan Kusuma Estu Werdani Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2940 2948 10.63004/hrji.v4i6.1681 Review Artikel: Pengaruh Variasi Polimer pada Mikrokapsul Terhadap Laju Pelepasan Zat Aktif https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1703 <p>Mikroenkapsulasi merupakan teknologi formulasi yang digunakan untuk mengendalikan profil pelepasan obat pada sediaan farmasi. Proses ini dilakukan dengan membungkus zat aktif ke dalam matriks polimer berukuran mikrometer yang berfungsi melindungi zat aktif dari degradasi dan mengatur kecepatan pelepasannya. Artikel <em>review</em> ini bertujuan menjelaskan temuan penelitian mengenai pengaruh jenis polimer terhadap laju pelepasan zat aktif dalam mikrokapsul. Kajian dilakukan melalui metode <em>systematic review</em> terhadap delapan artikel yang diterbitkan pada tahun 2015–2025, bersumber dari <em>database</em> Google Scholar, MDPI, dan PubMed. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan jenis polimer berpengaruh signifikan terhadap laju pelepasan obat. Polimer hidrofilik seperti natrium alginat dan NaCMC, mempercepat pelepasan obat melalui peningkatan penyerapan air dan porositas matriks. Sebaliknya, polimer hidrofobik seperti PLGA memperlambat pelepasan melalui pembentukan lapisan padat dan proses degradasi yang lambat. Kombinasi polimer dengan sifat berbeda, seperti PLGA dengan PVP, mampu menghasilkan sistem pelepasan terkontrol yang stabil. Dengan demikian, mikroenkapsulasi dengan variasi polimer terbukti efektif mengatur pelepasan obat sesuai kebutuhan terapi dan memperpanjang durasi kerja zat aktif dalam sediaan farmasi.</p> Yanti Windasari Devi Ratnasari Elyona Ganis Azka Safuha Novani Aulia Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2949 2958 10.63004/hrji.v4i6.1703 Profil Penggunaan Insulin Dan Oral Antidiabetika (OAD) PASIEN Rawat Jalan RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Tahun 2025 https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1796 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, baik menggunakan insulin maupun oral antidiabetika (OAD). Peningkatan jumlah pasien DM berimplikasi pada meningkatnya penggunaan obat antidiabetika, sehingga diperlukan data profil penggunaan insulin dan OAD sebagai dasar evaluasi terapi dan perencanaan pengadaan obat. <strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien di instalasi rawat jalan klinik penyakit dalam di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor. <strong>Metode</strong>: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional deskriptif dan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 110 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. <strong>Hasil</strong>: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien DM berada pada rentang usia 30–59 tahun. Pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar pasien merupakan ibu rumah tangga. Jenis insulin yang digunakan meliputi novorapid, levemir, humalog, dan rizodeg, dengan penggunaan terbanyak berupa kombinasi insulin novorapid–levemir. OAD yang paling banyak digunakan adalah metformin 500 mg dan glimepiride 2 mg. Pemberian insulin dilakukan secara subkutan dengan dosis terbanyak 10–20 IU per hari, sedangkan OAD diberikan secara oral dengan frekuensi 2–3 kali sehari. <strong>Simpulan</strong>: Penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien DM rawat jalan di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor didominasi oleh terapi kombinasi insulin dan penggunaan OAD metformin, dengan pola dosis dan rute pemberian yang sesuai dengan pedoman terapi diabetes melitus nasional.</p> Masriani Masriani Darini Kurniawati Rina Saputri Dewi Susanti Atmaja Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2959 2964 10.63004/hrji.v4i6.1796 Evaluasi Pemberian Informasi Obat (PIO) Tenaga Kefarmasian di Puskesmas Halong https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1798 <p>Pendahuluan: Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan bagian penting dari pelayanan kefarmasian di puskesmas yang bertujuan menjamin penggunaan obat yang aman, rasional, dan efektif. Puskesmas rawat inap memiliki peran strategis dalam pemberian PIO karena melayani pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan karakteristik yang beragam. Oleh karena itu, evaluasi pelaksanaan PIO perlu dilakukan untuk menilai mutu pelayanan kefarmasian dan keselamatan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Puskesmas Rawat Inap Halong. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan pada Januari 2026 di Puskesmas Halong dengan melibatkan 97 pasien dan 5 tenaga kefarmasian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, dan observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa PIO di Puskesmas Halong telah dilaksanakan sesuai standar Permenkes Nomor 74 Tahun 2016 mayoritas pasien menerima informasi dasar obat seperti nama, indikasi/kegunaan, dosis, cara penggunaan, dan tindakan bila lupa minum obat, dengan persentase 100% (kategori sangat baik). Informasi efek samping obat diterima 81,44% pasien (kategori baik), cara penyimpanan 70,10% (baik), dan interaksi obat/makanan/obat lain 64,95% (cukup). Kompetensi tenaga kefarmasian berada pada kategori baik hingga sangat baik komunikasi dengan pasien, memastikan pemahaman, dan sikap profesional, sebagian tenaga belum mengikuti pelatihan atau seminar terkait PIO. Sarana dan prasarana ruang konseling, meja pelayanan, media edukasi, dan alat komunikasi tersedia dan memadai, namun leaflet sebagai media cetak belum tersedia, sehingga memengaruhi waktu konseling. Kesimpulan: PIO di Puskesmas Halong telah berjalan sesuai standar, efektif dalam menyampaikan informasi dasar obat, namun memerlukan peningkatan melalui penyediaan media cetak dan strategi konseling tambahan agar seluruh informasi obat dapat diterima secara lengkap oleh pasien.</p> Haji Ida Nurlihayati Saftia Aryzki Yusuf Anggoro Mukti Rina Saputri Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2965 2971 10.63004/hrji.v4i6.1798 Hubungan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi (Fe) Dengan Anemia Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Bumi Makmur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1797 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Anemia pada ibu hamil cenderung disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dan peningkatan kebutuhan fisiologis selama kehamilan. Risiko anemia pada ibu hamil sebesar 2,9 kali lebih tinggi pada ibu hamil dengan status gizi yang kurang baik dibandingkan dengan ibu hamil dengan status gizi yang baik. Penyebab anemia pada ibu hamil adalah rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe. <strong>Tujuan: </strong>Mengetahui hubungan kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi (Fe) dengan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bumi Makmur. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini adalah jenis survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester II-III di bulan Desember sebanyak 35 orang, dan sampel dalam penelitian ini menggunakan total<em> sampling </em>35 orang. Dalam penelitian ini menggunakan uji <em>chi square. </em><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang tidak patuh mengonsumsi tablet Fe dengan anemia sebanyak 14 orang (40%) dan yang tidak anemia sebanyak 5 orang (14,3%), sedangkan ibu yang patuh mengkonsumsi tablet Fe dengan tidak anemia sebanyak 12 orang (34,3%) dan yang anemia sebanyak 4 orang (11,4%), dan dilakukan dengan menggunakan uji <em>chi square</em> didapatkan hasil <em>P value</em> 0,004 yang artinya 0,000 &lt; 0,05. <strong>Simpulan: </strong>adanya hubungan kepatuhan mengonsumsi tablet Fe dengan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bumi Makmur serta diharapkan agar petugas kesehatan agar lebih banyak memberikan edukasi tentang pentingnya mengonsumsi tablet tambah darah, serta cara mengonsumsinya yang benar.</p> Heldawati Heldawati Frani Mariana Novalia Widiya Ningrum Susanti Suhartati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2972 2978 10.63004/hrji.v4i6.1797 Hubungan Pola Makan Dan Dukungan Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1799 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering dialami lansia dan berisiko menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Pola makan tidak sehat serta kurangnya dukungan keluarga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kejadian hipertensi pada lansia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan antara pola makan dan dukungan keluarga dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya. <strong>Metode:</strong> Menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross</em> <em>sectional</em>. Sampel berjumlah 69 lansia yang dipilih menggunakan teknik <em>consecutive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan <em>Food Frequency Questionnaire</em> (FFQ) untuk menilai pola makan, kuesioner dukungan keluarga, serta pengukuran tekanan darah sesuai standar pemeriksaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Korelasi Spearman’s rho. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia (r = 0,867; p &lt; 0,001) dengan kekuatan hubungan sangat kuat dan searah. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kejadian hipertensi (r = -0,469; p &lt; 0,001) dengan kekuatan hubungan sedang dan berlawanan arah, serta hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan pola makan (r = -0,312; p = 0,009). <strong>Simpulan:</strong> Pola makan dan dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada lansia, di mana pola makan berperan sebagai faktor risiko dan dukungan keluarga sebagai faktor protektif dalam pengendalian tekanan darah.</p> Dwi Julianti Wahyuni Cynthia Eka Fayuning Tjomiadi Dede Mahdiyah Mohammad Basit Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2979 2986 10.63004/hrji.v4i6.1799 Hubungan Pengakuan Terhadap Kepuasan Kerja Pada Tenaga Kesehatan: Meta Analisis https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1589 <p><strong>Pendahuluan:</strong> Pengakuan yang tinggi atas kontribusi tenaga kesehatan dapat mempengaruhi kepuasan kerja di sketor kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengestimasi hubungan antara pengakuan terhadap kepuasan kerja pada tenaga kesehatan. <strong>Tujuan: </strong>Adapun tujan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengakuan terhadap kepuasan kerja pada tenaga kesehatan. <strong>Metode:</strong> Studi meta-analisis dilakukan sesuai dengan model PICO. <em>Population:</em> Tenaga kesehatan. <em>Intervention</em><em> : Pengakuan tinggi</em>. <em>Comparison:</em> <em>Pengakuan Rendah</em>. <em>Outcome:</em> Kepuasan kerja. Databases yang digunakan untuk mencari artikel menggunakan <em>Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, </em><em>BMC</em> dan <em>Reseach Square</em>, Sage Jurnal dengan dengan kata kunci “<em>Recognition” AND “Job Satisfaction” AND “Health Workers”</em>. Kriteria inklusi artikel meliputi analisis multivariat yang melampirkan nilai aOR. Data dianalisis menggunakan diagram PRISMA dan Review Manager 5.4. <strong>Hasil: </strong>Meta analisis terdiri dari 9 penelitian cross sectional yang dilakukan di Ethiopia, Pakistan dan Nepal. Jumlah sampel penelitian sebanyak 2.713 tenaga kesehatan. pencapaian tinggi (aOR = 2.27 ; CI 95% = 1.37 hingga 3.91 ; p = 0.003). Secara signifikan meningkatkan kepuasan kerja pada tenaga kesehatan. <strong>Kesimpulan: </strong>Pengakuan yang tinggi dapat meningkatkan kepuasan kerja pada tenaga kesehatan.</p> Endang Nifatna Sari Dinta Lestari Irpan Irpan Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2987 2993 10.63004/hrji.v4i6.1589 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesembuhan pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Baamang 1 Kotawaringin Timur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1795 <p>Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data WHO tahun 2022, terdapat 10,6 juta kasus TB paru di dunia, meningkat 600.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, kasus TB paru juga mengalami peningkatan dengan 869 kasus pada tahun 2023 dan 411 kasus baru hingga triwulan II tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru di Puskesmas Baamang 1. Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em> dan analisis data menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Jumlah responden sebanyak 39 pasien TB paru. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (76,9%), berusia 35–44 tahun (38,5%), berpendidikan SLTA (38,4%), bekerja pada kategori lain-lain (48,7%), serta memiliki penghasilan Rp2.000.000–Rp4.000.000 (33,3%). Sebagian besar responden patuh minum obat (87,2%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pasien TB paru (p&lt;0,05), sedangkan faktor pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, usia, dan penghasilan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah kepatuhan minum obat menjadi faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru di Puskesmas Baamang 1.</p> Nurul Huda Melviani Melviani Febby Yulia Hastika Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2994 2998 10.63004/hrji.v4i6.1795 Pengaruh Self-Control Terhadap Kepatuhan Menjalankan Pola Makan Sehat Pada Penderita Hipertensi di Desa Awang bangkal Timur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1794 <p>Kepatuhan menjalankan pola makan sehat merupakan tantangan utama dalam pengelolaan jangka panjang penderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh <em>self-control</em> terhadap kepatuhan menjalankan pola makan sehat pada penderita hipertensi di Desa Awang Bangkal Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 74 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala <em>self-control</em> dan skala kepatuhan berbasis <em>Health Belief Model</em>. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan JASP. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara <em>self-control</em> terhadap kepatuhan menjalankan pola makan sehat (r = 0,400; p &lt; 0,001). Hasil analisis regresi menunjukkan nilai R² = 0,160, yang berarti <em>self-control</em> memberikan kontribusi sebesar 16% terhadap kepatuhan, sedangkan 84% dipengaruhi oleh faktor lain (t = 3,700; F = 13,69; p &lt; 0,001). Kesimpulannya, <em>self-control</em> berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan menjalankan pola makan sehat pada penderita hipertensi, sehingga peningkatan <em>self-control</em> perlu menjadi fokus intervensi psikologis dan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pola makan sehat pada penderita hipertensi.</p> Muhammad Aulia Rahman Dyta Setiawati Hariyono Gladis Corinna Marsha Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 2999 3008 10.63004/hrji.v4i6.1794 Uji Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Secara Difusi Agar https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1280 <p>Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki efek antibakteri terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif. Daun kemangi mengandung senyawa kimia, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, yang memiliki sifat antibakteri. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah bakteri gram-positif dan gram-negatif yang dapat menyebabkan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etanol daun kemangi terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental. Desain yang digunakan adalah desain post-test only control group, yaitu terdapat dua kelompok, masing-masing dipilih secara acak. Kelompok pertama diberi perlakuan dan kelompok lainnya tidak diberi perlakuan. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona inhibisi rata-rata untuk bakteri Staphilococcus aureus pada konsentrasi ekstrak daun kemangi 20%, 40%, dan 60% adalah 13,8 mm, 15,6 mm, dan 16,4 mm, sedangkan zona inhibisi untuk bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 50%, 60%, dan 70% adalah 11,2 mm, 11,8 mm, dan 12,5 mm. Zona inhibisi rata-rata antibiotik tetrasiklin terhadap bakteri Staphilococcus aureus dan Escherichia coli adalah 16,8 mm dan 15,8 mm, dan zona inhibisi rata-rata bakteri dalam air suling adalah 0 mm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kemangi menghasilkan inhibisi yang memuaskan terhadap bakteri Staphilococcus aureus.</p> Antetti Tampubolon Jhonson Sihombing Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3009 3013 10.63004/hrji.v4i6.1280 Hubungan Konsumsi Junk Food Dengan Obesitas Pada Siswa SMPN 2 Batu Engau https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1670 <p>Obesitas pada anak sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah konsumsi makanan cepat saji atau junk food yang merupakan perilaku makan yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi junk food dengan obesitas pada siswa sekolah sebagai dasar bukti empiris dalam pelaksanaan edukasi gizi di sekolah. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional dan melibatkan 90 siswa. Data diperoleh melalui kuesioner terstruktur dan observasi antropometri. Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung berdasarkan hasil pengukuran berat dan tinggi badan, kemudian dikategorikan menjadi kurus, normal, gemuk, dan obesitas. Konsumsi Junk Food diukur menggunakan kuesioner frekuensi dan dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki status gizi normal (33,3%), diikuti obesitas (25,6%), gemuk (23,3%), dan kurus (17,8%). Sebanyak 40% siswa memiliki konsumsi Junk Food tinggi, 31,1% sedang, dan 28,9% rendah. Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara konsumsi Junk Food dan IMT (p = 0,002). Siswa dengan konsumsi Junk Food tinggi cenderung mengalami kegemukan atau obesitas. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi serta kolaborasi sekolah dan orang tua untuk membentuk kebiasaan makan sehat.</p> Tiara Putri Ayu Riki Ristanto Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3014 3019 10.63004/hrji.v4i6.1670 Hubungan Durasi Tidur Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kelayan Timur https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1400 <p>Durasi&nbsp; tidur yang kurang pada kuantitas dan kualitas tidur termasuk sebagai satu&nbsp; hal&nbsp; penyebab hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi tidur dengan stadium hipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Kelayan Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 408 penderita hipertensi pada tahun 2025, dengan jumlah sampel 80 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling pada bulan April–Mei 2026. Variabel independen penelitian adalah durasi tidur, diukur melalui kuesioner durasi tidur yang telah divalidasi dan reliabel (Cronbach’s Alpha = 0,602), sedangkan variabel dependen adalah hipertensi yang diukur menggunakan tensimeter dan stetoskop sesuai standar Kementerian Kesehatan RI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia 26–65 tahun, didominasi laki-laki (57,5%) dan mayoritas memiliki pendidikan menengah (SMP–SMA). Sebanyak 51,25% responden memiliki durasi tidur kurang, 25% cukup, dan 23,75% lebih. Analisis hipertensi menunjukkan 55% responden mengalami hipertensi stadium awal, 23,75% stadium 2, dan 21,25% stadium 3. Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai Pearson Chi-Square sebesar 15,766 dengan p-value = 0,003 (p &lt; 0,05), yang menandakan terdapat hubungan signifikan antara durasi tidur dengan stadium hipertensi pada responden. Durasi tidur berhubungan signifikan dengan tingkat hipertensi, sehingga intervensi pengaturan durasi tidur dapat menjadi salah satu upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi.</p> Fatimah Az Zahra Mokhtar Jamil Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3020 3024 10.63004/hrji.v4i6.1400 Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Mekanisme Koping Pasien Gagal Ginjal Kronis https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1568 <p>Gagal ginjal kronis merupakan penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara irreversibel sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan pasien dalam menghadapi stres akibat penyakit, sehingga pengetahuan dan sikap diduga berhubungan dengan mekanisme koping pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap dengan mekanisme koping pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Meuraxa Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 68 responden yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah memenuhi kriteria penelitian, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan mekanisme koping serta antara sikap dengan mekanisme koping pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis (p&lt;0,05). Disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap berhubungan dengan mekanisme koping pasien gagal ginjal kronis. Temuan ini diharapkan menjadi dasar dalam meningkatkan edukasi dan pendampingan pasien selama menjalani terapi hemodialisis.</p> Eva Novita Eridha Putra Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3025 3030 10.63004/hrji.v4i6.1568 Subarchnoid Hemorrhage Following Severe Anemia: A Rare Case Report https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1642 <p><strong>Introduction:</strong> Anemia occurs in approximately 40–50% of patients with subarachnoid hemorrhage (SAH), while blood transfusion used to correct severe anemia has been associated with an increased risk of intracerebral hemorrhage. Approximately 85% of non-traumatic SAH cases result from ruptured intracranial aneurysms. We report a rare case of SAH following multiple blood transfusions in a patient with severe anemia. <strong>Case Presentation:</strong> A 30-year-old woman presented with status epilepticus after receiving eight units of packed red cell transfusions for severe anemia. She reported a preceding thunderclap headache, photophobia, scotoma, and nausea. On admission, her blood pressure was 145/89 mmHg with a heart rate of 70 bpm. Non-contrast head CT demonstrated subarachnoid hemorrhage in the occipital region, while electroencephalography showed generalized intermittent slow activity. Her SAH was classified as Fisher grade II, Hunt and Hess grade III, and World Federation of Neurological Surgeons grade I. Before transfusion, her hemoglobin level was 3.1 g/dL, which increased to 8.7 g/dL at discharge. Blood pressure rose from 83/57 mmHg before transfusion to 147/86 mmHg afterward. No additional transfusions or antihypertensive therapy were required during the second hospitalization, and she was discharged with stable blood pressure (101/64 mmHg). CT angiography was planned to evaluate for cerebral aneurysms. <strong>Conclusion:</strong> Rapid correction of severe anemia may contribute to acute hemodynamic changes that increase the risk of intracranial hemorrhage. Careful blood pressure monitoring and cautious transfusion strategies should be considered in patients with severe chronic anemia undergoing blood transfusion.</p> Putri Fortuna Sari Mirza Wafiyudin Baehaqi Febri Zamrotul Firdausi Hilmy Atha Sitepu Avie Baldana Bi’izzyk Vita Kusuma Rahmawati Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3031 3035 10.63004/hrji.v4i6.1642 Tingkat Pengetahuan Pasien Tentang Beyond Used Date Obat Racikan di Apotek https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1577 <p><em>Beyond Use Date</em> (BUD) merupakan batas waktu penggunaan obat setelah kemasan primernya dibuka atau setelah obat diracik. Pemahaman mengenai BUD sangat diperlukan untuk memastikan keamanan, kualitas, dan efektivitas obat selama masa penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien tentang BUD obat racikan di Apotek. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik <em>accidental sampling</em> dan melibatkan 51 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang berisi 17 item pertanyaan mencakup definisi, perbedaan BUD dengan <em>expirationd date</em>, serta penetapan BUD berdasarkan bentuk sediaan obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia 26–35 tahun (59%), berjenis kelamin perempuan (82%), dan memiliki tingkat pendidikan tinggi (71%). Tingginya tingkat pengetahuan responden dipengaruhi oleh akses informasi kesehatan, edukasi dari tenaga kefarmasian, serta pengalaman responden dalam penggunaan obat racikan. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai BUD (94%), dan 6% responden pada kategori pengetahuan kurang, serta tidak terdapat responden berpengetahuan cukup. Namun demikian, masih ditemukannya responden dengan pengetahuan rendah menegaskan perlunya edukasi yang lebih komprehensif dan merata terkait BUD. Kesimpulan : Tingkat pengetahuan pasien mengenai BUD di Apotek berada pada kategori baik dengan 48 responden (94%).</p> Aurelia Da Silva Sequeira Fraga Maria Elsiana Hoar Maria Philomena Erika Rengga Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3036 3046 10.63004/hrji.v4i6.1577 Is There a Direct Pathway Linking Herpes Zoster Ophthalmicus to Extra-Axial Hemorrhage? https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1640 <p><strong>Introduction</strong>: Herpes zoster ophthalmicus (HZO) results from reactivation of latent varicella-zoster virus (VZV) and may involve ocular, neural, and vascular structures. Although VZV vasculopathy is commonly associated with ischemic stroke, hemorrhagic and extra-axial manifestations remain rare<strong>. Case Presentation: </strong>We report a 57-year-old man who presented with acute speech impairment and right-sided weakness. Neurological examination demonstrated Broca’s aphasia, right upper motor neuron facial palsy, and right hemiparesis. Two weeks before admission, he had been diagnosed with left-sided HZO, which resolved following antiviral therapy. Brain computed tomography revealed a hypodense extra-axial lesion in the left frontotemporal region, suggestive of late subdural hemorrhage, with subdural hygroma considered as a differential diagnosis. The temporal relationship between HZO and the neurological event raised suspicion of VZV-associated vasculopathy with atypical hemorrhagic involvement<strong>. Conclusion: </strong>This case highlights an uncommon neurological complication of HZO presenting with cortical deficits and extra-axial hemorrhagic pathology rather than the more typical ischemic stroke. Clinicians should maintain a high index of suspicion for both ischemic and hemorrhagic VZV-related vascular complications in patients presenting with new focal neurological deficits after HZO, as early recognition and appropriate neuroimaging are essential for accurate diagnosis and timely management.</p> Putri Fortuna Sari Eko Aprilianto Handoko Febri Zamrotul Firdausi Mirza Wafiyudin Baehaqi Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3047 3051 10.63004/hrji.v4i6.1640 Determinan Kepatuhan Perawatan Diri Berbasis Gaya Hidup pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Royal Prima Jambi https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1311 <p>Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) memerlukan keteraturan perawatan diri karena pengendalian penyakit berlangsung lama dan sangat dipengaruhi kebiasaan harian pasien. Penelitian ini menelaah faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan gaya hidup sehat pada pasien DM tipe 2 di RS Royal Prima Jambi. Studi disusun sebagai penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sebanyak 100 pasien yang sesuai kriteria direkrut secara accidental sampling. Informasi penelitian diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, meliputi SDSCA, DKQ, DMSE, TSRQ, HDFSS, serta penilaian dukungan petugas kesehatan, akses layanan, dan kondisi ekonomi. Analisis dilakukan bertahap melalui distribusi frekuensi, uji chi-square, dan regresi logistik. Responden terbanyak berada pada kelompok usia 50-60 tahun (47,0%), pendidikan minimal SMA (61,0%), serta lama menderita DM 4-8 tahun (41,0%). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (56,0%), self-efficacy baik (63,0%), motivasi baik (67,0%), dukungan keluarga tinggi (69,0%), dukungan tenaga kesehatan tinggi (72,0%), akses layanan mudah (64,0%), dan ekonomi di atas UMR (56,0%). Kategori patuh ditemukan pada 62 responden (62,0%). Hubungan bermakna ditemukan pada pengetahuan (p=0,001), self-efficacy (p=0,000), motivasi (p=0,002), dukungan keluarga (p=0,000), dukungan petugas kesehatan (p=0,001), dan akses pelayanan (p=0,003). Model regresi menunjukkan dukungan keluarga sebagai faktor dominan (p=0,001; Exp(B)=5,342; 95% CI=2,148-10,872). Pelibatan keluarga perlu menjadi bagian utama dalam edukasi dan pendampingan pasien DM tipe 2.</p> Sri Mulyati Chrismis Novalinda Ginting Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3052 3058 10.63004/hrji.v4i6.1311 Optimalisasi Strategi Model Self Management Orem Terhadap Pengendalian Kadar Gula Darah Pada Pasien DM Tipe 2 Di Puskesmas https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/HRJI/article/view/1304 <h1 style="margin: 6.0pt 0cm 6.0pt 0cm;"><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;">Latar Belakang</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;">: Diabetes Melitus atau yang disingkat dengan DM tipe 2 termasuk penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan secara berkesinambungan dalam periode yang panjang. Upaya mencapai pengendalian kadar glukosa darah yang optimal tidak semata-mata ditentukan oleh terapi farmakologis yang diberikan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh, kapasitas individu untuk melakukan perawatan diri dipandang sebagai komponen esensial dalam pengelolaan penyakit kronis, karena kemampuan tersebut berperan penting dalam mendukung keberhasilan pemeliharaan kesehatan dan pengendalian penyakit. </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt;">Tujuan</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt; font-weight: normal;">: </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;">Mengevaluasi pengaruh optimalisasi strategi model Self Management Orem terhadap pengendalian kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di Puskesmas Simbur Naik Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. </span><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;">Metode</span></strong><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;">:</span></strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;"> Studi ini menggunakan metode kuantitatif serta desain eksplanatori guna menguji dan menjelaskan keterkaitan antara variabel independen dan dependen, yang dilaksanakan melalui desain survei. Seluruh pasien DM tipe 2 yang menjalani pengobatan di Puskesmas Simbur Naik sebanyak 32 orang ditetapkan sebagai populasi penelitian. Penentuan responden dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Data mengenai self management dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan konsep <em>Self Care Deficit Nursing Theory</em>, sedangkan data terkait pengendalian kadar gula darah diperoleh melalui pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS). Analisis data dilakukan dengan menerapkan statistik deskriptif, uji korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta regresi linear berganda. </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt;">Hasil</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt; font-weight: normal;">: </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;">Nilai rata-rata skor Self Management Orem tercatat sebesar 83,69±10,885. Sementara itu, rerata kadar gula darah sewaktu responden adalah 148,81±5,245 mg/dL. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat serta signifikan antara Self Management Orem dan kadar gula darah sewaktu (r = -0,973; p = 0,000). Analisis regresi linear <span style="letter-spacing: -.1pt;">sederhana </span>menghasilkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,946. Berdasarkan regresi linear berganda, aspek pengaturan pola makan teridentifikasi sebagai faktor yang memberikan pengaruh terbesar terhadap kadar gula darah sewaktu (β = -0,528; p = 0,048). </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt;">Kesimpulan</span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; letter-spacing: -.1pt; font-weight: normal;">: </span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-weight: normal;">Peningkatan penerapan strategi Self Management Orem berpengaruh secara signifikan terhadap pengendalian kadar gula darah pada pasien DM tipe 2. Komponen pengaturan pola makan menjadi aspek self management yang memiliki kontribusi paling dominan terhadap keberhasilan kontrol <span style="letter-spacing: -.1pt;">glikemik.</span></span></h1> Rica Tri Septinora Chrismis Novalinda Ginting Dwight Mahaputra Hutapea Hak Cipta (c) 2026 2026-08-31 2026-08-31 4 6 3059 3067 10.63004/hrji.v4i6.1304